Arah yang berbeda
cr.pinterest
Arah yang berbeda

cr.pinterest
Pintu terbuka perlahan, menampilkan kepala Bayu yang menyembul ragu dari baliknya. Sedang Bumi menatap datar sang adik, meski di hatinya merasa sama sakitnya dengan Bayu.
“Gua boleh masuk?” Tanya Bumi pada akhirnya.
Bayu tidak menjawab apapun, ia masih enggan untuk berbicara, namun pintu ia biarkan terbuka lalu melenggang pergi ke tempat tidurnya.
“Ngapain pake ngunci pintu segala sih.” Ucap Bumi santai.
Hening.
Tidak ada jawaban dari si pemilik kamar.
Bumi memperhatikan setiap sudut kamar sang adik, semua serba hitam. Berbeda dengan kamarnya yang bernuansa biru. Di beberapa sudut terdapat foto masa kecil mereka yang sebenarnya ia pun sudah lupa kapan dan umur berapa foto itu diambil.
Bumi akhirnya memilih duduk di kursi gaming sang adik. Memperhatikan Bayu yang masih enggan menatapnya.
Bumi menghela napas sebelum akhirnya berbicara.
“Dek, lo masih marah?”
Bayu tidak menjawab, ia sibuk memainkan ujung kaosnya, diremas pelan seolah itu satu-satunya cara agar dapat menahan sesuatu yang lebih besar di dalam dadanya.
“Gua tau keputusan gua ini sulit buat to terima.”
Hening, kembali menyelimuti. Suara kipas komputer yang masih menyala jadi satu-satunya yang terdengar di kamar itu.
“Kalau lo mau marah… ya marah aja,” lanjut Bumi, “Gua nggak bakal nyalahin.”
Bayu akhirnya berhenti. Tangannya diam, tapi kepalanya tetap menunduk.
“Gua nggak marah, Bang.”
Bumi mengerutkan dahinya, “Terus?”
Bayu menarik napas panjang, kasar. “Cuma kesel aja.”
Bumi mengangguk pelan, ia sudah menduga itu, jika ia ada di posisi adiknya pasti akan merasakan hal yang sama.
“Lo bilang bakal selalu ada di rumah,” Bayu mulai mengungkapkan apa yang dia pendam dari kemarin. “Tapi malah lo sendiri yang pergi.”
Kalimat itu tidak diucapkan Bayu dengan keras, tapi cukup untuk membuat ruangan terasa lebih sempit.
Bumi menunduk sebentar, mengangguk kecil.
“Iya… gua pernah bilang gitu.”
Bumi menghela nafasnya berat.
“Tapi bukan berarti gua ninggalin lo, Dek.”
Bayu tersenyum getir. “Bedanya apa, Bang?”
Bumi terdiam sejenak. Berusaha mencari kata yang sekiranya tidak akan menyakiti adiknya.
“Bedanya….. gua pergi buat wujudin mimpi yang selama ini gua pendam.”
Bayu mendengus pelan, namun tidak berusaha untuk memotong.
“Kalau gua tetap di sini tanpa ngelakuin apa-apa,” lanjut Bumi, “suatu hari nanti gua bakal nyesel.”
Ia menatap Bayu, lebih dalam.
“Dan gua nggak mau lo punya abang yang nyesel sama hidupnya sendiri.”
Hening lagi.
Bayu menelan ludah, matanya mulai terlihat basah, tapi cepat-cepat ia alihkan pandangannya.
“Bang, tapi selama ini gua bergantung sama lo, gimana kalau gua ngga bisa sendiri?”
Bumi tersenyum. “Bisa, Bay. Lo bisa.”
Bumi bangkit dari duduknya, menghampiri Bayu dan menepuk ringan pundaknya.
“Makanya gua berani pergi.”
Bayu diam, mencoba mencerna semua perkataan sang kakak.
“Kalau lo nggak kuat, gua juga nggak bakal tenang di luar sana.” Sambung Bumi, kali ini matanya menatap figura kecil yang ada di atas piano yang berisikan foto keluarganya.
“Lo udah gede, Bay…. lo tau harus ngapain.”
Bayu menoleh pada sang kakak, emosinya mulai stabil, meskipun matanya masih terlihat merah.
“Kalau gua kangen?”
Bumi tersenyum miring.
“Ya telpon.”
“Kalau lagi susah?”
“Ya.. cerita.”
“Kalau lagi pengen nyalahin lo?”
Bumi ketawa kecil. “Boleh. Nanti gua dengerin.”
Bayu ikut tertawa, suasana tegang yang sedari tadi tercipta berubah menjadi hangat.
Hening lagi. Tapi kali ini… tidak seberat sebelumnya.
“Bang…” suara Bayu terdengar lebih pelan sekarang. “Jangan lama-lama ya.”
Bumi mengangguk, mengerti akan apa yang di maksud Bayu.
“Iya.”
“Jangan lupa pulang juga.”
Bumi menatapnya sebentar, lalu menjawab pelan, “Selama lo masih di sini… gua pasti balik.”
Bayu mengangguk kecil.
Bumi menepuk kembali bahu Bayu pelan. “Jaga diri, Bantu juga jagain Ibu sama Ayah.”
“Iya, tanpa lo minta juga gua bakalan jagain mereka.”
Tidak ada pelukan, tidak ada pula tangisan yang tercipta.
Hanya ada dua orang yang sama-sama mengerti tentang bukan siapa yang di tinggal dan siapa yang meninggalkan.
Hanya… sedang belajar berjalan di arah yang berbeda, tanpa kehilangan tempat untuk pulang.
메타데이터
- post_id
- fe1c0859d433
- slug
- arah-yang-berbeda-fe1c0859d433
- url
- https://medium.com/@rd954720/arah-yang-berbeda-fe1c0859d433
- canonical_url
- https://medium.com/@rd954720/arah-yang-berbeda-fe1c0859d433
- author_url
- https://medium.com/@rd954720
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-22 08:33:11