Darimanakah Keberagaman Setan Itu? Ketakutan
Biyano yang takut dengan setan mulai menyadari karena kisah dan makna dibaliknya sebagai wujud realitas & refleksi di kehidupan nyata.
Darimanakah Keberagaman Setan Itu? Ketakutan Menjadi Kesadaran, sebagai Refleksi Perlawanan terhadap Penindasan Gender
“Biyano..Biyano…Biyano, main yuk”, sahutan khas anak kecil mengajak bermain di pagi hari.
Sahutan teman Biyano beriringan dengan angin dari hutan bambu yang ada di belakang rumahnya.
Sekitar tahun 2005 saat Biyano masih kecil suka bermain dengan teman-temannya di sawah, kali/sungai, dan lapangan. Namun, entah pada hari itu ternyata temennya tidak mengajak bermain seperti biasanya melainkan nonton film di rumah Anwar.
“Gimana temen-temen?” jawab Biyano setelah dipanggil.
Anwar pun menjawab, “nonton film di rumahku yuk”.
“Haa? film apa?”, timpal Biyano.
“Film setan yang lagi terkenal Malam Satu Suro Suzzana, tenang di rumah ku ada Ibuku dan Mbak Ajeng (Kakaknya Anwar). Jadi aman gak usah takut kan rame-rame”, sahut Anwar.
“Duh gimana ya aku orangnya penakut”, Biyano.
“Tenang kan udah aku bilangin, ini rame-rame”, ucap Anwar.
Oke deh sambil berteriak minta izin ke Ibunya dan buru-buru memakai sandal jepit yang ada diteras.
Biyano dan teman-temannya berlarian karena penasaran dan antusias mau menonton film horor Suzzanna meskipun ada rasa takut.
Setibanya di rumah Anwar, ternyata benar sudah ramai hampir 5–7 orang sudah berkumpulan diantaranya ada Ibunya Anwar dan Mbak Ajeng.
Anwar pun tiba-tiba menepuk punggungnya, “Kan rame, gak usah khawatir dan takut. Pasti seru, sekali kali lah biar gak ke main ke kali mulu (sungai ukuran yg lebih kecil). Kita mau nonton film Malam Satu Suro, kayaknya film ini kata Ibu ku udh lama sekitar 1988 tapi sampai sekarang masih terkenal loh”.
Biyano pun mengangguk-angguk.
“Ayo duduk semuanya dan berkata Udah siap?”, ucap Ibunya Anwar.
Langsung disambut “Siap Bu!!”, ucap ramai-ramai dengan gerakan hormat
Film pun dimulai, adegan demi adegan muncul.
Film ini dibintangi oleh Suzzanna sebagai Suketi, dan Barry Prima sebagai Bram.
Cerita bermula ketika Bram, seorang pria kaya, menemukan jasad seorang perempuan bernama Suketi yang sudah lama meninggal. Karena kasihan, ia meminta bantuan seorang dukun untuk menghidupkan kembali Suketi. Ritual itu berhasil, dan Suketi hidup kembali sebagai manusia. Ia kemudian menikah dengan Bram dan hidup bahagia bersama keluarganya.
Namun, kebahagiaan itu tak berlangsung lama. Beberapa orang jahat yang ingin memanfaatkan atau mencelakai keluarganya melakukan penindasan dan kekejaman terhadap Suketi. Dalam kondisi teraniaya, ia akhirnya terbunuh, dan arwahnya bangkit dari kubur pada malam satu Suro — malam sakral dalam tradisi Jawa yang dipercaya sebagai waktu ketika dunia gaib terbuka.
Suketi yang telah menjadi sosok arwah penasaran kemudian menuntut balas kepada orang-orang yang menyebabkan kematiannya. Teror demi teror pun terjadi, hingga suasana menjadi mencekam dan tragis (Malam Satu Suro, 1988).
Biyano dan anak lainnya sudah mulai resah dan menjerit ketika pemeran setan yakni Suketi (Suzzanna) muncul.
Karena munculnya adegan bangkit dari kubur. Kuburannya terbuka sendiri di malam satu suro. Kabut, petir, dan suara tawa khas Suzanna bikin suasana benar-benar mencekam dan merinding. Ini juga momen di mana “Sundel Bolong” muncul lagi dengan wujud menyeramkan, tapi juga tragis karena dasarnya ia korban.
Sundel Bolong adalah arwah perempuan cantik yang meninggal tragis, biasanya karena diperkosa atau dikhianati. Ciri khasnya punggung berlubang besar yang ditutupi rambut panjang. Ia sering muncul di malam hari mengenakan gaun putih, menakuti atau menuntut balas terhadap orang yang berbuat jahat padanya.
“Ahh ihhh takut!!!..”, surata jeritan anak-anak Ada yg tutup pakai tangan, buku, atau tirai semuanya mulai pada ketakutan, terlebih penampakan sundel bolong yang benar-benar menakutkan.
Kurang lebih 1 jam setengah anak-anak menjerit apalagi film horor di Indonesia khas dengan jumpscare.
Anak -anak sudah mulai keringatan dan ketakutan meskipun ramai, tapi situasi saat itu menegangkan belum lagi ditambah musik.
Terdapat adegan ini paling emosional sekaligus menegangkan. Suzzana yang sudah hidup sebagai manusia, justru dikhianati dan dibunuh oleh orang-orang yang serakah, yang ingin mengambil kalung pusaka pemanggil arwah nya. — Suasananya sunyi, penuh ekspresi ketakutan, dan kamera fokus pada wajah Suzanna yang perlahan menyadari pengkhianatan itu menambahkan sensasi menyeramkan.
Bahkan Biyano juga sudah tidak kuat dan mau lari atau pulang ke rumah, namun tiba-tiba situasi di luar rumah sangat mendung dan gelap sepertinya mau hujan, akhirnya gak jadi pulang dan tetap berlanjut nonton film nya.
Suara jeritan, ketakutan, dan tawa bercampur jadi satu, adegan demi adegan muncul.
Biyano berkata, “War, setan masih ada gk?”, sambil menutup dengan buku yang ada disekitarnya.
Hahaha, takut ya? udah gak ada, aman, Jawab Anwar.
Setelah dibuka tanpa aba-aba, Suketi (Suzzanna) yang sudah jadi sundel bolong ketawa keras. “Kurang ajar kamu war, katanya gk ada ternyata malah ngagetin”, timpal Biyano.
Suara tersebut menjadikan Biyano ketakutan dan kebelet untuk buang air kecil.
“Hee aku mau kencing, siapa yang mau nemenin yuk, takut nanti ngompol disini”. ucap Biyano.
“Waduh nanti aja Biyano, bentar lagi udah mau selesai nih filmnya”, ucap Mbak Ajeng
Biyano detik demi detik sembari nunggu film selesai, sudah tidak bisa fokus lagi nonton melainkan menutup matanya dengan tangan.
Keringat mulai bermunculan karena kebelet. Namun pada akhirnya film telah usai.
“Hayooo takut ya Biyano? Noh sudah selesai, sono ke belakangan”, ucap Mbak Ajeng.
“Ahhh gak berani Mbak, temenin kmu yu War”, sambil mohon ke Anwar
“Lah kenapa? kan deket itu kamar mandi”, ucap Anwar.
“Gakpapa, takut banget abis nonton film Suzzana, rasanya kaya ada yg mengawasi apalagi kamar mandi mu gelap kan?” Biyano.
“Hmm, oke deh, yuk buruan”, jawab Anwar.
Di dalam kamar mandi Biyano sudah merasa gak enak, kok kayak sepi banget ini pasti Anwar udh pergi lagi. Tbtb perasaan ketakutan dan merasa ada yg mengawasi menjadi satu, tapi belum selesa buang air kecilnya. Tanpa disiram Biyano tbtb membuka pintu dengan keras dan lari dengan bunyi pintu, Gubrak!!!.
“Kurang ajar ya War kok aku ditinggal, bukannya nemenin”, ucap Biyano.
Tiba-tiba semua orang di ruang TV pada ketawa, hahahah.
Ibunya Anwar akhirnya menenangkan “udah-udah gk ada apa-apa, disini aman, jangan takut sama setan, harusnya setan takut pada kita. Klo seingat Ibu di alquran juga ada loh ayat kita gak perlu takut sama setan”.
Surat Ali ‘Imran ayat 175, yang artinya “Sesungguhnya mereka hanyalah setan yang menakut-nakuti (kamu) dengan teman-teman setianya. Oleh karena itu, janganlah takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku, jika kamu orang-orang mukmin”
“Kan kalian setiap sore juga ngaji di langgar (mushola di desa-desa) sama ustad, jadi jangan takut ya. Insyaallah, Allah selalu melindungi kita”, ucap Ibu sambil menenangkan.
Tiba-tiba Mbak Ajeng bilang, “betul jangan takut pada setan ya dek. Setan itu derajatnya di bawah sama manusia, dan selalu nakuti-nakuti manusia biar kita gak menjalankan perintah Allah”.
Mbak Ajeng jadi ingat dulu pas kuliah, Mbak Ajeng kan jurusan Sosiologi ngomongin tentang masyarakat dan budaya, nah pernah belajar tentang asal usul atau sejarah kehidupan manusia dan budaya setan.
Biyano dengan antusias, “Haa dari mana Mbak? bukannya setan dari kuburan? atau org yang sudah mati tapi gentayangan, gitu kan?”.
Semua orang disitu pun mulai penasaran dan antusias menunggu jawabannya Mbak Ajeng.
“Hayooo kalian kepo dan penasaran ya?”, tegas Mbak Ajeng.
Tiba-tiba Mbk Ajeng nyeletuk “Ehhh dek itu di belakang mu ada apa”, dengan nada serius.
Eh ada apa kak? langsung berhamburan keluar — anak-anak sudah tegang muka nya.
“Hahahah ketawa terbahak-bahak Mbk Ajeng sambil bilang udh-udh gk ada apa-apa tadi Mbk cuma bercanda”, Mbak Ajeng dengan nada puas.
Sini-sini duduk lagi, Mbk ajeng kasih tau ya. Jadi pas kuliah dosennya Mbak Ajeng bilang kalau sebenarnya setan atau hantu seperti kuntilanak, sundel bolong, mitos, suster ngesot, nyi roro kidul, wewe gombel dll. Itu berasal atau tercipta dari masyarakat pada zaman itu juga. Ada teori namanya Materialisme Histori dari dua tokoh namanya Karl Marx dan Freiedrich Engels.
Materialisme historis adalah teori yang dikembangkan oleh Karl Marx dan Friedrich Engels untuk menjelaskan bahwa sejarah manusia dibentuk oleh kondisi material, ekonomi, dan struktur kelas sosial. Menurut pandangan ini, cara manusia memproduksi dan menguasai alat produksi akan menentukan bentuk hubungan sosial, politik, dan budaya di suatu masyarakat. Dengan demikian, perubahan sosial dan sejarah dipahami sebagai hasil dari pertentangan antar kelas yang muncul dari ketimpangan ekonomi dan kepemilikan (Marx & Engels, 1970).
“Ha teori apa itu Mbak?”, Biyano dengan kaget.
“Jadi gini, dek,” kata Mbak Ajeng pelan. “Memang teori ini kondisinya ke ekonomi, tapi bisa mempengaruhi segala aspek kehidupan manusia selah satunya isu sosial. Hal-hal yang ada di dunia ini, dari dulu sampai sekarang, itu terbentuk karena cara orang hidup dan cara mereka saling berhubungan. Misalnya, orang yang punya banyak uang sering lebih dihormati, sementara orang miskin kadang malah diremehkan. Laki-laki dianggap unggul daripada perempuan”.
“Lalu apa hubungannya sama setan, Mbak?” tanya Biyano penasaran.
“Nah, contohnya kayak kuntilanak atau sundel bolong, itu bukan cuma cerita seram, tapi sebenarnya ada maknanya,” jelas Mbak Ajeng. “Dulu, banyak perempuan yang diperlakukan nggak adil. Mereka dianggap lemah, disakiti, bahkan nggak punya hak untuk bersuara. Setan perempuan itu sebagai simbol karena hubungan antar kelas sosial (laki-laki dengan perempuan). Nah, karena itulah muncul cerita-cerita setan perempuan yang seram. Itu seperti cara mereka ‘bicara’ bahwa dulu ada yang salah dalam memperlakukan perempuan.”
“Loh, kok bisa gitu, Mbak?” tanya Biyano lagi.
“Iya, karena dulu banyak orang menganggap perempuan itu harus selalu di bawah laki-laki,” jawab Mbak Ajeng. “Contohnya, coba kalian lihat di rumah. Siapa yang masak?”
“Ibu!” jawab anak-anak serempak.
“Siapa yang cuci baju dan piring?” tanya Mbak Ajeng lagi.
“Ibu juga!” seru Biyano. “Tapi bapak aku nggak pernah bantuin cuma kerja doang.”
“Nah, itu dia,” kata Mbak Ajeng tersenyum.
“Itulah tidak adil karena struktur kelas sosial, biasanya disebut patriarki keadaan di mana laki-laki dianggap lebih penting dari perempuan. Jadi, lewat cerita dan setan seperti sundel bolong, kita bisa belajar bahwa dulu banyak perempuan yang disakiti, dan dari situlah muncul cerita hantu perempuan yang penuh makna.”
Menurut Walby (1990), patriarki merupakan “sistem struktur dan praktik sosial di mana laki-laki mendominasi, menindas, dan mengeksploitasi perempuan.”
Tambah Mbak Ajeng, “itulah kenapa setan di Indonesia kebanyakan perempuan, dan tau gak setan kadang muncul kan yg serem-serem ya? itu sebenarnya ekspresi bentuk balas dendam atas ketidakadilan, kayak masa laki-laki punya kedudukan tinggi dan perempuan di bawahnya?”.
“Nah kalo tadi kamu lihat di film Malam Satu Suro yg kalian lihat, Suzzanna atau Suketi kan dibunuh hanya kepuasaan laki-laki, seperti kekerasan fisik dan verbal, difitnah, dijauhi masyarakat, direndahkan, bahkan dihidupkan kembali hanya cuma kepuasaan laki-laki”, ucap Mbak Ajeng dengan serius.
Penyiksaan yang dialami Suzzana itu kayak penindasan pada perempuan, suara yang ketawa-ketawa karena itu suara perempuan jarang dihargai atau didengar. Punggung yg bolong itu bentuk luka yg mendalam, bahkan bangkit dari kubur dan muka serem itu ya karena merasa gk adil dan itu bentuk perlawanan perempuan.
Anwar pun tiba-tiba memotong, “Oh jadi gitu ya Mbak, kok kasihan ya perempuan. Pantesan setan kadang muka nya serem itu karena bentuk perlawanan, oh sama tadi juga bener ya Mbak Suzana kalo ke laki-laki (pelaku) itu dendam, tapi kalo ke keluarganya baik-baik saja”.
“Betul dek”, jawab Mbak Ajeng.
Nah itulah yang adanya proses materialisme historis dan fenomena patriarki.

Gambar Suster Ngesot, Sundel Bolong — Film Malam Satu Suro, dan Kuntilanak. Sumber: Google Image
Setan perempuan seperti Kuntilanak, sundel bolong, wewe gombel, suster ngesot, dll itu sebagai simbol penderitaan dan perlawanan, menggambarkan perempuan yang disakiti, kekerasan, dikhianati, atau dipinggirkan (marginal) oleh sistem sosial karena gender. Dengan demikian, keberadaan mereka bukan sekadar kisah horor, tetapi cerminan atau refleksi dari realitas material dan sosial yang membentuk cara pandang masyarakat terhadap perempuan.
Biyano pun menyahut “Ya Allah kasihan ya Mbak perempuan sudah capek di rumah tapi ternyata ditindas, dipinggirkan, bahkan dapat ketidakadilan. Biyano jadi kasihan sama Ibu dan Mbak Biyano yg dirumah. Sekarang Biyano nnti mau bantu-bantu Ibu ah kalo dirumah”.
“Nah gitu Biyano, Aku pun insyaallah gitu ya Mbak Ajeng”, ucap Anwar, sambil ketawa kecil hehe.
Tanpa disadari hari sudah mulai siang dan langit pun sudah tidak mendung lagi, tpi tiba-tiba Ibu Anwar memberikan nasihat.
“Wah gitu ya, sekarang gak usah takut lagi sama setan selain ada Allah dan setan itu juga dibentuk oleh sejarah manusia yang tadi dijelaskan Mbak Ajeng. Ini juga bisa buat pelajaran kalian, jangan durhaka pada Ibu atau perempuan lainnya ya, harus berbakti dan menghargai perempuan”, seru Ibu Anwar.
Suara hening dan menyentuh menjadi satu serta situasi yang awalnya mencekam sekarang lebih terharu. Tapi, tiba-tiba di dapur ada suara piring jatuh.
Crakkkkk..crakkkk.
“Haa suara apa itu? Kaburrrr”, ucap Biyano.
Anak-anak pun lari berhamburan keluar dan pulang ke rumah masing-masing.
메타데이터
- post_id
- feda5c2149dc
- slug
- darimanakah-keberagaman-setan-itu-ketakutan-feda5c2149dc
- url
- https://medium.com/@bagjariyanto192/darimanakah-keberagaman-setan-itu-ketakutan-feda5c2149dc
- canonical_url
- https://medium.com/@bagjariyanto192/darimanakah-keberagaman-setan-itu-ketakutan-feda5c2149dc
- author_url
- https://medium.com/@bagjariyanto192
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-16 21:47:15