← Back to list

FISIP: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik atau Fakultas Ilmu Seni dan Ilmu Pertunjukan?

Sebagai pemilik makara jingga di dada, kita tahu bahwa FISIP UI merupakan singkatan dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Meskipun…

Bara Menggema · 2025-07-20 04:39 · 0 claps · 2.6 min read
#ilmu-sosial-dan-politik #pertunjukan #fisip #kampus
Open on Medium ↗

FISIP: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik atau Fakultas Ilmu Seni dan Ilmu Pertunjukan?

Sebagai pemilik makara jingga di dada, kita tahu bahwa FISIP UI merupakan singkatan dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Meskipun demikian, kita juga mengetahui bahwa terdapat kepanjangan baru dari akronim FISIP yang berubah menjadi Fakultas Ilmu Seni dan Ilmu Pertunjukan. Perubahan ini menunjukkan terjadinya pergeseran identitas anak FISIP UI. Berdasarkan lore atau “Kisah zaman abang dulu” yang sering diceritakan beberapa alumni FISIP UI, dikisahkan bahwa di zaman mereka menjadi bagian dari Keluarga Mahasiswa dengan makara jingga, mahasiswa FISIP UI seringkali berdebat atau membahas isu sosial-politik dalam seluruh penjuru kampus jingga. Pembahasan atau perdebatan tersebut seringkali terjadi di Taman Korea (Takor), Teko (Teater Kolam), dan tongkrongan setiap jurusan. Isu yang dibahas pun beragam, mulai dari perdebatan mengenai ideologi seperti komunisme, sosialisme, liberalisme, feminisme, dan isme-isme lainnya sampai mengkritisi kebijakan-kebijakan janggal yang seringkali dikeluarkan oleh pemerintah. Selain daripada itu, mereka juga melakukan aksi-aksi turun ke jalan dan mendiskusikan bagaimana caranya melakukan perubahan untuk negara yang lebih baik.

Hari ini, suasana seperti yang dikisahkan oleh orang-orang yang mungkin disebut sebagai abang-abangan atau kakak tingkat FISIP tersebut tidak terjadi semasif dulu. Diskusi atau perdebatan mengenai isu sosial-politik mungkin masih terjadi tetapi bukan hal yang mainstream seperti dulu. Banyak hal yang mungkin mempengaruhi perubahan tersebut, seperti kebosanan atau kejenuhan membahas isu sosial-politik yang sudah menjadi bahasan di kelas, kekecewaan terhadap kenyataan sosial-politik di negara ini mulai dari aktor-aktor politik nasional sampai dengan aktor-aktor politik kampus, dan pembahasan isu sosial-politik yang seringkali menggunakan bahasa tinggi atau dalam Bahasa Jawa disebut ‘ndakik-ndakik’, sehingga, sulit dipahami oleh masyarakat umum. Seluruh alasan ini membuat perubahan atau pergeseran identitas yang terjadi di kampus makara jingga menjadi suatu hal yang wajar atau sah-sah saja.

Fakultas Ilmu Seni dan Ilmu Pertunjukan tentu merupakan kepanjangan akronim FISIP UI yang lebih menyenangkan dan mengasyikkan dibanding dengan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik yang kaku dan membosankan. Wajar saja banyak anak FISIP UI yang lebih memilih untuk bergaya skena dan kalcer serta mengikuti kegiatan-kegiatan seperti menari, bermain musik, dan bermain teater dibandingkan dengan kegiatan sosial-politik yang membahas isu sosial-politik tetapi membosankan untuk didengar serta berputar-putar tanpa ujung ataupun solusi. Mengikuti konser musik yang mengasyikkan, melihat tarian yang indah, dan menonton teater yang dramatis tentu saja lebih menyenangkan dihadiri dibandingkan dengan demonstrasi atau turun ke jalan yang panas-panasan tetapi tidak memiliki hasil berarti.

Pergeseran identitas FISIP UI yang sebelumnya Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik menjadi Fakultas Ilmu Seni dan Ilmu Pertunjukan menjadi suatu hal yang penuh dengan pro dan kontra. Terdapat mahasiswa yang sangat setuju dengan pergeseran identitas ini dan ada yang menolak, bahkan berusaha untuk mengembalikan identitas lamanya. Dinamika ini membuat penulis berkesimpulan bahwa seharusnya pergeseran identitas FISIP UI tidak seharusnya menjadi suatu permasalahan. Fenomena ini seharusnya menjadi wadah bagi sosial-politik untuk memberikan pesan-pesannya melalui seni. Pada kenyataannya, seni merupakan media untuk menyebarkan pesan-pesan sosial-politik. Hal ini terlihat dari banyak musisi seperti Bob Dylan dan John Lennon yang lagu-lagunya bermuatan untuk menghentikan perang vietnam serta mengharapkan perdamaian dunia atau musisi kontemporer seperti Feast yang mengeluarkan lagu-lagu bernuansa pergerakan dan kritik terhadap kondisi sosial-politik di Indonesia. Pelukis pun juga melakukan kritik sosial-politik seperti yang dilakukan Yos Suprapto melalui lukisannya untuk mengkritik Joko Widodo atau Teater berjudul Mastodon dan Burung Kondor yang ditulis oleh W.S Rendra yang ingin mengkritik Rezim Orde Baru melalui naskah teaternya. Oleh karena itu, dengan adanya kehadiran Fakultas Ilmu Seni dan Ilmu Pertunjukan seharusnya Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik dapat menegaskan kembali dirinya dengan cara yang lebih artistik dan melibatkan estetika.

Oleh: Anonim, via Bara Menggema (Medium, Instagram, dan X) bit.ly/LembarGempita dan linktr.ee/LembarGempita2025


메타데이터
post_id
fecb3a3e993e
slug
fisip-fakultas-ilmu-sosial-dan-ilmu-politik-atau-fakultas-ilmu-seni-dan-ilmu-pertunjukan-fecb3a3e993e
url
https://medium.com/@baramenggema/fisip-fakultas-ilmu-sosial-dan-ilmu-politik-atau-fakultas-ilmu-seni-dan-ilmu-pertunjukan-fecb3a3e993e
canonical_url
https://medium.com/@baramenggema/fisip-fakultas-ilmu-sosial-dan-ilmu-politik-atau-fakultas-ilmu-seni-dan-ilmu-pertunjukan-fecb3a3e993e
author_url
https://medium.com/@baramenggema
status
ok
fetched_at
2026-06-25 07:00:49