← Back to list

Raja yang Bukan Sekadar Raja

Membaca Kritik Kekuasaan dalam “Radja” — /rif

Aku Bahasa · 2026-06-05 03:50 · 50 claps · 3.7 min read
#lagu #sastra-indonesia
Open on Medium ↗

Raja yang Bukan Sekadar Raja

*Membaca Kritik Kekuasaan dalam *“Radja” — /rif

Photo by Carlos N. Cuatzo Meza on Unsplash

Photo by Carlos N. Cuatzo Meza on Unsplash

Generasi milineal pasti familier dengan lagu ini, dong? Pertanyaannya, apakah benar lagu ini sebuah kritik untuk kekuasaan Orde Baru yang luar biasa? Bisa jadi.

Dikutip dari suara.com, Restu Triandy atau dikenal dengan Andy Rif, mengaku lagu ini terinspirasi dari kisah nyata mengenai kehidupan seorang anak Presiden RI. Andy bercerita pernah diundang ke pesta di Bali yang diselenggarakan salah satu anak Presiden ke-2 RI Suharto. Namun, yang menarik, memang lagunya secara frontal mengarah kepada kritik sosial kepemimpinan saat itu. Coba kita ulas.

Sumber gambar: Spotify

Sumber gambar: Spotify

Sekilas, “Radja” terdengar seperti khayalan sederhana tentang hidup enak. Menjadi seseorang yang memiliki uang, harta, kuasa, dan dapat memperoleh apa pun hanya dengan menunjuk.

Namun benar, lagu ini ternyata lahir setelah para personel /rif menyaksikan sebuah pesta mewah di Bali. Sang tuan rumah, yang merupakan anak seorang penguasa negara, dikelilingi orang-orang yang begitu tunduk dan memperlakukannya seperti raja. Dari pengalaman itulah, khayalan “andai ku jadi raja” memperoleh makna yang berbeda. Kita bedah lirik-lirik pentingnya.

Bedah Lirik

Menjadi raja dalam lagu ini tidak digambarkan sebagai kesempatan untuk memimpin, melindungi, atau menyejahterakan orang lain.

Menjadi raja berarti dapat memperoleh apa pun dengan mudah.

Cukup meminta, menunjuk, dan mengucapkan sedikit kata, orang-orang akan bergerak memenuhi kehendaknya.

Pilihan kata tersebut memperlihatkan kekuasaan sebagai kehidupan tanpa batas. Seseorang tidak perlu bersusah payah karena keinginannya telah dianggap sebagai perintah.

🎵 “Ku diangkat, dielukan Dikelilingi bawahan dan orang-orang suruhan” 🎵

Ada dua lapisan kekuasaan yang dibayangkan tokoh “aku”.

Pertama, kekuasaan membuat seseorang memiliki banyak bawahan yang siap menjalankan perintah.

Kedua, kekuasaan membuat seseorang diangkat dan dielukan, bahkan sebelum kita mengetahui apakah ia benar-benar pantas mendapatkannya.

Menariknya, lirik ini tidak menggunakan kata dicintai atau dipercaya. Sosok raja justru dikelilingi orang-orang yang tunduk, memuja, dan melayani.

Lagu ini seperti sedang merekam sebuah tatanan yang menyerupai kerajaan. Kedudukan seseorang membuatnya menjadi pusat segalanya, sedangkan orang-orang lain hanya hadir untuk mengikuti.

🎵 “Dengan menjentikkan jari dan lambaian tangan Maka terpuaskan nafsuku” 🎵

Menjentikkan jari dan melambaikan tangan adalah gerakan yang sangat kecil. Namun, bagi seorang “raja”, gerakan itu cukup untuk membuat orang-orang bertindak. Larik ini memperlihatkan betapa besarnya jarak antara pihak yang berkuasa dan mereka yang harus mengikuti perintah.

Yang juga menarik adalah penggunaan kata “nafsuku”.

Kekuasaan tidak digambarkan sebagai sarana untuk menjalankan tanggung jawab, tetapi sebagai alat untuk memuaskan hasrat pribadi. Semakin besar kuasa yang dimiliki, semakin sedikit pula batas yang menghalangi keinginan. Boom!

🎵 “Tapi ku bukan raja Ku hanya orang biasa Yang selalu dijadikan alas kaki para sang raja” 🎵

Kata “tapi” menjadi titik balik lagu ini.

Khayalan tentang harta, istana, bawahan, dan kuasa mendadak berhadapan dengan kenyataan. Tokoh “aku” bukan bagian dari mereka yang dilayani. Ia hanyalah orang biasa.

Frasa “alas kaki para sang raja” menjadi metafora yang tajam. Orang biasa digambarkan bukan sebagai pihak yang dilindungi oleh penguasa, melainkan sebagai sesuatu yang dapat diinjak, digunakan, dan diabaikan.

Di bagian inilah “Radja” menunjukkan keberpihakannya. Tokoh “aku” menjadi suara orang kebanyakan yang hanya dapat menyaksikan kemewahan para penguasa dari posisi paling bawah.

🎵 “Aku hanya bisa menahan dan melihat Membayangkan dan memimpikan ’tuk menjadi seorang raja” 🎵

Tokoh “aku” menyadari ketidakadilan yang dialaminya. Namun, ia tidak melawan atau mempertanyakan mengapa seseorang dapat memiliki kuasa sebesar itu.

Ia hanya menahan, melihat, membayangkan, dan memimpikan.

Di sinilah ironi lagu terasa semakin kuat.

Tokoh “aku” tidak membayangkan sebuah dunia tanpa raja dan alas kaki. Ia justru bermimpi menjadi raja agar dapat menikmati kedudukan yang sama.

Lagu ini tidak hanya merekam ketimpangan kekuasaan, tetapi juga menunjukkan bagaimana ketimpangan dapat dianggap begitu biasa hingga orang-orang tidak lagi ingin mengubahnya. Mereka hanya berharap suatu hari mendapat giliran berada di atas.

Apakah ini sangat relevan dengan kekuasaan saat itu?

Unsur Sastra

  1. Simbol Sosok “raja” menjadi simbol seseorang yang memiliki kedudukan, kekayaan, pengaruh, dan akses begitu dekat dengan pusat kekuasaan.
  2. Metafora Frasa “alas kaki para sang raja” menggambarkan orang biasa yang direndahkan, dimanfaatkan, dan ditempatkan di bawah kepentingan penguasa.
  3. Hiperbola Larik “dengan menjentikkan jari dan lambaian tangan” melebih-lebihkan mudahnya seorang penguasa memperoleh sesuatu dan menggerakkan orang lain.
  4. Repetisi Pengulangan frasa “andai ku jadi raja”, “nikmatnya jadi raja”, dan “tapi ku bukan raja” terus mempertemukan khayalan dengan kenyataan.
  5. Ironi Tokoh “aku” merasa menjadi korban kekuasaan, tetapi tetap tergoda untuk memiliki dan menikmati kekuasaan yang sama.
  6. Satire Dengan bahasa yang sederhana, lagu ini menyindir kehidupan penguasa yang dikelilingi bawahan, dielukan, dan mampu memenuhi hasrat pribadi tanpa banyak hambatan.
  7. Kontras Lagu dibangun melalui pertentangan antara, raja dan orang biasa; istana dan alas kaki; kuasa dan ketidakberdayaan; kenikmatan dan penindasan; khayalan dan kenyataan.

Simpulan

“Radja” bukan sekadar lagu tentang mimpi hidup mewah. Lagu ini lahir dari pemandangan tentang seseorang yang diperlakukan seperti raja karena berada dekat dengan pusat kekuasaan. Semua orang tunduk, mengikuti, dan menempatkannya sebagai pusat segalanya.

Melalui tokoh “aku”, lagu ini kemudian memperlihatkan posisi orang biasa, mereka yang hanya dapat menahan, melihat, dan menjadi “alas kaki” bagi para penguasa.

Namun, “Radja” tidak berhenti pada kritik tentang ketimpangan.

Ia juga menunjukkan bagaimana kekuasaan yang tidak adil dapat terlihat begitu wajar dan begitu menggoda. Bahkan orang yang berada di bawah tidak selalu bermimpi menghapus ketimpangan. Kadang, ia hanya bermimpi mendapat giliran menjadi raja.

Dalam pembacaan ini, demokrasi berjalan terbalik. Artinya, orang biasa bukan menjadi pemilik kuasa, melainkan sekadar penonton bagi mereka yang berkuasa.

🎵 “Semua itu hanya khayalan.” 🎵


메타데이터
post_id
fe37f44bb435
slug
raja-yang-bukan-sekadar-raja-fe37f44bb435
url
https://medium.com/@akubahasa.id/raja-yang-bukan-sekadar-raja-fe37f44bb435
canonical_url
https://medium.com/@akubahasa.id/raja-yang-bukan-sekadar-raja-fe37f44bb435
author_url
https://medium.com/@akubahasa.id
status
ok
fetched_at
2026-06-18 07:02:39