Penjara Alam
Penjara Alam
Photo by Firosnv. Photography on Unsplash
Hakim baru saja menjatuhkan sebuah dakwaan dalam kasus penjarahan hutan. Terdakwanya ialah seorang manusia berwatak angkuh dan nirempati. Ia didakwa atas hilangnya ribuan hektar hutan dengan motif keserakahan.
"Saya melakukan ini demi keberlanjutan pangan bersama!" ucap manusia itu setengah murka.
Seekor saksi membeberkan fakta bahwa rumahnya telah dijarah oleh segerombolan manusia. Ia menjadi miskin sebab tidak punya pangan dan papan. Saksi tersebut kecewa karena otak penjarahan itu ternyata pejabat di wilayahnya sendiri.
“Kau sebut ini demi pangan?" bisik lirih angin malam, sembari meniupkan jelaga dari ranting yang legam. "Kau sebut ini demi masa depan?" tanya seekor anak gajah yang yatim piatu.
Manusia itu hanya diam seribu bahasa, keangkuhannya meluruh menjadi ketakutan. Sebuah penjara besi telah menantinya di depan mata; hukuman yang tak sebanding dengan penjara yang ia ciptakan.
Seluruh alam bersorak atas kemenangan. Mereka tidak butuh lembaran uang atau tanda jasa. Mereka hanya butuh keadilan akan nasib hidupnya.
Kini, manusia tersebut resmi ditahan. Semua harta dan tahta dikembalikan pada hutan yang ia paksa menderita. Meskipun begitu, alam telah mengunci pintunya. Memenjarakan manusia dalam kemarau panjang dan badai yang menanti.
메타데이터
- post_id
- ff6b687687b0
- slug
- penjara-alam-ff6b687687b0
- url
- https://medium.com/@radiasimatahari/penjara-alam-ff6b687687b0
- canonical_url
- https://medium.com/@radiasimatahari/penjara-alam-ff6b687687b0
- author_url
- https://medium.com/@radiasimatahari
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-09 15:37:30