← Back to list

Aku Hampir Punya Buku Itu

Buku-buku itu sekarang dikuasai oleh belenggu tipis bernama kapitalis.

cimy · 2026-04-12 12:37 · 0 claps · 2.5 min read
#perpusnas #curhat
Open on Medium ↗

Aku Hampir Punya Buku Itu

Buku-buku itu sekarang dikuasai oleh belenggu tipis bernama kapitalis.

Sumber: istock

Sumber: istock

Buku pernah jadi barang mewah dalam hidupku. Waktu itu harganya cuma lima belas ribu — yang aku ingat sampai sekarang karena sering aku bolak-balik lihat labelnya, berharap angkanya bisa berubah kalau aku cukup lama menatapnya.

Tapi, ternyata angka tidak punya perasaan. Dia tidak kasihan.

Aku juga pernah menghitung uangku berkali-kali, mungkin kalau aku menghitungnya dengan cara yang berbeda, jumlahnya bisa bertambah.

Tapi, hasilnya selalu sama. Kurang!

Akhirnya, aku cuma melihat bukunya dari jauh. Aku tidak membelinya, tapi aku sudah sempat menyukainya … dan ternyata itu tidak cukup.

Waktu SD, aku pernah diajak ke perpustakaan. Aku tidak tahu kenapa tempat itu terasa berbeda padahal isinya cuma buku juga. Tapi, yang aku tahu, rasanya seperti semua buku di sana tidak sedang dijual.

“Surga,” pikirku.

Karena di sana, aku tidak perlu jadi cukup dulu untuk bisa membaca. Aku bisa langsung ambil, langsung buka, langsung tahu — aku suka itu.

Aku jadi berharap sekolahku punya perpustakaan yang isinya bukan cuma buku pelajaran! Buku pelajaran rasanya seperti makanan yang harus aku makan, bukan yang ingin aku makan. Aku mau buku yang bisa dipilih seperti memilih permen di toples warung belakang rumahku.

Tapi, perpustakaan itu datang terlambat, dia baru muncul setelah aku pergi. Aku sempat kesal, sangat! Tapi, kesalnya kecil, soalnya aku sudah kebiasaan tidak kebagian.

Sekarang, katanya membaca jadi lebih mudah. Ada aplikasi, ada buku digital — semua orang bilang aku bisa baca apa saja — dan aku percaya.

Aku pilih satu buku, lalu aku pencet. Tapi, ternyata aku tidak bisa langsung masuk. Aku harus.. antri? Aku tidak terlalu mengerti kenapa membaca harus antri.

Bukunya tidak berkurang, kan? Tulisan di dalamnya juga tidak habis kalau dibaca orang lain duluan, kan? Tapi, tetap saja, aku harus menunggu.

Aku pernah ada di urutan ke-48. Angka itu terasa besar sekali seperti ulang tahun yang tidak mungkin aku capai.

Aku mencoba menunggu. Tapi, menunggu buku rasanya beda dengan menunggu giliran jajan. Kalau jajan, aku tahu nanti aku pasti dapat. Kalau ini, aku tidak tahu apakah aku masih mau membaca buku yang sama saat giliranku datang.

Kadang, aku merasa membaca itu seperti berdiri di depan pintu yang tidak bisa aku buka sendiri. Aku harus menunggu orang lain keluar dulu … dan kalau terlalu lama, aku pergi.

Bukan karena aku tidak mau membaca. Tapi, karena rasanya jadi sama saja seperti dulu lagi, seperti melihat buku dari jauh, seperti hampir punya, tapi tidak jadi.

Aku jadi ingat perpustakaan waktu itu: yang tidak menyuruhku menunggu, yang tidak bertanya aku punya uang atau tidak, yang tidak memberi nomor urut. Aku bisa langsung duduk dan membuka halaman pertama, bahkan sebelum aku benar-benar siap.

Aku pikir, mungkin membaca memang seharusnya seperti itu: tidak pakai antrian, tidak pakai rasa takut kehabisan, tidak pakai perasaan “nanti saja kalau sudah bisa”.

Rasa ingin tahu itu tidak suka menunggu. Kalau terlalu lama, dia bisa pergi diam-diam … dan kalau sudah pergi, biasanya tidak kembali dengan cara yang sama.

Aku tidak tahu banyak tentang perpustakaan, aku juga tidak tahu tentang hal-hal besar seperti literasi. Tapi, aku tahu rasanya ingin membaca dan tidak bisa.

Rasanya seperti punya sepatu yang pas, tapi jalannya ditutup. Oh, atau seperti lapar, tapi harus menunggu orang lain selesai makan dulu — dan aku tidak suka itu.

Aku lebih suka perpustakaan yang dulu, yang membuatku merasa semua buku itu juga milikku … walaupun sebenarnya tidak.

Mungkin, kalau semua orang bisa merasakan itu — rasa tidak perlu menunggu untuk tahu sesuatu — tidak akan ada yang merasa membaca itu sulit. Karena ternyata, yang membuat membaca terasa jauh bukan bukunya, tapi jaraknya.


메타데이터
post_id
ff2267caa968
slug
aku-hampir-punya-buku-itu-ff2267caa968
url
https://medium.com/@cimy/aku-hampir-punya-buku-itu-ff2267caa968
canonical_url
https://medium.com/@cimy/aku-hampir-punya-buku-itu-ff2267caa968
author_url
https://medium.com/@cimy
status
ok
fetched_at
2026-06-17 08:20:12