← Back to list

Keakraban di Wisma Merdeka: Mencari Jati Diri, Cinta, dan Masa Depan

Menco Raya adalah sebuah tempat di daerah Kelurahan Pabelan Kecamatan Kartasura, tepatnya di gang No. 9 sebuah tempat bagi sebelas anak…

Mas Rahim · 2025-02-05 13:44 · 5 claps · 5.5 min read
#friendship #kuliah #wisma #kartasura #umsurakarta
Open on Medium ↗
Wiki topics: 💑 · Relationships

Keakraban di Wisma Merdeka: Mencari Jati Diri, Cinta, dan Masa Depan

Menco Raya adalah sebuah tempat di daerah Kelurahan Pabelan Kecamatan Kartasura, tepatnya di gang No. 9 sebuah tempat bagi sebelas anak perantauan yang memulai persahabatannya dan mencoba hidup bebas mandiri serta berpetualang dalam proses hidup. tepatnya di rumah nomer 11, bangunan versi hindia Belanda. yang memiliki desain priyayi pada zaman dulu. “Dulu sih memang elite pada jaman penjajahan dulu” kata pak RT.

Untuk kenyamanan anak kos rumah tersebut cukup mumpuni bagi orang yang merasa tetap cukup dan selalu bersyukur seperti Motto orang jawa “Nrimo Ing Pandum”. Rumah tersebut ditumbuhi banyak sekali tumbuh-tumbuhan an di sekitar depan bangunan itu,kalau bagi orang yang suka dengan konsep Green Living. Bangunan rumah tersebut terletak di Pojok sendiri, terletak di antara kebanyakan bangunan di Gang 9 adalah bangunan wisma putri.

Perkenalanku dengan anak-anak kos ini dimulai saat aku memasuki semester 2, menumpang tempat untuk bisa mengerjakan praktikkum agar cepat selesai, disitulah perkenalanku dengan teman-teman wisma merdeka, mengapa nama tersebut dinamakan Wisma Merdeka, tempat yang seharusnya jadi simbol kebebasan dan kemerdekaan, tapi lebih sering jadi tempat untuk melawan rasa malas dan tumpukan tugas kuliah. Nama “Merdeka” itu seakan memberi harapan besar bahwa di sini kita bebas melakukan apa saja, termasuk tidur siang selama berjam-jam sambil menunggu deadline yang datangnya lebih cepat daripada keinginan untuk menyelesaikan skripsi.

Tempat itu memang tempat yang srategis, jika pergi ke kampus saja hanya perlu menempuh waktu kurang dari 5 menit, tapi bisa saja 60 menit jika harus menunggu teman sepantaran mandi dan menemani sarapan padahal kamu sudah siap dari awal untuk berangkat kuliah “yah telat lagi deh” bergumam di dalam hati dengan kondisi hidup yang sudah disiplin mulai dari kecil.

Dalam setiap pertemuan, tak hanya hal-hal serius yang dibahas, tetapi juga kenangan lucu, kekonyolan, dan kebiasaan unik yang hanya dimiliki oleh anak kos. Mereka belajar hidup mandiri, mengelola waktu dan keuangan, serta saling memberi dukungan moral saat menghadapi ujian atau kesulitan lainnya.

Salah satu potret kamar anak kos sebelum mengenal kamar minimalis

Salah satu potret kamar anak kos sebelum mengenal kamar minimalis

Di dalam kamar yang sederhana ini, kenyamanan dan keakraban anak kos bisa terlihat begitu nyata. Tidur yang terbalut dengan selimut penuh warna, barang-barang berserakan di atas kasur yang tampak seperti medan perang kecil, dan kabel charger yang berseliweran seperti ular-ular kecil yang sedang mencari tempat untuk beristirahat, kadang juga menemukan rejeki nomplok yap uang teman atau uang diri sendiri. yang memang jika di tanggal muda kurang berguna, sedangkan di tanggal tua sangat berguna. Di foto ini, kita bisa melihat dua orang teman yang tengah tertidur pulas setelah seharian beraktivitas sebuah pemandangan yang sangat umum di kalangan anak kos yang hidup dengan kesederhanaan.

Kamar ini mungkin tidak memiliki banyak perabot mewah, tapi suasananya begitu akrab. Kasur yang penuh dengan selimut warna-warni, dari motif bunga yang berani hingga gambar klub sepak bola favorit dengan sebutan “Decul”, keadaan di kamar memberikan rasa nyaman dan familiar. Meski tempat tidurnya tidak terlalu besar, mereka bisa tidur dengan lelap, berbagi ruang dalam kedamaian yang hanya bisa ditemukan di tengah kehidupan kosan yang penuh dengan kejutan.

Mungkin ini bukan kamar yang mewah, tetapi kenyamanan datang bukan dari hal-hal besar, melainkan dari kebersamaan dan keakraban yang tercipta dalam kesederhanaan “alah-alah sangare kalimate”. Di sinilah anak kos merasakan kedamaian, bahkan dalam tumpukan pakaian, charger yang berserakan, selimut yang penuh warna dan berbau pandan, bau-bau kegiatan“Pria Lajang Kesepian”.

Hidup hemat ala anak kos dengan makan makanan barat sebelum memboikot produk ini.

Hidup hemat ala anak kos dengan makan makanan barat sebelum memboikot produk ini.

Dalam foto ini, suasana makan malam anak kos terlihat begitu mewah namun penuh keakraban. Makanan cepat saji yang dipesan menjadi pilihan yang praktis untuk mengisi perut setelah seharian beraktivitas. Ayam goreng, nasi, dan saus yang tumpah, serta lantai yang kurang higenis semua tersaji begitu apa adanya di atas kertas pembungkus.

Di Wisma Merdeka, keadaan berubah drastis sejak wabah COVID-19 datang melanda. Semua penghuni kos yang dulu meramaikan setiap sudut ruangan dan halaman kini terpaksa pulang ke rumah masing-masing, mengikuti anjuran untuk menjaga jarak dan membatasi pertemuan. Tempat yang sebelumnya penuh tawa, canda, dan kegiatan bersama kini sepi. Keheningan menyelimuti setiap sudutnya, dan kebersihan dengan motto “jum’at bersih, sabtu sehat, minggu ceria” yang dulu setiap minggu sekali ada kegiatan bersih-bersih bersama mulai terabaikan.

Keadaan Wisma Merdeka setelah ditinggalkan pasca PSBB Covid 2021

Keadaan Wisma Merdeka setelah ditinggalkan pasca PSBB Covid 2021

Terlihat halaman yang dipenuhi dengan rumput liar dan sampah yang berserakan. Itu adalah gambaran nyata dari betapa sepinya Wisma Merdeka setelah para teman-teman pulang. Seperti rumah yang kehilangan penghuninya, keadaannya menjadi kotor dan tak terawat, seolah-olah tempat ini juga merindukan suara tawa mereka.

Namun, ada cerita yang tak terungkap di balik kesunyian ini, kesunyian ini lebih parah dibandingkan kesunyian hati. Beberapa penghuni kos yang masih tinggal sementara merasa aneh, seperti ada yang mengintai mereka dari sudut-sudut gelap. Mereka mendengar suara tangisan di malam hari, dan bau pedagang sate di malam hari, padahal jelas tak ada siapa-siapa. Beberapa orang mulai bergosip tentang “hantu penunggu kos” yang mungkin berkeliling mencari teman-temannya yang telah pergi.

Mengerjakan Laporan akhir, ada juga yang mulai menyicil skripsi.

Mengerjakan Laporan akhir, ada juga yang mulai menyicil skripsi.

Di tengah suasana setelah makan malam yang santai ini, Wisma Merdeka menjadi saksi perubahan besar dalam kehidupan anak-anak kosnya. Dulu, kamar yang penuh dengan tawa dan kebersamaan kini mulai dipenuhi dengan suara ketikan keyboard, sebagai teman mereka yang sedang mencicil skripsi dan menyelesaikan tugas-tugas akhir kuliah. Beberapa teman yang dulu sering berkumpul bersama kini lebih fokus pada kehidupan mereka masing-masing, dengan masing-masing sibuk mencari pekerjaan, mencari cinta, dan mungkin juga mencari jati diri.

Meski kehidupan di luar mulai berubah dan tantangan semakin nyata, kenangan indah di Wisma Merdeka tetap melekat dalam ingatan mereka. Ada yang masih menatap layar laptop dengan mata yang sedikit lelah, berpikir tentang bagaimana menyelesaikan skripsi dengan sempurna. Ada yang melamun, memikirkan pekerjaan yang mungkin mereka akan ambil setelah lulus, berdoa agar impian mereka segera terwujud. Ada pula yang merenung, mencari tahu lebih dalam tentang siapa mereka sebenarnya, tentang apa yang mereka inginkan dalam hidup ini.

Namun, di tengah fokus itu semua, mereka tetap ingat satu hal “kebersamaan adalah obat terbaik untuk segala kelelahan dan kecemasan”. seperti yang terlihat di foto ini, menjadi pengingat bahwa meskipun hidup sudah mulai serius dengan skripsi dan pekerjaan, mereka masih memiliki satu sama lain. Masih ada tawa, masih ada obrolan tentang hal-hal ringan, dan tetap ada kebersamaan yang tidak tergantikan.

“Jadi, kamu udah nemu jati diri belum?” tanya salah satu teman, bercanda. “Masih nyari, kayaknya lebih gampang nyari lauk makan deh daripada jati diri,” jawab teman lainnya, tertawa kecil. tapikan “jatidiri itu stadion” jawab teman lainnya dengan bersahutan walaupun akhirnya menjadi komedi garing.

Seiring berjalannya waktu, tak terasa teman-teman yang pernah berbagi momen di Wisma Merdeka kini mulai fokus pada kehidupan masing-masing. Masing-masing dari kita memiliki perjalanan yang berbeda, dan meski kadang terpisah oleh jarak dan kesibukan, kenangan indah yang tercipta bersama akan selalu ada.

Beberapa dokumentasi foto member wisma merdeka, ada juga lo yang member jkt-48

Beberapa dokumentasi foto member wisma merdeka, ada juga lo yang member jkt-48

Untuk teman-teman yang kini sudah sibuk dengan rutinitas dan impian mereka, aku ingin mengucapkan terima kasih atas semua tawa, dukungan, dan kebersamaan yang telah kita lewati bersama. Meski kehidupan membawa kita ke arah yang berbeda, persahabatan kita tetap akan abadi seperti penggalan lirik perunggu

Lihatlah semua sudut itu Menco kan selalu memelukmu Dinginnya hangatkanmu selalu Dilengkapi lapisan selimut

Semoga setiap langkah yang kalian ambil selalu membawa kalian lebih dekat ke impian dan kebahagiaan. Dan untuk masa depan, aku berharap kita bisa berjumpa kembali di lain kesempatan, di waktu yang tepat. Entah itu dalam sebuah reuni, atau sekadar bertemu di tengah perjalanan hidup, semoga kesempatan itu datang. Karena meski kehidupan membawa kita ke arah yang berbeda, ikatan persahabatan yang telah terjalin akan selalu menjadi bagian dari perjalanan kita masing-masing. Sampai kita bertemu lagi, ya teman-teman!


메타데이터
post_id
fe1e6faeb8f6
slug
keakraban-di-wisma-merdeka-mencari-jati-diri-cinta-dan-masa-depan-fe1e6faeb8f6
url
https://medium.com/@Solitude.Waves/keakraban-di-wisma-merdeka-mencari-jati-diri-cinta-dan-masa-depan-fe1e6faeb8f6
canonical_url
https://medium.com/@Solitude.Waves/keakraban-di-wisma-merdeka-mencari-jati-diri-cinta-dan-masa-depan-fe1e6faeb8f6
author_url
https://medium.com/@Solitude.Waves
status
ok
fetched_at
2026-07-21 02:19:38