Membaca Pekanbaru Dalam Kacamata Pierre Bourdieu: Pembangunan Kota dan Masa Depan Kreativitas Anak…
Oleh : Ivan daifullah
Membaca Pekanbaru Dalam Kacamata Pierre Bourdieu: Pembangunan Kota dan Masa Depan Kreativitas Anak Muda
Oleh : Ivan daifullah
LIDAH KOTA. Pekanbaru sedang bertumbuh. Jalan diperlebar, kawasan komersial berkembang, pusat perbelanjaan menjamur, dan proyek infrastruktur terus berjalan. Secara kasat mata, kota ini bergerak menuju modernitas. Namun pertanyaannya sederhana sekaligus mendasar: apakah pembangunan tersebut juga memberi ruang hidup bagi kreativitas anak muda?

Kompilasi Pagi di Pekanbaru (30/04/2026). Foto: Andri.spokpict / Komunitas Potret Street Pekanbaru
Pertanyaan ini menjadi penting jika melihat komposisi demografis kota. Berdasarkan data jumlah penduduk Pekanbaru mencapai sekitar 1,14 juta jiwa, dengan sekitar 66 persen berada dalam usia produktif (15–59 tahun). Artinya, mayoritas warga kota berada pada fase kehidupan yang aktif secara sosial, ekonomi, dan kultural. Kota ini secara struktur demografi sebenarnya adalah “kota muda”. Namun dominasi usia produktif tidak otomatis berarti kota tersebut ramah terhadap kreativitas. Di sinilah kita dapat membaca Pekanbaru melalui konsep pemikiran Pierre Bourdieu.
Kota sebagai Arena Kekuasaan
Bagi Bourdieu, ruang sosial selalu merupakan arena pertarungan. Kota bukan sekadar kumpulan bangunan, tetapi ruang dimana berbagai aktor — pemerintah, pengusaha, investor, komunitas, dan warga — saling berebut pengaruh serta sumber daya. Tata ruang kota adalah hasil dari relasi kekuasaan tersebut.
Jika pembangunan kota lebih banyak digerakkan oleh logika investasi dan pertumbuhan ekonomi semata, maka ruang-ruang yang tercipta cenderung mengikuti kepentingan modal besar. Mal, kawasan komersial, dan proyek properti tumbuh cepat karena memiliki dukungan kapital ekonomi. Sementara itu, ruang kreatif kolektif — seperti ruang diskusi terbuka, studio komunitas, atau taman ekspresi — sering kali tidak menjadi prioritas karena tidak langsung menghasilkan keuntungan finansial.
Dalam kerangka ini, anak muda berada dalam posisi yang tidak selalu kuat. Banyak dari mereka memiliki modal kultural (ide, kreativitas, kemampuan artistik), tetapi tidak memiliki modal ekonomi yang cukup untuk mengakses ruang kota yang semakin terkomersialisasi. Akibatnya, kreativitas tumbuh secara sporadis, tetapi sulit berkembang menjadi gerakan kolektif yang berpengaruh terhadap arah kota.

Potret pekerja bangunan di kota Pekanbaru. Foto: Andri.spokpict / Komunitas Potret Street Pekanbaru
Sense of Place: Merasa Memiliki Kota
Konsep sense of place dalam pendekatan Bourdieu dapat dipahami sebagai keterikatan sosial yang lahir dari pengalaman, pengakuan, dan akses terhadap ruang. Rasa memiliki terhadap kota tidak muncul begitu saja; ia terbentuk ketika seseorang merasa diakui, dilibatkan, dan diberi ruang untuk berkontribusi.
Jika anak muda hanya menjadi penonton pembangunan — tanpa dilibatkan dalam proses perencanaan, tanpa ruang berekspresi yang terjangkau, tanpa pengakuan atas komunitasnya maka hubungan mereka dengan kota menjadi dangkal. Mereka tinggal di Pekanbaru, tetapi tidak merasa benar-benar menjadi bagian dari arah dan identitas kota tersebut.
Sebaliknya, ketika ruang publik dirancang inklusif, ketika komunitas diberi tempat untuk tumbuh, dan ketika kebijakan kota membuka ruang partisipasi nyata, maka sense of place menguat. Anak muda tidak sekadar menggunakan kota tetapi mereka ikut membentuknya.

Pengibaran Bendera Merah Putih menyemarakkan Sumpah Pemuda di Tugu Zapin Kota Pekanbaru. Foto: Maziwal / Komunitas Potret Street Pekanbaru
Habitus dan Masa Depan Kota
Habitus, dalam pemikiran Bourdieu, adalah pola pikir dan kecenderungan bertindak yang terbentuk dari pengalaman sosial. Kota yang menyediakan ruang partisipatif akan membentuk habitus yang percaya diri, kolaboratif, dan inovatif. Anak muda yang terbiasa berdialog, berkegiatan di ruang publik, dan dilibatkan dalam kebijakan akan tumbuh sebagai warga kota yang aktif.
Namun jika pengalaman mereka didominasi oleh keterbatasan akses dan eksklusivitas ruang, habitus yang terbentuk bisa menjadi apatis dan individualistik. Dalam jangka panjang, ini bukan hanya persoalan kreativitas, tetapi juga persoalan kualitas demokrasi lokal. Pembangunan tata ruang yang tidak sensitif terhadap dinamika sosial berisiko menciptakan kota yang modern secara fisik, tetapi rapuh secara sosial.

Genangan seribu kenangan, aksi solidaritas anak — anak saat banjir di ruas jalan cipta karya kota Pekanbaru. Foto: Yonggi / Komunitas Potret Street Pekanbaru
Menyelaraskan Pembangunan dan Kreativitas
Agar pembangunan kota Pekanbaru selaras dengan pengembangan kreativitas anak muda, setidaknya ada tiga arah strategis yang dapat dipertimbangkan.
- Pertama, memperbanyak dan melindungi ruang publik non-komersial yang dapat diakses secara bebas atau murah oleh komunitas. Ruang seperti ini adalah fondasi tumbuhnya modal sosial dan kultural.
- Kedua, melibatkan komunitas muda dalam proses perencanaan kota secara substantif, bukan sekadar formalitas. Partisipasi yang nyata akan memperkuat rasa memiliki terhadap kota.
- Ketiga, memastikan bahwa kebijakan tata ruang tidak sepenuhnya tunduk pada tekanan pasar. Kota tidak boleh hanya menjadi ruang transaksi ekonomi, tetapi juga ruang produksi budaya.

Komunitas Bboy breakdance dan BMX beraksi saat CFD di jalan Jendral Sudirman kota Pekanbaru. Foto: Yonggi / Komunitas Potret Street Pekanbaru
Epilog
Membaca Pekanbaru melalui kacamata Bourdieu mengingatkan kita bahwa pembangunan kota bukan hanya soal beton dan aspal, melainkan soal distribusi akses dan makna. Dengan komposisi penduduk yang didominasi usia produktif, Pekanbaru memiliki potensi besar menjadi kota kreatif yang hidup.
Namun potensi itu hanya akan terwujud jika anak muda tidak sekadar dihitung dalam statistik, melainkan diberi ruang untuk menjadi subjek pembangunan. Kota yang ramah kreativitas adalah kota yang memungkinkan warganya merasa memiliki, berkontribusi, dan diakui. Tanpa itu, pembangunan mungkin terus berjalan. Tetapi kota akan tumbuh tanpa jiwa.

Rancangan pembangunan U-Turn di Sudirman menggunakan dana CSR 3 Miliar Rupiah. Sumber : Instagram ssc_riau
Tentang Penulis :
Ivan daifullah a.k.a civil society, sarjanawan ilmu politik serta anak muda kota pekanbaru. Instagram : @ivandaifullaahhh
Daftar Pustaka
Badan Pusat Statistik Kota Pekanbaru. (2024). Kota Pekanbaru dalam Angka 2024.
Pekanbaru: BPS Kota Pekanbaru
Bourdieu, P. (1984). Distinction: A Social Critique of the Judgement of Taste.
Cambridge, MA: Harvard University Press
Bourdieu, P. (1986). The Forms of Capital. Dalam J. G. Richardson (Ed.),
Handbook of Theory and Research for the Sociology of Education (hlm. 241–258).
New York: Greenwood Press 메타데이터
- post_id
- fe3690bdfd0f
- slug
- membaca-pekanbaru-dalam-kacamata-pierre-bourdieu-pembangunan-kota-dan-masa-depan-kreativitas-anak-fe3690bdfd0f
- url
- https://medium.com/@corahkota/membaca-pekanbaru-dalam-kacamata-pierre-bourdieu-pembangunan-kota-dan-masa-depan-kreativitas-anak-fe3690bdfd0f
- canonical_url
- https://medium.com/@corahkota/membaca-pekanbaru-dalam-kacamata-pierre-bourdieu-pembangunan-kota-dan-masa-depan-kreativitas-anak-fe3690bdfd0f
- author_url
- https://medium.com/@corahkota
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-21 23:19:27