Kentut, Raja, dan Sejarah
2026 : 5) Membaca Keseharian dalam Catatan Harian Raja Bone
Kentut, Raja, dan Sejarah
2026 : 5) Membaca Keseharian dalam Catatan Harian Raja Bone
Photo by Aaron Burden on Unsplash
Catatan harian seorang raja seringkali dibayangkan sebagai rekaman peristiwa besar, kebijakan politik, atau keputusan strategis yang menentukan arah sebuah kerajaan.
Namun, temuan dalam catatan harian Raja Bone pada 7 Juli 1782 Masehi, bertepatan dengan 26 Rajab 1196 Hijriah, justru menghadirkan sesuatu yang tampak sepele. Ia mencatat suara kentut yang terdengar pada malam hari dari kolong rumah, berasal dari seorang pengikut bernama La Sekke.

Add MS 12356, f. 37v.
Catatan ini, yang pada pandangan pertama tampak remeh dan bahkan jenaka, sesungguhnya membuka ruang refleksi yang luas tentang cara membaca sumber sejarah, tentang kemanusiaan seorang raja, serta tentang nilai metodologis dari sumber-sumber personal dalam penulisan sejarah.
Dalam konteks arsitektur dan sosial Sulawesi Selatan pada abad ke-18, rumah seorang raja bukanlah ruang privat dalam pengertian modern. Istana atau rumah panggung raja dihuni oleh banyak orang.
Di kolong rumah tinggal para pengikut, penjaga, atau orang-orang yang berada dalam relasi patron dan klien dengan raja. Mereka bukan semata-mata budak, melainkan individu merdeka yang mengikatkan diri secara sosial dan politik kepada penguasa, sebuah relasi yang dalam tradisi Bugis dikenal sebagai ajjoareng (pemimpin) dan joareng (pengikut).
Dengan latar seperti ini, suara yang muncul dari kolong rumah tidak dapat dipahami sekadar sebagai gangguan fisik, melainkan sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari istana.
Yang menarik, Raja Bone mencatat peristiwa ini dengan penekanan pada suara, bukan pada bau. Ia bahkan menegaskan bahwa suara itu terdengar hingga ke seberang rumah, sampai ke kamar orang lain. Pilihan narasi ini menunjukkan dua hal.
Pertama, adanya nada humor yang halus dalam catatan tersebut. Kedua, adanya kehati-hatian dalam menjaga martabat orang yang disebutkan. Dengan tidak menyinggung soal bau, raja seakan membatasi dampak sosial dari peristiwa itu.
Ia mencatatnya, tetapi tidak mempermalukannya secara total. Di sini terlihat etika sosial seorang raja yang peka terhadap siri atau harga diri, bahkan terhadap pengikutnya.
Catatan ini menjadi semakin menarik ketika ditempatkan dalam konteks budaya Bugis yang sangat menjunjung tinggi siri. Dalam tradisi ini, rasa malu yang dipermalukan di ruang publik dapat berujung pada kekerasan.
Gambaran tersebut mengingatkan pada kisah dalam novel Sang Penasihat karya H.J. Fredericy, ketika sebuah kentut dalam suasana gelap memicu tawa, lalu berujung pada amuk berdarah karena pelanggaran harga diri.
Perbandingan ini justru menegaskan perbedaan konteks. Dalam catatan Raja Bone, tidak ada tawa, tidak ada ejekan, dan tidak ada reaksi berlebihan. Hal ini menunjukkan bahwa relasi kuasa, suasana, dan respons sosial sangat menentukan makna sebuah peristiwa kecil.
Lebih jauh, catatan ini memperlihatkan sisi personal Raja Bone yang jarang muncul dalam sumber resmi. Raja tidak hanya hadir sebagai penguasa, pembuat kebijakan, atau figur religius, tetapi juga sebagai manusia yang mendengar, merasakan, dan mengingat hal-hal kecil dalam hidupnya.
Ini penting, terutama karena Raja Bone yang dimaksud, Sultan Ahmad Saleh, dikenal sebagai raja yang religius, penulis risalah keagamaan, penganut tarekat, serta pecinta seni dan budaya. Catatan harian ini melengkapi gambaran tersebut dengan dimensi keseharian yang konkret dan hidup.
Dalam konteks penelitian sejarah, nilai utama dari catatan ini terletak pada kekuatannya sebagai sumber primer. Ia merekam pengalaman langsung, tanpa upaya membangun legitimasi politik atau citra kebesaran.
Justru karena mencatat hal-hal yang tampak tidak penting, catatan ini menjadi sangat autentik. Ia menunjukkan bahwa penulisnya tidak sedang menyeleksi realitas demi kepentingan ideologis tertentu, melainkan menuliskan apa yang ia alami.
Lebih dari itu, catatan harian ini memiliki fungsi metodologis yang krusial. Ia dapat digunakan sebagai alat verifikasi terhadap sumber-sumber lokal lain, khususnya Lontara Attoriolong Bone yang tidak memiliki penanggalan.
Salah satu persoalan besar dalam historiografi Sulawesi Selatan adalah kaburnya kronologi sebelum abad ke-17. Banyak peristiwa hanya disusun secara naratif tanpa kepastian waktu. Dengan adanya catatan harian yang memuat penanggalan Masehi dan Hijriah, peneliti memperoleh jangkar kronologis yang sangat berharga.
Keterbatasan penanggalan ini telah lama disadari oleh para sejarawan. Upaya seperti yang dilakukan oleh Jacobus Noorduyn, dengan menghitung mundur masa pemerintahan raja berdasarkan rata-rata lamanya kekuasaan, menunjukkan betapa spekulatifnya penetapan waktu dalam sejarah awal Sulawesi Selatan.
Metode semacam ini berguna, tetapi tidak pernah sepenuhnya pasti. Oleh karena itu, setiap tambahan sumber yang memiliki penanggalan eksplisit, seperti catatan harian Raja Bone, memiliki nilai ilmiah yang tinggi.
Dengan demikian, temuan tentang suara kentut dalam catatan harian Raja Bone tidak dapat direduksi sebagai anekdot lucu semata. Ia adalah pintu masuk untuk memahami kehidupan istana, relasi sosial, etika budaya, serta problem metodologis dalam penulisan sejarah lokal.
Ia mengingatkan bahwa sejarah tidak hanya dibentuk oleh perang, perjanjian, dan kebijakan besar, tetapi juga oleh pengalaman manusiawi yang sederhana. Justru dari hal-hal kecil itulah, masa lalu hadir dengan wajah yang lebih utuh, lebih jujur, dan lebih dekat dengan kehidupan manusia itu sendiri.
End.
Sulolipu
메타데이터
- post_id
- fe85b4c1d7b2
- slug
- kentut-raja-dan-sejarah-fe85b4c1d7b2
- url
- https://medium.com/berbagi-berdampak/kentut-raja-dan-sejarah-fe85b4c1d7b2
- canonical_url
- https://medium.com/berbagi-berdampak/kentut-raja-dan-sejarah-fe85b4c1d7b2
- author_url
- https://medium.com/@sulolipu
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-14 14:55:07