hoshi found out #02: Kenapa Bekasi Jadi Kota Paling Berancun Kedua di Dunia?
Setiap hari, dari bangun tidur sampai tidur lagi kegiatannya cuma hirup gas beracun? Mungkin itu yang dirasain orang Bekasi sehari-hari.
hoshi found out #02: Kenapa Bekasi Jadi Kota Paling Berancun Kedua di Dunia?

https://id.pinterest.com/pin/837106649481734107/
Setiap hari, dari bangun tidur sampai tidur lagi kegiatannya cuma hirup gas beracun? Mungkin itu yang dirasain orang Bekasi sehari-hari.
Ada gas beracun apa sih di Bekasi?
Gas beracun yang ada di udara kota Bekasi itu namanya gas metana. Gas metana (CH4) adalah gas tak berwarna, tak berbau, dan sangat mudah terbakar, yang biasanya menjadi komponen utama gas alam. Gas metana bukan sembarang gas, gas ini jauh lebih berbahaya dari gas karbon dioksida (C02) karena memiliki daya ikat panas 25 hingga 80 kali lebih besar. Saking bahayanya, gas ini memiliki dampak yang besar dalam peningkatan pemanasan global. Jadi, salah satu alasan kenapa semakin hari semakin panas, itu bisa sebabkan karena banyaknya gas metana di udara.
Darimana sih gas metana bisa terbentuk?
Gas metana itu bisa terbentuk secara alami di rawa-rawa atau di lahan basah. Tapi nggak dipungkiri juga kalau gas ini bisa hadir dari serangkaian aktivitas manusia, misalkan dari hasil industri bahan bakar fosil, aktivitas peternakan (sendawa/kotoran sapi), hingga hasil pengolahan limbah atau sampah.
Terus kenapa bisa ada banyak gas metana di udara Kota Bekasi?
Seperti yang dijelaskan sebelumnya kalau salah satu sumber gas metana adalah tempat pembuangan sampah. Nah, di Bekasi tepatnya di Kecamatan Bantargebang, terdapat salah satu tempat pembuangan sampah terbesar di Indonesia, yang biasa dikenal sebagai Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang. Tempat dengan luas mencapai 110,3 hektar ini menjadi area pengolahan sampah harian dari wilayah DKI Jakarta.
Berdasarkan laporan tim riset dari Emmet Institute di University of California Los Angeles (UCLA), merujuk pada data Carbon Mapper yang berasal dari satelit milik Planet Labs dan stasiun ruang angkasa NASA, gas metana yang dihasilkan oleh TPST Bantargebang menjadikan kota Bekasi sebagai penghasil gas metana terbesar kedua di dunia karena kawasan ini bisa menghasilkan 6,3 ton gas metana per jam. Kalau satu sapi bisa menghasilkan 0,009–0,013 kg gas metana per jam, maka dibutuhkan sekitar 460.000 hingga 690.000 ekor sapi untuk setara dengan produksi gas metana di TPST per jam. Ini mah satu Indonesia bisa mabok sapi.
Lalu, sebagai tempat akhir dari sampah-sampah DKI Jakarta, setiap harinya TPST Bantargebang bisa kedatangan 7.300 hingga 9.000 ton sampah yang bikin tempat ini jadi sarang utama gas metana. Kondisi yang terus terjadi selama bertahun-tahun ini, bikin sampah yang menumpuk sudah mencapai 55 juta ton. Kebanyakan sampah di Bantargebang termasuk ke dalam jenis sampah organik, mencapai 43% hingga 50% dari total volume harian. Banyak bangetkan?
Bagaimana sejarah lahirnya TPST Bantargebang hingga saat ini?
Jadi sejak tahun 1978, daerah Bantargebang itu dijadikan sebagai sumber utama penghasil material tanah yang akan digunakan untuk berbagai proyek pembangunan di Jakarta, salah satunya untuk pembangunan Kelapa Gading di Jakarta Utara. Lalu karena sering dikerok, akhirnya pemerintah Jakarta — pada tahun 1985-an — mulai kepikiran untuk mengubah fungsi kawasan Bantargebang, yang awalnya jadi tempat pengambilan material tanah, menjadi tempat pembuangan sampah untuk wilayah Jakarta. Lalu, diusulkanlah ide tersebut kepada Bupati Bekasi pada saat itu. Setelah melalui berbagai kajian dan pemikiran yang matang, akhirnya pemerintah menetapkan Bantargebang sebagai lokasi pembuangan sampah regional.
Pengelolaan kawasan TPST Bantargebang diserahkan kepada Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dengan sistem sanitary landfill untuk jangka waktu 15 tahun. Sistem sanitary landfill itu pengelolaan sampah dengan cara menimbun sampah di area cekung yang telah dilapisi sistem pengaman, kemudian dipadatkan dan ditutup dengan tanah setiap harinya. Sistem ini lebih aman dibandingkan dengan sistem open dumping, sistem pengelolaan dimana sampah hanya dibuang begitu saja. Sistem sanitary landfill lebih bagus untuk diterapkan karena mengisolasi sampah agar tidak mencemari tanah, air, udara, serta melindungi dari resiko kebakaran.
Sayang seribu sayang, keberhasilan sistem ini belum sepenuhnya optimal karena bebas sampah yang datang dari Jakarta melampaui kapasitas desainnya. Pemerintah kesulitan untuk melakukan penutupan lapisan tanah pada sampah. Hal ini yang mengakibatkan tumpukan sampah di TPST Bantargebang sudah menggunung hingga setinggi 50 meter (setara gedung 16 lantai). Gedung di daerah Sudirman juga kalah tinggi dibandingkan sampah Bantargebang.
Apa solusi yang dilakukan pemerintah?
Masalah sampah ini sudah pasti menjadi permasalahan yang harus diselesaikan pemerintah. Saat ini, pemerintah sudah membangun fasilitas Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL) TPST Bantargebang. PSEL ini dibangun sebagai penanganan cepat dari darurat sampah di Bantargebang menjadi negara listrik. Jadi, sampah-sampah yang menumpuk tersebut dikerok dan dibawa ke PSEL untuk nantinya diolah menjadi sumber listrik.
Selain itu, pemerintah juga mulai menerapkan kebijakan pembatasan sampah per Agustus 2026. Kebijakan ini menyatakan bahwa mulai tanggal 1 Agustus 2026, TPST Bantargebang hanya akan menerima sampah residu, sampah yang benar-benar sudah tidak bisa diolah, didaur ulang, atau bahkan dikomposkan. Kebijakan ini dilakukan supaya timbunan harian sampah bisa turun secara drastis, mengingat bahwa 43% — 50% sampah di Batargebang kebanyakan sampah organik.
Kalau solusi yang diberikan warga?
Nah, sebagai makhluk hidup yang nggak mungkin nggak menghasilkan sampah setiap harinya. Ada beberapa hal yang bisa dilakukan untuk mengurangi penumpukkan sampah, yaitu:
- Wajib memilah sampah dari sumbernya. Dengan kondisi ini, warga diminta membagi sampah minimal menjadi 4 kategori: organik, daur ulang, B3, dan residu.
- Wajib mengelola sampah organik di rumah. Mengolah sampah organik di rumah memiliki dampak yang besar dalam mengurangi tumpukan sampah di TPST Bantargebang karena hampir 50% sampah di Batargerbang adalah sampah organik.
- Melakukan gerakan zero waste atau gaya hidup minim sampah. Mulai dari langkah kecil terlebih dahulu, seperti mengurangi penggunaan plastik hingga nantinya terbiasa untuk benar-benar bisa hidup tanpa sampah.
Referensi:
Defitri, M. (2022, September 27). Sanitary Landfill : Pengertian, Metode, Keuntungan dan Kerugiannya. Waste4Change.com.
Firmansyah, M. (2026, February 9). Bantargebang kritis, sampah Jakarta tembus 7.300 ton per hari. Kompas.Com.
Koran Indopos. (2026, May 7). Bekasi Kota Beracun Kedua di Dunia, Hasilkan 6,3 Ton Emisi Metana. Indopos.
PGN LNG. (2024, January 26). Memahami Sifat Gas Metana dan Signifikansinya. PGN LNG.
Saputra, R. (2026, May 7). Bekasi Jadi Kota Beracun Kedua di Dunia, Emisi Metana Capai 6,3 Ton Per Jam. Popmama.com.
Tifani. (2026, May 6). Sejarah TPST Bantargebang Penghasil Gas Metana Terbesar Kedua di Dunia. Katadata.
메타데이터
- post_id
- fef1db469c07
- slug
- hoshi-found-out-02-kenapa-bekasi-jadi-kota-paling-berancun-kedua-di-dunia-fef1db469c07
- url
- https://medium.com/@hoshifikom/hoshi-found-out-02-kenapa-bekasi-jadi-kota-paling-berancun-kedua-di-dunia-fef1db469c07
- canonical_url
- https://medium.com/@hoshifikom/hoshi-found-out-02-kenapa-bekasi-jadi-kota-paling-berancun-kedua-di-dunia-fef1db469c07
- author_url
- https://medium.com/@hoshifikom
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-21 17:12:46