We Are Ready When You Are, Micky
We Are Ready When You Are, Micky

Sinar matahari pagi Glodok baru aja motong tirai-tirai tinggi rumah megah keluarga Winny. Hari itu sebenernya adalah H-1 menjelang jadwal rawat inap persalinan Micky yang udah direncanain dokter besok pagi, semua prosesnya aman, on track, dokter bilang Micky mungkin akan terkesan buru-buru dalam beberapa hari terakhir ini lewat kontraksi palsu tapi keluarga Glodok harus sabar nungguin Micky benar-benar siap.
Suasana di dalam rumah tua itu udah kerasa sibuk banget dari subuh. Beberapa asisten rumah tangga mulai menyiapkan banyak hal.Satang sebenernya udah bangun sejak pagi-pagi buta buat menyiapkan keperluan sekolah Ruay karena anak pertamanya itu gak terlalu bisa berangkat sekolah tanpa sarapan yang disiapin Tangtang dan kecupan hangat di pipinya.
Satang sekarang duduk menyendiri di kursi makan, menghela napas pendek mengatur ritme napasnya yang mulai gampang terengah-engah. Satang cuma pakai celana pendek di bawah kemeja putih polos punya Winny karena semua bajunya udah kerasa makin sesak. Kain katun putih itu meregang tegang, mencetak jelas banget siluet perut buncitnya yang udah bulat sempurna, besar, dan turun ke bawah.
Rambut hitamnya membingkai paras polosnya yang kelihatan begitu teduh, sementara sebuah anting perak kecil di telinganya sesekali berkilau halus terkena pendar cahaya matahari pagi yang masuk lewat jendela. Sambil melamun menatap kosong, jemari lentik Satang bergerak pelan, menyusun satu per satu buah naga dan jeruk santang segar ke dalam sebuah keranjang buah di tengah meja buat mengalihkan rasa gabut sekaligus rasa gak enak yang sedari subuh mulai menggelitik firasatnya.
Gak lama kemudian, Winny melangkah turun dari tangga kamar atas. Penampilannya rapi dengan pakaian santai tapi tetep kelihatan siap diajak pergi kemanapun kalau ada yang harus dilakuin, mode standby.
Langkah kaki Winny yang kokoh mendadak melambat pas netra tajamnya mengunci visual Satang di ujung meja makan. Ada gurat kecemasan, rasa bersalah, sekaligus gairah protektif yang teramat dalam di wajah Winny pagi ini. Satang selalu cantik, lebih cantik ketika hamil. Laptop kerjanya buat WFH dia jinjing di tangan kiri bersama isi kepalanya lagi bener-bener berantakan karena urusan kantor.
Tepat pas Winny baru nyium puncak kepala Satang dan narik kursi di sebelah suami cantiknya, suasana meja makan mendadak berubah tegang dengan kehadiran Papa Winny.
Sang Papa keluar dari kamarnya dengan langkah terburu-buru, setelan jas kerjanya udah rapi, dan beberapa dokumen penting didekap Mama yang selanjutnya dikasih ke asisten pribadi Papa yang standby di ruang tamu.
Wajah paruh baya Papa kelihatan begitu dingin dan serius, memancarkan aura tekanan besar yang gak biasa. Masalah besar mendadak menghantam bisnis keluarga mereka di Singapura pagi ini, beberapa karyawan setempat melakukan protes keras, mogok kerja, dan menolak melanjutkan proyek ritel mereka di sana. Kalau kekacauan ini gak diredam langsung oleh pemegang kuasa tertinggi, dinasti bisnis yang mereka bangun bertahun-tahun bisa runtuh dalam sekejap.
Papa menghentikan langkahnya tepat di ujung meja makan, menatap anak laki-laki pertamanya yang meneruskan semua ini karena kedua Cecenya adalah perempuan dan Didinya memilih jalan sendiri.
"Koh, Papa harus berangkat ke bandara sekarang. Yang tadi di forum komunikasi kamu selesaikan, selesai sebelum jam sepuluh, Papa sampai sudah ada bahannya ya, transfer yang perlu, pakai dana pribadi kamu dulu talangin,” kata Papa dengan suara berat yang penuh penekanan, memutus keheningan ruang makan. Papa kemudian menunjuk laptop Winny, memberikan titah terakhir yang mutlak, "kondisi di sana sangat tidak stabil. Karyawan kita masih demo di kantor pusat. Media lokal sudah naikkan berita. Standby terus, paham Kokoh?"
Winny mengunci rahangnya rapat-rapat. Dia melirik ke arah Satang yang seketika menghentikan gerakan jemarinya di atas keranjang buah, lalu kembali menatap Papanya dengan anggukan pelan, "paham, Pa. Winny standby."
Setelah Papa bergegas melangkah keluar rumah menuju mobil yang udah siap di garasi, atmosfer di meja makan seketika membeku jadi keheningan yang luar biasa dingin.
Mendengar pesan serius dari sang Papa yang menyuruh Winny harus selalu standby karena kekacauan Singapura, Satang langsung sedih. Perasaannya mendadak gak tenang, seolah tahu ada badai tak kasat mata yang siap merenggut waktu kebersamaan mereka menjelang persalinan. Satang cuma bisa terdiam membisu, menunduk dalam-dalam menatap jeruk santang di genggamannya, sementara pelupuk matanya perlahan mulai kerasa agak hangat karena diculik rasa sedih terselubung yang belum berani dia utarakan sama suaminya yang langsung buka laptop dan pakai AirPods. Bahkan Winny belum ngomong apa-apa ke Satang sejak habis cium keningnya.
Langkah kaki yang halus dari arah dapur perlahan memecah kesunyian itu. Mama Winny masuk ke ruang makan sambil membawa teko teh herbal yang baru diseduh, langsung menangkap ketegangan yang tertinggal di udara. Beliau menaruh teko itu di tengah meja, lalu memilih duduk tepat di sebelah Satang. Sebagai wanita yang puluhan tahun mendampingi suaminya membangun dinasti bisnis, beliau tahu betul arti dari raut wajah menantu kesayangannya saat ini, "Cantik, buahnya disusun nanti lagi aja, Sayang. Sini, minum teh angetnya dulu," kata Mama lembut.
Satang mendongak, melempar senyum kecut yang dipaksakan demi menjaga sopan santun. Efek hormon hamil tua yang kian sensitif bikin kedua pelupuk matanya mendadak kerasa hangat. Sambil membetulkan letak kemeja putih longgar milik Winny yang membungkus perut buncitnya, Satang akhirnya memberanikan diri membuka suara. Suaranya terdengar serak dan tipis di udara ruang makan.
"Ma... Satang mau tanya," bisik Satang, matanya menatap kosong ke arah kepulan uap teh, “Mama dulu... gimana caranya bisa sabar banget sama Papa? Maksudnya... semua ini, Ma. Maaf Satang takut..."
Mama terdiam sesaat, tersenyum sendu mendengar pertanyaan polos yang sarat akan kecemasan itu. Beliau mengusap punggung tangan Satang yang mendadak dingin, “Mama paham. Mama ngerti banget kamu pasti cemas, apalagi besok pagi kamu udah harus masuk kamar rawat inap buat lahiran Micky," ujar Mamanya dengan nada suara yang teramat teduh, berusaha menyalurkan ketenangan.
“Dulu, waktu Mama hamil Cece, Papa juga persis kayak begitu. Kita gak pernah tau akan ada apa di dunia mereka yang selalu gak stabil. Kita gak bisa apa-apa di depan tugas, tapi kita bisa jadi tempat pulang paling aman buat suami kita."
Di tempatnya, Winny ternyata masih bisa dengar, Winny udah kepalang kalut sampai gak tau mau ngomong apa dulu buat bikin Satang tenang karena jujur Winny juga punya firasat dia harus ikut ke sana.
Ketenangan yang rapuh di ruang makan itu mendadak terusik pas HP di samping laptop Winny bergetar heboh. Layarnya menyala, menampilkan nama bawahan Papa yang memanggil dari jalur internasional. Begitu suara getar HP itu memecah sunyi, Satang refleks tersentak kecil di kursinya. Kedua matanya langsung menatap layar ponsel Winny dengan binar ketakutan yang kentara. Setiap kali HP Winny berdering dan menampilkan panggilan dari luar negeri, dada Satang mendadak kerasa dihimpit sesak. Dia takut kalau panggilan itu adalah titah mutlak yang meminta Winny buat menyusul ke Singapura saat itu juga, gimana sama Micky? Siapa yang megang tangan Satang besok? Siapa yang nemenin Satang pas dia lagi sakit-sakitnya?
Winny melirik Satang sekilas, menangkap gurat ketakutan di mata suaminya. Dia buru-buru menggeser layar dan mengangkat teleponnya, berjalan sedikit menjauh, “Marcus. I swear, if you’re calling me to tell me the same thing you just typed in that chat I already read it. All of it.”
Satang dan Mama saling pandang. Ada amarah di nada Winny.
“So why am I only finding out now?! Why wasn’t I looped in last week when the tension started? I specifically asked after the restructuring memo went out, last week before I propose my leave, Marcus. I said, how’s the team taking it? And you said fine. You said fucking fine.”
Winny memijat pelipisnya, Satang semakin yakin begitu telepon dimatikan Winny akan pamit ke bandara.
“Copy that. I’ll be there. Three days after my baby comes out, You have my word. But right now I have to go.”
Telepon dimatikan. Satang tersenyum kecut menerima fakta suaminya akan terbang menyusul Papa tiga hari setelah Micky lahir. Mama mengusap lengan Satang lembut, “ada Mama, Mama temenin terus.”
Satang senyum lagi, dipaksakan. Winny diam. Gak tau mau ngomong apalagi, kerjaan dia tiga hari sekali cuma bikin Satang sedih kayaknya. Mereka bertiga gak ada yang bicara lagi sampai Papa mulai menelepon Winny, menandakan Papa sudah sampai di sana.
Suara Papa dari seberang telepon terdengar berat dan bising oleh latar belakang suara riuh karyawan yang masih protes, “tetap standby Koh, Papa gak percaya Marcus bisa.” Winny melirik Satang, Satang mengangguk memberikan senyum manis seolah meneriakkan gapapa Pa kalau emang harus pergi.
“Pantau dokumen yang Papa kirim lewat email."
"Baik, Pa. Winny pantau terus," jawab Winny singkat sebelum panggilan itu diputus sepihak oleh Papanya.
Winny meletakkan ponselnya kembali ke atas meja. Meskipun panggilan barusan belum berisi perintah medis atau paksaan agar Winny terbang ke Singapura detik ini, atmosfer di meja makan sudah terlanjur berubah dingin. Ketakutan Satang belum bener-bener terbukti karena Winny belum diminta berangkat, tapi bayangan kalau badai bisnis di Singapura itu sewaktu-waktu bisa menarik Winny pergi bener-bener merusak ketenangan batin Satang menjelang persalinan.
Ketidakpastian itu terus mengantung di langit-langit rumah Glodok sampai sore hari. Setiap kali ponsel Winny bergetar, jantung Satang rasanya ikut mencelos. Winny sendiri gak beranjak dari laptopnya, tetep standby dengan rahang mengeras karena masalah internal perusahaan di sana bener-bener rumit.
Memasuki pukul empat sore, di sela-sela rasa cemas yang menumpuk, Satang mulai ngerasain gelombang nyeri yang beda di perut bawahnya. Perutnya yang berbalut kemeja putih longgar milik Winny mendadak mengencang kaku. Rasa sakit itu datang berkala, perlahan melilit sampai ke pinggang belakangnya. Tapi, melihat Winny yang begitu tegang menghadapi panggilan telepon internasional beberapa menit sekali, Satang merasa segan. Dia memilih mengunci mulutnya rapat-rapat, menahan setiap jepitan kontraksi awal itu sendirian sambil terus duduk di sofa ruang tengah, gak mau menambah beban pikiran suaminya.
Ketegangan di rumah semakin memuncak pas beberapa orang dari tim hukum perusahaan keluarga Winny mendadak datang ke rumah. Ruang tamu besar langsung dipenuhin atmosfer formal yang dingin. Satang yang lagi memeluk Ruay yang baru pulang sekolah hanya bisa mengintip dari balik sekat pilar jati ruang tengah.
Ruay mendongak, menarik ujung kemeja putih Winny, “Tangtang... Om-om itu siapa? Kok mukanya galak kayak robot jahat?" bisik Ruay polos pelan-pelan.
Satang cuma bisa tersenyum kecut, mengusap rambut Ruay dengan jemari yang mulai mendingan menahan sakit, “itu teman-teman Papa, Sayang. Lagi bantu kerjaan Papa."
Satang bener-bener bingung gimana cara bilang ke Winny kalau perutnya makin sering kontraksi. Di satu sisi, badannya udah mulai kepayahan menahan beban Micky di dalam rahim, tapi di sisi lain, obrolan serius antara Winny dan orang-orang hukum di ruang tamu terdengar begitu krusial mengenai nasib bisnis mereka.
Hingga akhirnya, sekitar pukul setengah enam sore, pertemuan formal itu selesai. Begitu orang-orang hukum berpamitan dan melangkah keluar dari pintu depan, Winny baru saja mengembuskan napas panjang, berniat menutup laptopnya. Tapi, sebelum Winny sempat berbalik menghampiri sofa, Ruay tiba-tiba berlari kencang. Bocah laki-laki itu langsung menarik-narik tangan kanan Winny yang besar dengan wajah ketakutan.
"Papa! Papa lihat deh! Tangtang pipis banyak banget di lantai! Ruay takut Tangtang gak pernah pipis gitu!” seru Ruay heboh sambil menunjuk ke arah sofa ruang tengah.
Winny seketika mematung tapi dia buru-buru melangkah lebar menuju ruang tengah. Di sana, Satang udah terduduk lemas dengan kedua tangan memegangi puncak perut buncitnya yang udah turun ke bawah. Di bawah ubin marmer tempat Satang berpijak, air hangat dalam jumlah banyak udah menggenang deras, merembes menembus celana pendek yang dipakainya di balik kemeja putih Winny. Dia cuma bisa menangis sesenggukan.
"Papa... hhh... sakit... Micky sakit," parau Satang dalam tangisnya yang pecah berantakan.
Melihat suaminya menangis kepayahan di depan mata, seluruh sisa kepanikan Winny soal urusan bisnis langsung habis dari kepalanya. Jantung Winny berdegup kencang karena rasa protektif yang murni sebagai seorang kepala keluarga. Dia tau, Micky udah siap lahir sore ini, mendahului jadwal rawat inap besok pagi.
"Tahan ya, Sayang. Kita berangkat sekarang. Micky udah siap," bisik Winny serak. Topeng dinginnya runtuh seketika. Winny langsung menyusupkan kedua lengan kokohnya ke bawah tubuh lemas Satang, mengangkat tubuh suaminya dalam gendongan bridal yang erat, gak peduli pakaiannya ikut basah oleh air ketuban. Sambil berteriak memanggil Mamanya yang berada di dapur buat menjaga Ruay, Winny melangkah lebar keluar rumah, langsung bersiap menyiapkan mobil di garasi demi membawa Satang secepat mungkin menuju ruang bersalin rumah sakit.
메타데이터
- post_id
- ff252dd3c088
- slug
- we-are-ready-when-you-are-micky-ff252dd3c088
- url
- https://medium.com/@winnyglodok/we-are-ready-when-you-are-micky-ff252dd3c088
- canonical_url
- https://medium.com/@winnyglodok/we-are-ready-when-you-are-micky-ff252dd3c088
- author_url
- https://medium.com/@winnyglodok
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-09 15:37:30