Seni Mendengarkan ala Ibu
Dari kami kecil sampai hari ini kami menginjak usia dewasa, ada satu kebiasaan yang tidak pernah berubah dari keluarga kecil Ibuk dan…
Seni Mendengarkan ala Ibu
Dari kami kecil sampai hari ini kami menginjak usia dewasa, ada satu kebiasaan yang tidak pernah berubah dari keluarga kecil Ibu dan Bapak. Kebiasaan berbincang, ngobrol, dan atau berdiskusi. Ya, kami terbiasa bercerita dan ngobrol, mulai dari obrolan ringan sampai obrolan yang menegangkan. Bercerita semenyenangkan itu bagi kami. Ditemani atau tidak ditemani kudapan, dilakukan di sisa-sisa waktu yang kami punya atau diselipkan dalam pekerjaan, semuanya tetap menyenangkan. Dan ada saja topik yang menarik untuk dibicarakan. Satu hal yang patut disyukuri kami memiliki kesempatan itu, karena nyatanya tidak semua orang punya kesempatan yang sama.
Tapi dari semua cerita dan obrolan yang pernah terjadi, peran Ibu selalu menarik diantara kami. Ibu adalah pendengar terbaik dalam keluarga. Tak sekalipun tak antusias, tak pernah memotong pembicaraan, menimpali secara serampangan, ataupun menjudge sebelum penutur selesai bercerita. Senyum tulus dan timbal balik yang disisipi gurauan selalu membuat kami merasa diterima apa adanya. Ibu seolah memberikan kami ruang untuk bercerita apa saja, semaunya, dan suka-suka.
Mendengarkan ternyata tidak sesederhana itu bagi sebagian orang. Apalagi bagi orang terbiasa berbicara, mengungkapkan pendapat, atau public speaker yang rutinitasnya jelas adalah berbicara. Padahal mendengarkan juga semenyenangkan itu, ada banyak hal yang bisa kita dapatkan. Mulai dari informasi umum sampai ilmu pengetahuan dan nasehat kehidupan. Sedangkan saat berbicara, kita rentan sekali melakukan kesalahan ucapan atau pemilihan kata. Dan boleh jadi kadang menyinggung perasaan lawan berbincang. Maka benarlah mendengarkan itu ada seninya. Butuh sebuah pemahaman juga bahwa bercerita tak melulu kebingungan mencari solusi, tapi meredakan gejolak emosi di dalam hati.
Mungkin inilah alasan dibalik sepenggal hikmah mengapa manusia diciptakan dengan satu mulut dan dua telingga. Ya agar kita lebih banyak mendengarkan sebelum berbicara. Meminimalisir distraksi agar menyehatkan mental bagi yang bercerita.
메타데이터
- post_id
- ff31fa51d49e
- slug
- seni-mendengarkan-ala-ibu-ff31fa51d49e
- url
- https://medium.com/@temanceritamu/seni-mendengarkan-ala-ibu-ff31fa51d49e
- canonical_url
- https://medium.com/@temanceritamu/seni-mendengarkan-ala-ibu-ff31fa51d49e
- author_url
- https://medium.com/@temanceritamu
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-26 05:28:57