← Back to list

Di Ambon Saya Belajar Bahwa Musik Ada sebagai Peristiwa

Kemarin saya berada di dua ruang yang berbeda di Ambon, tetapi pengalaman yang saya rasakan justru memperlihatkan satu medan yang sama…

kekasih kotta · 2026-03-30 16:15 · 0 claps · 3.9 min read
#ambon #musik
Open on Medium ↗

Di Ambon Saya Belajar Bahwa Musik Ada sebagai Peristiwa

Kemarin saya berada di dua ruang yang berbeda di Ambon, tetapi pengalaman yang saya rasakan justru memperlihatkan satu medan yang sama, seolah-olah bunyi tidak pernah benar-benar terpisah oleh tempat. Saya memenuhi undangan pada sebuah acara syukuran orang Sidi baru, lalu berlanjut ke sebuah kafe burger milik teman yang kebetulan sedang mengadakan pertunjukan musik Melayu. Perpindahan ini pada awalnya terasa biasa saja, sekadar bergerak dari satu acara ke acara lain. Namun perlahan, melalui pengalaman mendengar yang berlangsung hampir tanpa jeda, saya mulai merasa bahwa musik di kota ini tidak bisa lagi dipahami sebagai sesuatu yang utuh dan selesai.

Di acara syukuran itu, lagu-lagu Ambon diputar dan dinyanyikan dengan cara yang begitu akrab. Slow rock dari tahun delapan puluhan dan sembilan puluhan mengalun tanpa jarak, lalu bergeser ke lagu-lagu goyang yang mengundang tubuh untuk ikut bergerak. Keyboard Yamaha PSR menjadi pusat pengiring yang menentukan suasana, dengan warna suara yang khas dan sudah terlalu sering hadir dalam berbagai situasi serupa. Tidak ada sesuatu yang benar-benar baru di sana, tetapi justru karena itu, semuanya terasa begitu kuat. Tubuh tidak perlu belajar. Ia sudah tahu bagaimana harus merespons, seolah-olah musik itu telah lama tinggal di dalamnya. Ketika saya berpindah ke kafe, secara musikal sebenarnya tidak banyak yang berubah. Instrumen yang digunakan masih berada dalam lingkaran yang sama, cara memainkan keyboard masih terasa familiar, bahkan pola hiburan yang ditawarkan masih berada dalam garis yang bisa dikenali. Namun perbedaan itu muncul bukan pertama-tama dari bunyi, melainkan dari situasi.

Yang saya maksud dengan situasi di sini bukan sekadar tempat fisik, tetapi keseluruhan kondisi yang membentuk cara musik itu hadir dan diterima. Situasi mencakup siapa yang hadir, bagaimana mereka berpakaian, bagaimana tubuh ditempatkan dalam ruang, bagaimana relasi sosial terbentuk, dan bagaimana semua itu secara diam-diam mempengaruhi cara bunyi bekerja.

Di acara syukuran orang SIDI baru, situasinya ditandai oleh kedekatan sosial yang kuat. Orang-orang saling mengenal atau setidaknya berada dalam jaringan yang sama. Tubuh bergerak dengan lepas, suara-suara saling menyambung tanpa canggung. Musik menjadi perpanjangan dari kebersamaan itu. Ia tidak berdiri sendiri, tetapi menyatu dengan percakapan, dengan tawa, dengan ingatan yang dibagi bersama. Di kafe, situasinya berbeda. Ada kehadiran orang-orang dengan latar yang lain, termasuk mereka yang bermarga Arab, perempuan dengan hijab, laki-laki dengan gamis. Kehadiran ini tidak hanya menjadi detail visual, tetapi membentuk atmosfer yang berbeda. Tubuh ditempatkan dengan cara yang lain, relasi antar individu terasa memiliki jarak dan struktur yang berbeda. Dalam situasi seperti ini, kehadiran gambus tidak lagi sekadar tambahan instrumen, tetapi menjadi bagian dari keselarasan yang lebih luas antara bunyi dan kondisi sosial yang sedang berlangsung.

Di titik ini saya mulai memahami bahwa situasi yang melingkupi musik tersebut membuat pengalaman mendengar menjadi berbeda. Musik tidak pernah hadir dalam ruang kosong. Ia selalu terikat pada kondisi sosial yang membentuknya. Bunyi yang sama bisa menghasilkan pengalaman yang berbeda karena tubuh yang mendengar berada dalam konfigurasi sosial yang berbeda.

Saya merasakan bahwa tubuh saya sendiri ikut merespons perubahan situasi itu. Di acara syukuran, saya tidak merasa perlu menyesuaikan diri. Lagu-lagu itu seperti sudah tersimpan di dalam tubuh, lengkap dengan arah pergerakan dan kemungkinan-kemungkinan yang akan datang. Sementara di kafe, tubuh saya sedikit tertahan. Ia tetap ikut masuk, tetapi dengan kehati-hatian yang tidak saya rasakan sebelumnya. Ada proses penyesuaian yang berlangsung tanpa disadari, seolah-olah tubuh sedang membaca situasi sebelum sepenuhnya menyerahkan diri pada musik.

Dari pengalaman itu, saya mulai melihat bahwa musik tidak bekerja seperti bahasa. Ia tidak menunggu untuk dimengerti. Ia langsung terjadi. Struktur bunyi yang saya dengar tidak menamai perasaan, tetapi menghadirkannya. Melodi, harmoni, dan ritme tidak berdiri sebagai simbol yang harus diterjemahkan, tetapi sebagai bentuk yang langsung menyentuh kesadaran. Ada hubungan yang begitu dekat antara suara dan tubuh, sehingga respon muncul bahkan sebelum pikiran sempat menyusul.

Saya juga merasakan bahwa setiap bunyi membawa ikatan tertentu dengan tubuh. Warna suara dari keyboard, petikan gambus, cara vokal dilengkungkan, semuanya tidak hanya terdengar, tetapi menempel. Pada saat tertentu, tubuh seperti ditarik masuk ke dalam musik. Bukan karena saya memahami apa yang sedang terjadi, tetapi karena suara itu sendiri telah mengarahkan posisi saya di dalamnya. Pengalaman ini semakin terasa ketika saya memperhatikan bagaimana waktu bekerja dalam musik. Setiap momen mendengar tidak pernah berdiri sendiri. Ketika sebuah lagu dimainkan, saya tidak hanya mendengar bagian yang sedang berlangsung, tetapi juga membawa ingatan tentang bagian yang telah lewat dan bayangan tentang apa yang akan datang. Semua itu bertemu dalam satu titik yang terus bergerak. Momen sekarang menjadi padat, berlapis, dan tidak pernah benar-benar diam.

Di acara syukuran, pengalaman ini terasa begitu mulus. Lagu-lagu yang akrab membuat hubungan antara masa lalu dan masa depan berjalan tanpa hambatan. Tubuh seperti sudah mengetahui jalurnya. Di kafe, dengan kehadiran gambus dan situasi sosial yang berbeda, hubungan ini sedikit bergeser. Saya harus menyesuaikan diri, membangun ulang ekspektasi, dan menemukan kembali cara untuk masuk ke dalam alur tersebut.

Apa yang saya alami juga memperlihatkan bahwa musik selalu hadir bersama cara hidup tertentu. Ia tidak berdiri sendiri. Cara orang hadir dalam ruang, cara mereka berpakaian, cara mereka menempatkan tubuh, semuanya menjadi bagian dari bagaimana musik itu bekerja. Dalam pengertian ini, situasi bukanlah latar belakang, tetapi bagian dari mekanisme musikal itu sendiri. Di titik ini saya mulai merasa bahwa apa yang saya temukan bukanlah jawaban tentang apa itu musik di Ambon. Saya justru menemukan potongan-potongan kecil, fragmen yang tidak pernah benar-benar menyatu menjadi satu definisi. Setiap ruang memberikan bagian yang berbeda. Setiap situasi mengubah cara bunyi bekerja. Musik di Ambon tidak hadir sebagai sesuatu yang utuh, tetapi sebagai sesuatu yang terus tersusun dari pertemuan antara suara, tubuh, dan kondisi sosial yang selalu berubah. Mungkin memang lebih tepat jika saya tidak lagi mencari definisi yang tunggal. Karena setiap kali saya berpindah ruang, setiap kali situasi berubah, pemahaman itu ikut bergeser. Yang tersisa bukanlah kepastian, tetapi kumpulan pengalaman yang perlahan membentuk cara saya melihat dan merasakan.

Dari dua ruang itu, saya tidak membawa kesimpulan. Saya membawa potongan-potongan. Dan justru dari potongan-potongan itulah saya mulai mendekati sesuatu yang selama ini sulit dijelaskan. Musik di Ambon mungkin bukan sesuatu yang bisa dirumuskan sekali jadi, tetapi sesuatu yang hanya bisa didekati, dirasakan, dan terus disusun kembali setiap kali kita mendengarnya.


메타데이터
post_id
fe1f88014bd5
slug
di-ambon-saya-belajar-bahwa-musik-ada-sebagai-peristiwa-fe1f88014bd5
url
https://medium.com/@kekasihkotta/di-ambon-saya-belajar-bahwa-musik-ada-sebagai-peristiwa-fe1f88014bd5
canonical_url
https://medium.com/@kekasihkotta/di-ambon-saya-belajar-bahwa-musik-ada-sebagai-peristiwa-fe1f88014bd5
author_url
https://medium.com/@kekasihkotta
status
ok
fetched_at
2026-06-22 12:55:45