Akhirnya Laskar Mataram Naik Kasta
Langit tampak mendung pada Senin (17/2) siang. Tidak lama kemudian, air hujan turun membasahi Kota Yogyakarta. Hari itu merupakan hari…
Akhirnya Laskar Mataram Naik Kasta

Sumber Gambar: https://www.instagram.com/saldyamiruddin?igsh=MTJ2ZzA4NWNyanRneQ==
Langit tampak mendung pada Senin (17/2) siang. Tidak lama kemudian, air hujan turun membasahi Kota Yogyakarta. Hari itu merupakan hari yang membuat sebagian penduduk Yogyakarta deg-degan sebab ada pertandingan PSIM Yogyakarta melawan PSPS Pekanbaru untuk merebut 1 tiket promosi otomatis yang tersisa. Tak ayal, aku pun juga sedikit cemas dan khawatir jika PSIM gagal promosi untuk kesekian kali.
Skenario PSIM untuk promosi sebenarnya lebih mudah. "Laskar Mataram" hanya perlu bermain imbang atau kalah dengan selisih gol 1, mengingat pernah menang 1-0 di Riau. Sementara PSPS harus menang dengan selisih minimal 2 gol. Walaupun begitu, PSPS bukanlah tim yang mudah dikalahkan.
Untuk laga mahapenting ini, aku sebenarnya berniat nonton langsung di Mandala Krida. Sayangnya, tiket keburu habis meski sudah menunggu selama 4 jam. Bahkan ada pendukung (fan) yang dua hari antri tiket, tetapi pulang dengan rasa kecewa dan sesal. Untungnya laga ini disiarkan Vidio, jadi aku bisa nonton bersama pakdhe.
Pertandingan yang Mendebarkan
Hujan yang turun sebelumnya ternyata berlanjut hingga pertandingan berlangsung. Sesaat setelah wasit meniup peluit, PSPS langsung menekan. Serangan demi serangan dilancarkan ke pertahanan PSIM. Di lain sisi, tuan rumah mengandalkan kedua sisi sayap untuk membuka ruang. Ketika PSPS kembali menyerang atau pemain PSIM membuat kesalahan, rasa cemasku muncul lagi.
Untungnya, pada menit 11 PSIM berhasil leading lewat tendangan penalti ala panenka dari Raffinha. Tentu ini menjadi lecutan semangat. Setidaknya meringankan langkah untuk 79 menit ke depan.
Jual beli serangan terus terjadi di kedua kubu. Hingga di suatu ketika, PSPS harus bermain dengan 10 pemain setalah salah satu pemainnya diganjar kartu merah. Pukulan telak bagi tim tamu. Dengan demikian, mereka mesti menyeimbangkan pola serangan dan bertahan dengan baik.
Di luar dugaan, PSPS berhasil menyamakan skor pada menit 36 oleh Ilham Fathoni via titik putih. Meski arah bola dapat dibaca oleh Harlan Suardi, tapi aliran bola lebih dulu menembus jaring. Aku sempat menyesalkan kenapa pemain PSIM malah membuat kesalahan di kotak penalti. Skor imbang menutup paruh pertama.
Memasuki paruh kedua, intensitas serangan masih tetap sama. Beberapa peluang tercipta. Namun, belum ada satu pun yang mengubah papan skor. Mungkin diakibatkan juga oleh lapangan yang licin akibat hujan.
Pada menit-menit akhir, nampak PSPS yang semakin gencar memberikan serangan. Tapi segala upaya menemui jalan buntu. Justru PSIM yang kembali unggul. Sontekan Roken Tampubolon sanggup merobek jala yang dijaga Rudi N. Rajak menit 86. Sontak, aku langsung bersorak, "Gol, Mbah!" ke arah mbah putri--yang ikut nonton pada paruh kedua--meski sepertinya tak tahu tim mana yang bertanding. Tak apalah.
Asa PSPS untuk meraih kemenangan seketika semakin sulit sebab hampir mustahil mencetak 3 gol dalam waktu 3 menit waktu normal. Itu pun harus menembus pertahanan PSIM yang kian rapat, bahkan ada 5 bek, setelah Rendra Teddy masuk menggantikan Sheva. Lalu, wasit memberikan additional time 3 menit. Tapi, apa daya, PSPS tetap saja gagal mencuri gol.
Kepastian promosi didapat PSIM selepas peluit panjang ditiup oleh sang pengadil pertandingan. Rasa haru dan senang terpancar dari kubu PSIM. Bahkan Irvan Yunus Mofu membawa giant flag suporter dari pinggir ke tengah lapangan sambil berlari. Setelah itu, dia mengibarkannya dengan penuh rasa bangga.
Jika sebelumnya banyak pendukung PSIM yang gagal mendapatkan tiket dan harus puas "hanya mendapat hikmahnya". Maka pada 17 Februari 2025, para pendukung benar-benar mengetahui "hikmah terselubung", yakni PSIM sukses promosi. Mandala Krida bergemuruh. Pendukung larut dalam haru suka cita.
Selebrasi Fan
Para fan PSIM telah menunggu selama 18 tahun, cukup lama memang. Kurasa ini menjadi jalan yang penuh kesabaran. Masa tunggu akhirnya usai juga. Sekarang kita bisa tersenyum bahagia ketika tim kebanggan bisa promosi.
Lautan pendukung PSIM mula-mula terkonsentrasi di Mandala Krida. Laiknya air bah, ribuan massa kemudian membanjiri Tugu dan sekitarnya. Epinsentrum kota penuh dengan jersey dan bendera biru. Kembang api yang dinyalakan semakin membuat meriah. Bahkan, ada segelintir fan PSS yang bergabung.
Di lain sisi, kerumunan pendukung "Laskar Mataram" membuat arus lalu lintas tersendat, bahkan bisa dikatakan mati total. Bagi sebagian pihak, ada yang kesal karena jalan diblokir. Itu wajar. Tapi, mereka harus paham bahwa inilah cara pendukung PSIM merayakan pencapain yang tertunda. Toh ini hanya terjadi sekali selama 18 tahun. Momen yang langka. Kita perlu merayakan apa yang semestinya dirayakan!
메타데이터
- post_id
- feffc715b87f
- slug
- akhirnya-laskar-mataram-naik-kasta-feffc715b87f
- url
- https://medium.com/@yogahanindyatama/akhirnya-laskar-mataram-naik-kasta-feffc715b87f
- canonical_url
- https://medium.com/@yogahanindyatama/akhirnya-laskar-mataram-naik-kasta-feffc715b87f
- author_url
- https://medium.com/@yogahanindyatama
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-20 21:45:43