Siap, Mohon Izin
#1078: Kesantunan, Hierarki, dan Kebiasaan
Jurnal
Siap, Mohon Izin
#1078: Kesantunan, Hierarki, dan Kebiasaan

Ilustrasi: Gemini/AI
“Beb, kamu mau nasi pakai daging sapi atau udang?” tanya istri saya melalui WhatsApp. “Sapi,” jawab saya. Dia membalas, “Siaaap.” Saya tertawa dan menulis, “Kamu kebanyakan gaul sama PNS dan pegawai BUMN.” Jawaban itu membuat saya sadar bahwa ungkapan dapat menyelinap dari kantor ke rumah. “Siap” dan “mohon izin” kini hidup otomatis dalam percakapan kita, seperti ritual kecil yang terus-menerus muncul tanpa dapat dicegah.
🔑 Lanjutkan membaca dengan mengklik tautan teman ini.
Di dunia kerja, kita makin sering mendengar “siap” muncul dalam percakapan, termasuk melalui saluran digital. Ada orang yang merasa kata itu menenangkan. Mereka menganggapnya tanda kesiapan dan penghormatan terhadap jabatan. Ada pula yang menghela napas setiap kali mendengar atau membacanya karena merasa komunikasi menjadi kurang luwes. Dua sikap itu hidup berdampingan tanpa pernah dipertemukan dengan tuntas.
Begitu pula dengan “mohon izin”. Di banyak kantor, ungkapan itu dianggap bagian dari etiket profesional. Orang memakainya untuk menandai batas kewenangan, seakan langkah kecil pun perlu restu agar tidak menyinggung siapa pun. Meski demikian, di ruang lain, frasa itu terasa berlebihan untuk kebutuhan sehari-hari. Orang memilih jalan yang lebih pendek karena hubungan sosialnya tidak memakai lapisan kehati-hatian seperti itu.
Saya sering menemukannya di kelas pelatihan. Hampir semua peserta mengangkat tangan dengan kalimat yang serupa. “Mohon izin, Pak. Saya mau bertanya,” kata mereka. Kadang pertanyaannya sederhana, tetapi mereka merasa perlu membuka ruang dengan sopan walau sudah saya larang. Tindakan kecil itu dianggap menjaga muka lawan tutur sehingga tidak mengherankan jika ia tumbuh kuat di lingkungan yang menjunjung harmoni.
Fenomena itu menunjukkan bahwa bahasa tidak hanya mengikuti aturan baku, tetapi juga mengikuti aturan sosial. Setiap budaya membangun cara tersendiri untuk merawat hubungan dan ungkapan kecil sering menjadi alatnya. Dalam kerangka itulah “siap” dan “mohon izin” bertahan, bukan karena maknanya istimewa, melainkan karena perannya menenangkan percakapan dan menjaga orang agar tidak saling bertabrakan.
Saya pribadi jarang memakai “siap” karena lebih nyaman dengan “baik” yang terasa netral dan cukup. Paling-paling, saya pakai “siaaap” dengan nada bercanda, seperti yang dilakukan istri saya. “Mohon izin” tidak pernah saya ucapkan. Saya lebih memilih “permisi” jika konteksnya sesuai. Pilihan itu bukan penolakan, melainkan cara menemukan irama bahasa yang selaras dengan ruang yang saya huni.
Kata-kata kadang menyatukan, tetapi kadang menjauhkan, bergantung pada siapa yang menggunakannya dan dalam konteks apa. Seseorang merasa dihormati ketika mendengarnya, sedangkan orang lain justru merasa jauh karena bahasa menjadi terlalu banyak basa-basi. Sebuah ungkapan dapat membawa beban yang tidak sama bagi tiap orang yang menuturkannya. Kerja bahasa tidak hanya menyampaikan maksud, tetapi juga menjaga keseimbangan perasaan.
Ungkapan “siap” dan “mohon izin” bukan sekadar kata yang keluar otomatis. Keduanya dan beberapa ungkapan lain merupakan bagian dari koreografi sosial yang terus berubah. Ada yang memakainya dengan setia, ada yang menggantinya pelan-pelan, dan ada pula yang tidak pernah menyentuhnya sama sekali. Semua itu membentuk ragam cara mengatur jarak, menjaga muka, dan menegosiasikan rasa hormat dalam percakapan yang dinamis.
Jurnal dan Kenangan
Sabtu kemarin, ada yang terasa hilang di rumah: anak saya, Arka. Rabu lalu dia berangkat ke Kuningan, Jawa Barat, untuk mengikuti KKN kampusnya selama sebulan. Saat hari kerja, kehilangan itu tidak terlalu terasa karena ditelan kesibukan pribadi. Begitu akhir pekan, ketidakhadirannya baru terasa, dari ritual membuat kopi pagi hingga pakaian kotor yang berserakan di mana-mana. Tidak apa-apa. Ini latihan yang bagus untuk menghadapi sarang kosong.
[embed]Sarang Kosong #530: Ketika anak meninggalkan rumahivanlanin.medium.com
Tahun lalu, saya mengobrol dengan seorang kawan yang mengeluhkan sulitnya mencari pengisi waktu yang bermakna selain bersepeda. Pertemuan itu membuat saya merenungkan betapa beruntungnya kita kalau memiliki banyak hobi yang menjaga ritme hidup. Saya juga bercita-cita menumbuhkan hobi seni, tetapi yang terutama utama ialah bagaimana hobi membuat hari terasa lebih berarti daripada menggulir media sosial tanpa henti.
[embed]Banyak Hobi #713: Mencari pengisi waktu yang berartiivanlanin.medium.com
Dua tahun lalu, saya memberikan pelatihan di Sibolangit dengan ditemani Mbak Yasma dan Yu Nabila. Perjalanan yang berawal dari pekan penuh kegiatan dan berujung pada suasana teduh pegunungan itu mempertemukan kami dengan keramahan tuan rumah, hidangan hangat, serta peserta yang ingin belajar sambil berlibur. Saya merasakan betapa pelatihan dapat berubah menjadi kesempatan jeda yang menenteramkan, tetapi tetap memberi ruang bagi orang untuk meningkatkan keterampilan.
[embed]Sibolangit Belajar sambil berwisata akhir pekanivanlanin.medium.com
Ingin lebih terampil berbahasa? Kunjungi toko 🏪, ikuti kelas 👨🏫, atau hubungi 📞 Narabahasa.
메타데이터
- post_id
- fe95f958014c
- slug
- siap-mohon-izin-fe95f958014c
- url
- https://medium.com/@ivanlanin/siap-mohon-izin-fe95f958014c
- canonical_url
- https://medium.com/@ivanlanin/siap-mohon-izin-fe95f958014c
- author_url
- https://medium.com/@ivanlanin
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-14 11:05:15