Not So Enchanting Back Story
We wouldn’t admit that we were done.
Not So Enchanting Back Story
We wouldn’t admit that we were done.

Adeline dan Sylus pertama kali bertemu ketika Adeline baru saja bergabung dalam Onyc Corporation, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang konsultan bisnis, dan berada di bawah naungan jaringan bisnis multinasional keluarga Abhipraya. Founder dari Onyc sendiri merupakan Harriet Abhipraya, konglomerat generasi ketiga yang juga cucu laki-laki pertama dari Atma Abhipraya, sang kakek.
Mari kita mulai dengan Adeline Mauri. Adel, Addie, Mau, Auri, kamu bisa memanggilnya dengan sederet nama panggilan itu, adalah adis berusia dua puluh sembilan tahun jebolan JP Morgan yang juga merupakan teman satu kampus Harriet semasa sarjana. Adeline akhirnya bergabung dalam ONCO (sebutan singkat Onyc Corporation) setelah menyelesaikan studi pascasarjananya dalam salah satu Ivy League: Yale.
Tiba-tiba saja, di suatu sore, ketika gadis itu baru saja menyelesaikan diskusi perihal tesis miliknya dengan sang profesor, Adeline bertemu dengan Harriet yang tengah mengunjungi kelulusan sepupunya di Yale. Obrolan keduanya mengalir begitu saja, dan Harriet menawarinya untuk bergabung dengannya dalam ONCO. Harriet dan Adeline memang masih terhubung melalui LinkedIn, dan Harriet tahu bagaimana Adeline membangun kariernya sebelum memutuskan untuk mundur dari pososoinya dan melanjutkan pendidikan pascasarjana di Yale.
“I can make you the VP of ONCO. Business Strategy. Gimana? I know JPM might keep their eyes on you karena ngga mungkin mereka rela ngelepas salah satu most-sophisticated talent-nya gitu aja. Yale is an excuse, of course, but I heard Maya still trying to keep in touch with you, no?”
Adeline tersenyum seraya mengeratkan syal yang tengah melingkari lehernya. It was fall, dan tubuh Adeline tidak pernah bisa bersahabat dengan udara di penghujung musim gugur New York. Alasan kedua ia tersenyum adalah karena nama Maya yang begitu saja tersebut dari mulut Harriet. Bosnya di JP Morgan itu memang masih terus berusaha menghubunginya, menawari dirinya jabatan yang dua tingkat lebih tinggi dari jabatan sebelumnya agar ia bersedia kembali bergabung dalam JP Morgan setelah kelulusannya dari Yale.
“That’s tempting, Har. But I need to know what you can bring into the table. JPM offered me as much, and I want to know if ONCO would propose me with more than just a salary raise and a throne to own.”
Harriet tertawa. Butuh waktu sekitar empat puluh menit bagi keduanya berdiskusi sebelum Adeline akhirnya menjabat tangan Harriet dengan sebuah anggukan di kepalanya, juga selengkung senyuman yang menghiasi bibirnya. Gadis itu akhirnya setuju untuk menjadi bagian dari ONCO.
—
Sylus Abhipraya. Laki-laki berusia tiga puluh empat tahun yang merupakan sepupu dari Harriet Abhipraya itu terkenal dingin dan tak banyak bicara. Namun, seperti halnya Harriet, Sylus memiliki pivotal role dalam ONCO. Selain menjabat sebagai wakil direktur, Sylus juga terkenal memiliki track record tak main-main sebelum terjun untuk membangun kerajaan bisnis keluarga besarnya. Boston Consulting Group, Deloitte, dan PwC. We don’t need further explanation, do we? Oh, dan jika Adeline merupakan lulusan Yale, maka Sylus adalah lulusan University of Manchester. Meski keduanya sama-sama menempuh sarjana di salah satu universitas bergengsi dalam negeri.
Butuh waktu sekitar sebelas tahun sebelum Sylus benar-benar melepaskan kariernya dalam bidang konsultan dan bergabung dalam ONCO sebagai Vice President dari departemen Risk & Compliance. Sejak bergabungnya Sylus dalam ONCO, seperti magnet, laki-laki itu berhasil menarik banyak eks-kliennya untuk menjadi klien bagi ONCO. Koneksi yang dimiliki laki-laki itu juga membuat revenue ONCO meroket tajam dalam kurun waktu tiga tahun, menempatkan ONCO dalam posisi keenam dalam jajaran perusahaan konsultan di Indonesia.
“I found Lisbeth’s replacement when I visited Yale.”
Sylus yang tengah dengan khidmat menatap monitor di hadapannya, hanya melirik Harriet sekilas.
“Thought you would find a woman there.”
“She is a woman, okay. Temen gue waktu kuliah.”
Sylus mulai tertarik. Ia melepaskan kacamata miliknya sebelum menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi.
“Lo nggak lagi punya rencana aneh, ‘kan, Har?” tanya Sylus skeptis.
“No. Instead, I want to warn you, Sy,” Harriet menumpukan kedua tangannya pada tepian meja kerja Sylus.
“Jangan bikin Adeline resign kaya Lisbeth. Stop being so stiff over someone. You didn’t question their decision because you were unsure, but instead, you were testing their patience. And their grit. Itu nggak sehat, tahu?”
Sylus memutar bola matanya, “Fine. Tapi kalau dia ended up nggak betah juga kaya Lisbeth, jangan salahin gue.”
“You jerk. Gue tahu culture di perusahaan-perusahaan lama lo itu kaya neraka. Don’t bring it here. ONCO bukan BCG, bukan Deloitte, dan bukan PwC. Nail it inside your head.”
“Fine, Mr. President.”
“Bener ya. I acquire her dengan cost yang ngga main-main. Kalau sampai lu hancurin mahakarya gue, gue aduin ke opa biar lu dicoret dari posisi sekarang.”
“Coret aja. Gue ngga kerja tujuh turunan juga tetep aja ngalir itu duit,” sahut Sylus enteng.
“I swear to God, Sylus!”
Sylus hanya mengangkat satu sudut bibirnya sebelum memamerkan deretan giginya yang rapi. Membuat Harriet kesal adalah salah satu hobinya, karena sepupunya itu selalu berhasil membuatnya merasa terhibur di tengah tekanan pekerjaan yang seringkali membuatnya menggila. Lisbeth out, Adeline in. Sylus rasanya tidak sabar bertemu dengan si VP baru departemen Business Strategy itu.
—
Pertemuan pertama antara Sylus dan Adeline benar-benar tidak berjalan dengan baik. Satu jam setelah saling memperkenalkan diri, Sylus dan Adeline mulai berdebat dalam meeting mingguan yang melibatkan ring satu jajaran pengampu jabatan di ONCO. Adeline yang sejatinya diminta melakukan presentasi atas rencananya dalam satu kuartal bagi departemen yang ia naungi, harus menghadapi Sylus yang membombardirnya dengan rentetan pertanyaan menohok. Gadis itu bisa merasakan tekanan darahnya naik secara tiba-tiba, namun ia tetap berusaha terlihat tenang.
Adeline mengira, mungkin kala itu Sylus memang sedang tak dalam mood yang baik. Namun, meski satu kuartal telah berlalu, Sylus sepertinya sama sekali tak berniat untuk memperbaiki situasi. Keduanya bahkan tak segan untuk saling mengabaikan ketika berada dalam satu lift yang sama, atau hanya berpapasan di selasar kantor mereka.
Dan jika mereka berada di dalam meeting yang sama, semua orang seolah harus benar-benar mempersiapkan telinga mereka untuk mendengar perdebatan tanpa akhir antara wakil direktur dan VP Business Strategy itu. Perdebatan tanpa akhir yang hampir selalu ditutup dengan konklusi sepihak dari Harriet yang pada akhirnya mengambil posisi sebagai penengah.
Baik Sylus dan Adeline sama-sama berpikir bahwa the other party itu menyebalkan. Suka membuat masalah, dan menimbulkan perdebatan yang sebetulnya mungkin bisa dibicarakan tanpa emotional pressure. Hampir semua orang di ONCO tahu bahwa Sylus dan Adeline selalu berada dalam sisi yang berbeda. Keduanya adalah rival. Dan tak ada satu pun di antara mereka yang akan mengalah sebelum berhasil membunuh lawan.
Adeline yang selalu punya ide-ide brilian, dan Sylus yang akan mempertanyakan semua ide itu hingga titik darah penghabisan. Sylus yang selalu punya pandangan visioner tentang keberlangsungan perusahaan, dan Adelyn yang selalu memberikan pertimbangan dengan arah yang bertolak belakang.
Setidaknya, itu adalah yang mereka tunjukkan di ranah publik. Hingga kuartal kedua sejak Adeline bergabung dalam ONCO, sebuah momen mengubah relasi antara kedua rival itu menjadi sebuah relasi yang kompleks. Entah bagaimana, keduanya berakhir menghabiskan malam bersama setelah perhelatan akbar ulang tahun ONCO yang ke delapan.
Tidak ada yang mengingat secara pasti bagaimana Sylus dan Adeline memasuki kamar sang wakil direktur yang berada di lantai 11 Ayana Midplaza. Namun, samar dalam ingatan keduanya, bagaimana Sylus membawa Adeline dalam rengkuhan, menaiki hotel tempat perhelatan itu digelar, dan dengan begitu perlahan menidurkan tubuh gadis itu pada tempat tidur berukuran besar dalam kamar suite yang berada di bawah namanya untuk tiga hari berikutnya.
Terakhir, bagaimana Adeline menarik tengkuk laki-laki itu sebelum sisa ingatan keduanya benar-benar menghambur dalam memori kelabu yang tak sanggup mereka susun dengan runtut.
Dan satu kalimat yang terus berputar dalam kepala, “Who knows we’ll be screaming each other’s name in pleasure while we argued like we were on the war zone during working hours?”
Sial. Adeline merutuk dalam hati.
“Karena kita sudah sama-sama dewasa, sebaiknya kita anggap apa yang baru saja kita lalui itu bukan apa-apa, Sylus.”
Adeline berkata dengan nada datar seraya mengancingkan kemejanya yang telah kehilangan kancing pertama dan kedua, entah ke mana. Ia merapikan rambutnya tanpa melirik Sylus yang masih bersandar pada headboard tempat tidur seraya menelusuri tablet miliknya, setengah telanjang.
“Ngga ada kata selesai, Adeline. Instead, it’s the beginning.”
Sylus berkata dengan singkat seraya meletakkan tabletnya, lantas berjalan menuju Adeline yang masih berada di dalam kamar mandi dengan pintu terbuka.
“It was my first. Don’t you think you shall take responsibility?”
Sylus membungkukkan tubuhnya agar kepalanya sejajar dengan gadis itu, lalu menatap Adeline dengan tatapan yang sulit diartikan. Gadis itu menghentikan gestur tubuh, beralih menatap Sylus dengan tatapan tidak percaya.
“You are five years older than me. Don’t tell me you still have zero body count despite having such a face, and body.”
“What kind of face and body, Sweetie?”
Adeline menahan napas.
“Lupakan. Saya nggak berniat ya, jadi teman tidur kamu atau apa pun itu. Oke, saya minta maaf karena saya yang tarik kamu buat ciuman semalam. And the rest of it, I think we shall blame the alcohol? Dan… dan… terbawa suasana. Ya, that must be the reason. Saya kebanyakan minum. Oh, ayolah. Kamu benci saya, ‘kan? Saya akan hengkang dari Onyc Corporation setelah ini dan kita lupakan semua, bagaimana?”
Sylus terlihat terkejut. Ia mengerjap beberapa kali sebelum tertawa rendah.
“Saya nggak tertarik sama permintaan maaf atau keinginan kamu buat keluar dari ONCO, Adeline,” Sylus merentangkan sebelah tangan, meraih rambut Adeline yang tergerai, lantas menariknya.
Ia mengecup ujung rambut gadis itu, “Be my friend with benefit. Or friend within business, in our case? Of course, the word ‘friend’ is in italic. We can keep it lowkey. You can come at me anytime, and vice versa. I need to taste you more, because it was heaven for me.”
Adeline memiringkan kepalanya, “You’re being clingy, you know? Stop this nonsense. I’m leaving ONCO.”
Adeline baru saja akan menepis tangan Sylus dari rambutnya ketika sang wakil direktur menarik pergelangan tangannya dan mendudukkan gadis itu di meja wastafel yang berada di dalam kamar mandi. Sylus lalu mengangkat kedua tangan Adeline ke atas dan menguncinya dalam satu genggaman.
“Then may I ask your consent for a kiss? I promise this is the last.”
Sylus membisikkan kata-kata itu di samping telinga Adeline, membuat gadis itu meremang. Adeline merasakan lututnya lemas seketika. Seolah ia dengan sukarela bertekuk lutut ketika mendengar suara Sylus memasuki ruang dengarnya. Gadis itu perlahan mengangguk.
Tak butuh waktu dua detik hingga Sylus menghapus sisa jarak yang berada di antara keduanya, dan menghujani Adeline dengan kecupan-kecupan memabukkan. Sebelah tangannya yang bebas lantas menjelajahi lekuk tubuh gadis itu, sebelum melingkari pinggangnya dan menahan tubuh Adeline agar tak menjauh darinya.
Kedua kaki gadis itu melingkari pinggul Sylus, sedang ia berusaha mengimbangi ciuman Sylus yang mulai memburu. Dibiarkannya cumbuan itu mengikis habis sisa udara yang berada dalam paru-parunya, mengingatkannya akan kepingan-kepingan memori yang pudar, perihal bagaimana Sylus mengeksplor tubuhnya pada malam sebelumnya.
Hingga akhirnya kedua insan itu terengah, dan dengan tak rela, saling menarik diri. Wajah keduanya memerah, dan mereka tak melepaskan tatapan mata yang secara natural tertaut begitu jarak kembali tercipta di antara keduanya. Sylus akhirnya kembali menautkan bibir mereka untuk memberikan dua kecupan sebelum melepas genggaman tangannya pada pergelangan tangan Adeline. Sebagai gantinya, ia menumpukan kedua tangannya pada pinggiran meja wastafe.
“You know what, Sylus? I will take my words back. Let’s do that. The friends within business things. I want you.”
Sylus, yang sama sekali tak menyangka akan apa yang dikatakan Adeline, memandang gadis itu dengan tatapan penuh tanya.
“Are you sure, Adeline?”
“Mm. I won’t say it twice.”
“Cool. Then everything is settled.”
“Under two conditions,” jemari Adeline membentuk angka dua.
“Say it. We’ll do it prone to your conditions.”
“First, it must be done under consent of both parties. Nggak ada maksa. Second, we will keep it lowkey. Nothing will change except us being each other’s pleasure, alright?”
“You have my words, Sweetie.”
“Good boy,” sebelah tangan Adeline terulur untuk mengusap puncak kepala Sylus.
“I’m not-”
Sebelum Sylus berhasil memberikan sanggahan atas pujian yang diberikan Adeline, gadis itu terlebih dulu mengusap ujung bibir sang wakil direktur dan memberikan seulas senyum tipis yang sanggup membuat Sylus terpana.
“Now, do you mind to remind me again about what I’ve missed? I can’t seem to remember correctly about what we did last night. I think I might as well spend the weekend with you, right, Sylus?”
“Your wish is my command, My Lady.”
Adeline berujung mengacaukan rencana akhir pekannya sendiri dan memilih untuk tetap bersama Sylus sepanjang hari. Ia tidak mengerti bagaimana ia bisa seolah kehilangan akal sehat setelah menghabiskan satu malam bersama laki-laki itu. Oh, dan sepertinya Adeline melewatkan peraturan tambahan, serta krusial, yang mungkin memiliki akibat fatal. Peraturan untuk tidak saling tertarik dalam konteks romansa.
—
written by S. Aillard. [X: ofthelore]
메타데이터
- post_id
- fef9287a447f
- slug
- not-so-enchanting-back-story-fef9287a447f
- url
- https://medium.com/@ofthelore/not-so-enchanting-back-story-fef9287a447f
- canonical_url
- https://medium.com/@ofthelore/not-so-enchanting-back-story-fef9287a447f
- author_url
- https://medium.com/@ofthelore
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-22 16:23:41