← Back to list

Klohr

Sebuah cerpen

ramsai · 2024-04-12 19:21 · 14 claps · 5.6 min read
#cerpen-fiksi #cerpen #fiksi #cerita-pendek
Open on Medium ↗

Klohr

Photo by Дмитрий Хрусталев-Григорьев on Unsplash

Photo by Дмитрий Хрусталев-Григорьев on Unsplash

Dia memakai kacamatanya dan menatapku lekat-lekat seolah memindai seluruh gurat di wajahku. Diriku seakan terhisap semakin jauh, tenggelam dalam gelap pupil matanya yang hitam pekat. Sementara bayangan diriku yang dipantulkan permukaan kacamatanya juga ikut menatapku yang tanpa sadar menangkap sosok dirinya. Lalu, dia memalingkan pandangannya dengan senyum getir. Diriku terlempar kembali, mengapung ke atas permukaan kesadaran yang dangkal. Momen itu berlangsung singkat dan intens. Kemudian memudar. Dia telah lenyap dari atas permukaan realita. Sementara benakku tak dapat menyelam lebih jauh mengejar refleksinya yang kabur ke pedalaman rimba dimensi di luar imajinasiku. Tidak ada jejak yang ditinggalkannya di masa kini, kecuali residu kesadaran dan pertanyaan yang tak mampu diolah secara instan.

Aku mengenal wajah itu, mata itu. Pernah. Dulu. Sudah lama sekali. Tapi, dia yang kukenal bukan dia yang ada di depanku tadi. Sosok asing mengenakan wajah yang kukenal. Dunia tidak membiarkan suatu hal terjadi kecuali telah memberi pertanda terlebih dahulu, bukankah begitu, wahai dunia?

Di sisi lain, ini bukan kali pertama sosok asing ini menghampiriku. Misteri, begitu aku menamainya, ya, bukankah ini berarti aku baru saja membuat diriku mengenalnya? Ya, begitulah. Hal-hal menjadi begitu absurd secara abstrak dalam domain benak. Sejauh yang bisa kutebak, Misteri tidak pernah datang menampakkan dirinya, kecuali dengan mengenakan wajah selain wajah aslinya. Dapat dimaklumi. Memang itulah esensi dari namanya: Misteri.

Sensasi rasa ganjil di momen kedatangannya kali ini bermuara pada wajah yang dipakainya. Selama ini, Misteri hanya pernah menampakkan wajah dari mereka yang telah berinteraksi denganku dalam waktu dekat. Tapi kali ini, wajah yang dijadikan tamengnya adalah milik dari seseorang yang sejauh ingatanku, terakhir kali aku melihatnya, itu terjadi setidaknya paling dekat dalam rentang waktu delapan tahun silam. Bisa kukatakan, kemampuanku mengingat wajah bukan kemampuan yang sama sekali pantas kubanggakan; aku buruk dalam hal ini. Bagaimanapun juga, waktunya sarapan telah tiba. Tidak memakan waktu lama bagi mereka untuk terdisintegrasi dari realita ketika mereka terhidang di hadapanku.

Di sisi seberang permukaan transparan kaca jendela. Kebebasan kelabu yang dipamerkan langit membuatku iri. Kuharap ini akhir pekan. Aku hanya dapat menghela napas pasrah bilamana membandingkan refleksi diriku di sisi lain permukaannya. Terpenjara dalam rumah. Tidak. Terpenjara dalam diri sendiri. Rasanya ingin bermalas-malasan di kamar seharian selagi gerimis sibuk berceloteh di luar. Ingin rasanya diriku ikut dalam perbincangan panjang mereka melalui bingkai jendela yang terbuka. Sayangnya, aku manusia yang tak paham bahasa riak air. Meskipun aku manusia yang lebih dari sanggup membuka jendela.

Biar bagaimanapun, sulit sekali menjaga kesadaran pada realita ketika ada hal-hal yang lebih menarik terjadi di bagian lain dari ruang tempatmu berada saat ini. Wajah itu selalu muncul di sela-sela celah retakan dalam interior benakku. Seakan memberi tahuku: “berikan aku atensi berintensitas tinggi” atau “jangan sekali-kali kau mengambil langkah acuh normatif”. Tapi, Aku kembali berkutat pada layar menyala yang kian mengkonsumsi jiwa, melakukan apa yang harus aku lakukan. Memberi persembahan atensi yang mereka sukai agar dapat secuil demi secuil meregangkan eratnya cekikan kalung peliharaan terkutuk yang entah mengapa selalu rela kita pakai atas kehendak sendiri. (Suatu keharusan yang tidak berasal atas kehendakku sendiri.)

Sebagai seorang budak dunia maya yang tidak mengenal lelah kecuali sebatas nama, menurutku, bagian paling menakjubkan atas kuasa tuan maya ini terletak pada bagaimana ia dapat memperbudakmu dengan membuatmu berpikir dan merasa seolah kau si tuan yang maha mampu mewujudkan apapun di dunia ini. Mungkin itu juga kenapa mayoritas manusia Anthroposen mau dengan rela hati menggunakan kehendaknya mengukir sigil budak jauh di kedalaman jantung mata dan hati mulutnya. Begitu menakjubkan melihat orang-orang di dunia nyata bisa berbangga setinggi langit bila mengenakan kalung budak dan gelang rantai yang menjuntai berbau menyengat ini. Adalah suatu kehormatan dan harga diri yang disimbolkan oleh kompleksitas pada motif sigil. Inilah tata krama dan norma sosial abad ini. Bila kau tak membiarkan dirimu berjalan bertelanjang jiwa di dunia maya, kau adalah manusia primitif. Entahlah, aku cuma merasa takjub dengan fenomena absurd yang hanya bisa disaksikan melalui bingkai jendela pikiran jernih ini. Para Neanderthal pasti bersyukur mereka telah berhasil punah.

Mayoritas kepingan diriku masih tinggal di realita. Meskipun minoritasnya memang lebih nyaman membangun rumah dalam domain imajinasi. Di sana, kami tidak perlu takut kehabisan material imajiner. Karena substansi eksistensi kami adalah bijih-bijih esensi yang direfleksikan medan cakrawala semesta imajinasi. Membuat bijih-bijih hasil refleksi tadi menjadi material yang sangat multi-fungsi. Pikirkanlah, kau dapat merekonstruksi wujud dirimu sendiri melalui perspektif orang ketiga. Daya imajinasi diperlukan untuk melakukan proses rekonstruksi sementara material imajiner berfungsi sebagaimana tanah liat untuk membuat patung.

Sebuah sentakan menarik diriku kembali ke domain pikiranku sebelumnya sempat berdomisili. Air muka sang benak yang begitu jernih. Aku mengingatmu. Bukan. Aku mengingatnya. Wajah yang kau kenakan itu adalah wajahnya. Diriku yang hidup di masa lalu. Anak kecil ber-asa tipis dan mungil dayanya. Dia yang menghabiskan hidupnya dengan berkicau dan menari-nari dalam sangkar yang menggantung di bawah jemari tangan takdir. Anak itu lahir dengan sengaja. Sebagai produk cacat yang sempurna. Sampel domestikasi takdir yang selalu bereksperimen dengan perubahan ciptaannya.

Ketidakberdayaan adalah aspek yang paling kubenci darinya. Mungkin, ini yang dinamakan riak-riak ingatan sebelum kematian yang kian memekat seiring berkurangnya waktu sekarat. Membawa pada rasa penyesalan yang akan menemani di kehidupan setelahnya. Ini ingatan anak itu. Bocah yang kehidupannya berakhir di tanganku pada suatu malam di musim gugur delapan tahun lalu. Ketika diriku yang hidup di masa kini berhasil merebut tubuhnya sebagai inang baru. Tempat untuk diriku bertumbuh dan berkembang.Dan bagaimana ini semua berkaitan? Bisa jadi, karena saat ini, aku sedang berada di rumahnya. Menggunakan bilik kamarnya untuk ditinggali sementara waktu sambil berpura-pura bersikap selayak dirinya, jika dia pernah menjadi versi dewasa. Benar juga, kenapa aku harus heran saat kau menggunakan wajahnya ketika diriku pun sedang meminjam wajah orang lain.

Penyamaran. Baik itu kau, aku, kita semua sedang menyamar. Melumuri wajah kita dengan darah dari inang yang kita habisi. Sebagai topeng untuk menipu indera pembau mereka yang mengenal mereka yang telah kita lenyapkan. Kitalah parasit masa depan bagi inang masa lalu yang hidup di masa kini.

Pada benakku, waktu seolah tak pernah berjalan dengan langkah-langkah yang selalu dapat kuikuti. Misalnya, “makan malam telah siap”, panggil diriku dari luar sana. Dia yang baru saja menyalakan lampu ruang makan dan dalam terangnya lorong rumah berjalan hati-hati membawa nampan makan malamnya. Aku si penyewa sebuah bilik di benaknya teepaksa harus keluar mengikuti ritual “makan malam”. Tanpa kami semua, dirinya takkan utuh menikmati makan malamnya.

Di perpustakaan memori. Aku menemukan satu buku. Tidak tertulis utuh. Tampaknya mataku belum menamatkan keseluruhan proses “membaca”nya. Di salah satu paragraf di buku ini tertulis: “Psychophysics reveals that consciousness does not direct most actions, but instead processes reports of them, from unconscious units that do the work.” Fundamentals oleh Frank Wilczek. Aku menemukan informasi yang mungkin berguna untuk memahami Misteri. Sebaiknya kusimpan dalam sub-benakku.

Di seberang lain dimensi waktu yang bergulir paralel. Sekuntum rasa takut bergerak mekar secara perlahan.

“Bagaimana jika aku tak cukup pandai memakai wajah ini?”

”Bagaimana jika ia bangkit kembali merebut benua subur yang telah kurenggut darinya dulu?”

”Mengapa rasa takut ini begitu pekat dan menggangguku?”

”Sudahkan aku cukup kuat untuk transformasi radikal yang kubawa pada raga ini?”

“Entah kapan kemungkinan akan pengambilan kembali dirinya itu terjadi?”

“Bagaimana relief memori miliknya dapat kubaca dalam bahasa emosinya?”

”Simbol-simbol kepribadian yang terbelakang ini tidakkah seharusnya tidak sesulit ini untuk dimengerti?”

Di momen terakhir kepudaran pertanyaan-pertanyaan di dimensi lain, sebuah suara bergema dari kedalaman abisal makam orang yang kukenal. Mengalir ke permukaan kulit jiwaku bagai bayangan matahari terbenam. “Kau tak pernah tahu.”Di dimensi liminal itu, keheningan seakan berdentang dan bergelombang oleh waktu. Ruang seolah berangsur mencerna sebelum menelan apapun yang membawa pendar asa keberanian. Cakrawala kejadian memutar-mutar diriku seperti buaya menggulung leher mangsanya hingga putus nadi beserta tulang lehernya sebelum akhirnya menelan bulat-bulat kepala jiwa tanpa raga si mangsa.

Keheningan yang tidak menyisakan waktu untuk mengubur rasa takut. Kehampaan yang tak mengizinkan kesadaran untuk mencuat. Sementara aku terhisap semakin dalam pada kekosongannya. Aku harus kembali sebelum semakin lemah. Tapi aku sudah terlalu lemah untuk kembali.

”Aku akan kembali merenggut diriku.” Terang sang Misteri. Menyingkap habis semua kegelapan yang menyelimutiku.

Dan ketika dia telah menyelesaikan inkarnasinya, maka lahirlah diri ini dari deburan debu absurditas yang dimuntahkan rahim singularitas. Kami pulang ke tanah yang pernah kami lepaskan. Ranah kuno itu, ialah garis tiada terjamah yang mengiris panjang cakrawala masa depan. Samudera liminal di dunia yang tiada bersudut. Benua supernatural realita yang tiada bercelah. Di mana bulir kerikil jiwa tiada bergerak. Namun bersinkronisasi melalui resonansi harmonis simfoni kehendak segalanya. Pendar kunang-kunang yang melayang mengalir di antara pepohonan rimbun taman firdaus di tepian jurang abisal maha-gelap. Realita untuk portrait holistik dari: aku yang ada.


메타데이터
post_id
fedfafa409a0
slug
klohr-fedfafa409a0
url
https://medium.com/@meramsai/klohr-fedfafa409a0
canonical_url
https://medium.com/@meramsai/klohr-fedfafa409a0
author_url
https://medium.com/@meramsai
status
ok
fetched_at
2026-07-11 12:36:03