← Back to list

Terdiam diwaktu celetukan “Berhenti Mengkultuskan Manusia”…

Saat itu adalah aktivitas biasa dua manusia yang bertemu di tempat kopian langgan. Waktu berlalu, namun saya berhenti di momen itu …

ZW Taulina · 2026-07-07 10:24 · 0 claps · 4.2 min read
#kultusmadura #kabupaten-sumenep #maduras #pengkultusanmanusia #budaya
Open on Medium ↗
Wiki topics: SAF · Safety & Alignment

Terdiam diwaktu celetukan “Berhenti Mengkultuskan Manusia”…

Photo by Yusuf Hasan on Unsplash

Photo by Yusuf Hasan on Unsplash

Saat itu adalah aktivitas biasa dua manusia yang bertemu di tempat kopian langgan. Waktu berlalu, namun saya berhenti di momen itu ; tepatnya dikalimat itu. “Aku sudah tidak mau lagi mengkultuskan seseorang”

Awalnya kalimat itu menggelitik karena saya pikir benar juga, di daerah kami khususnya — Sumenep. Pengaruh ketokohan seseorang menjadi konsensus yang berkekuatan besar. Pola menokohkan manusia bahkan tercermin dalam floklor kami yaitu “Bheppa’-Bhabbu’, Ghuru, Rato” (bapak-ibu (orang tua), guru (tokoh agama/kyai), dan Rato (Penguasa/Priyai) sebagai kriteria peran yang perlu dihormati karena jasa dan kiprahnya terhadap masyarakat. Floklor ini hidup berkelakar dalam kehidupan komunal masyarakat Sumenep dalam melihat legitimasi publik.

Mengkultuskan sendiri dalam definisinya adalah perilaku atau tindakan memuja, mendewakan, atau menghormati seseorang, paham, atau benda secara berlebihan. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), perilaku ini sering kali membuat seseorang dianggap tidak pernah salah dan diagungkan di luar batas kewajaran. Sehingga ada perbedaan signifikan dalam hal mengkultuskan dan menghormati karena kadar pemberian yang tidak wajar, sedernahanya terlalu fanatik.

Apa salahnya menghargai seseorang secara mendalam? Saya pun meyakini sesama manusia perlu adanya kesalingan dalam menghargai, sehingga itulah titik keberangkatan saya akan konsep kesetaraan yang saya amini. Menghargai manusia berdasar pada fakta objektif bahwa manusia sebagai makhluk hidup diberkati potensi dalam hidupnya terlepas dari peran dan jabatannya. Sedangkan dalam fenomena pengkultusan manusia mengandung pengecualian pada sebagian manusia lain yang tidak masuk dalam kriteria. Pengkultusan ini menjelma pada siapa yang harus di lindungi lebih dulu, di-junjung lebih dari siapapun, dan hiperbola lainnya yang seringkali dilakukan dalam bentuk budaya dan ritual habitus. Contohnya sesederhana mencium tangan berkali-kali dengan menunduk sebagai simbol penghormatan.

Madura dan Habitus Mengkultuskan Manusia

Fenomena ini begitu lekat dengan keseharian saya sebagai manusia yang lahir dan tumbuh di tanah Madura. Sebab di tanah ini, saya merasakan dan menyaksikan betul bagaimana mengangkat manusia ke posisi yang nyaris tak boleh dibantah bukan hal baru, melainkan sebuah struktur yang sudah mengendap jauh sebelum ada algoritma.

Moh. Hefni (2007), melalui konsep Bhuppa’-Bhâbhu’-Ghuru-Rato, menjelaskan hierarki kepatuhan dalam budaya masyarakat Madura. Ini bukan sekadar tata krama, melainkan struktur sosial yang menjadi rujukan moral tunggal dimana rujukan yang keabsahannya tidak lahir dari argumentasi, tetapi dari posisi. Dalam kajian lanjutannya, Hefni (2019) menempatkan pola ini dalam kerangka teori habitus Pierre Bourdieu yang menjabarkan dimana kepatuhan itu bukan pilihan sadar yang terus-menerus dipertimbangkan ulang ; melainkan disposisi yang tertanam sejak dini, dijalani tanpa perlu dipikirkan, dan karenanya terasa alamiah, padahal ia adalah hasil konstruksi sosial yang panjang.

Dalam konteks kepatuhan ini kiai menempati posisi istimewa. Zamakhsyari Dhofier (1994) sejak lama menunjukkan bahwa otoritas kiai dalam tradisi pesantren memang dibangun di atas kombinasi silsilah keilmuan, karisma personal, dan pengakuan komunitas ; bukan semata prestasi akademik yang bisa diuji ulang oleh siapa pun. Bourdieu (2015) sendiri menyebut mekanisme semacam ini sebagai kekerasan simbolik dimana dominasi yang berjalan mulus justru karena pihak yang didominasi turut mengakui dan menganggap wajar hierarki yang menguntungkan pihak lain.

Yang ingin saya tegaskan bukan bahwa kiai itu buruk, atau bahwa penghormatan kepada guru adalah kesalahan. Yang ingin saya tunjukkan adalah Madura sudah punya habitus mengangkat manusia ke posisi yang nyaris tak tersentuh kritik, jauh sebelum ada ruang digital. Ketika habitus lama ini bertemu dengan ekosistem media sosial yang memang didesain untuk memproduksi kedekatan dan karisma instan. Hal ini mengingatkan saya pada pembahasan mengenai “matinya kepakaran” versi Nichols

Habitus mengangkat manusia di Madura menjadi sebuah percepatan terhadap pola pengkultusan yang serius, karena tanahnya sudah subur sejak awal.

Ketika Kultus Lama Bertemu Panggung Baru

Di era modernisasi ini banyak sekali Pemuda daerah yang haus ditokohkan dengan cara-cara yang lebih trendy ; influencer atau konten creator. Dinamika sosial pun bertambah dinamis dengan kehadiran sosial media sebagai medium dari kebebasan mengemukakan pendapat. Namun hal yang menarik dalam fenomena ini banyak sekali konten creator yang memiliki followers puluhan ribu atas pendapat yang mereka bagikan, meski pendapat tersebut seringkali opini subjektif, populis, dan bahkan tidak merujuk pada kerangka berpikir ilmiah.

Muncul kesamaran akan sebuah kepakaran dalam memandang suatu isu. Hanya karena seseorang populer dan produktif mengeluarkan kekaryaan populer ; sudah di amini sebagai seorang pakar.

Bayangkan saja pola Bhuppa’-Bhâbhu’-Ghuru-Rato itu bergeser sedikit, posisi “Ghuru” tidak lagi hanya diisi kiai di surau, tetapi juga oleh siapa saja yang berhasil membangun jumlah pengikut yang besar di layar ponsel. Mekanisme kepatuhannya sama ; penerimaan tanpa banyak tanya, karena posisi bicara dianggap otomatis sah, hanya panggungnya yang berpindah. Orang yang dulu belajar untuk tidak membantah kiai, kini juga belajar untuk tidak membantah konten creator sebagai influencer yang dianggap “paham” meski yang disampaikan sebatas opini yang dikemas meyakinkan.

Ini yang membuat celetukan “berhenti mengkultuskan manusia” terasa begitu tajam di ruang batin saya. Ia menyentuh dua lapis sekaligus ; kritik terhadap matinya kepakaran di era digital, sekaligus kritik terhadap habitus lama yang membuat masyarakat punya kecenderungan lebih besar untuk tunduk pada figur, bukan pada argumen.

Menolak Kultus, Bukan Menolak Penghormatan

Masalahnya saya jadi memiliki prasangka atas fenomena ini dengan situasi demokrasi di hari ini yang jauh dari meritokrasi. Saya ucapkan selamat datang pada lingkaran setan dari matinya kepakaran.

Berhenti mengkultuskan manusia bukan berarti berhenti menghormati guru, kiai, atau siapa pun yang layak dihormati. Yang perlu dihentikan adalah kebiasaan menyerahkan nalar kritis begitu saja hanya karena seseorang berbicara dengan percaya diri, punya banyak pengikut, atau menempati posisi yang secara struktural dianggap tak boleh dibantah.

Nichols mengingatkan bahwa matinya kepakaran dapat mengancam demokrasi karena keputusan-keputusan penting berakhir dibuat berdasar suara paling nyaring, bukan argumen paling kuat. Bagi masyarakat dengan habitus kepatuhan sekuat Madura, ancaman itu berlipat. Bukan hanya nalar kritis yang harus dihidupkan kembali, tetapi juga struktur sosial yang selama ini membuat kepatuhan terasa sebagai satu-satunya sikap yang mungkin. Barangkali di situlah pentingnya terus mempertanyakan pelan-pelan, tanpa harus meruntuhkan rasa hormat dengan pada siapa sebenarnya kita menyerahkan kepercayaan kita, dan atas dasar apa.

Barangkali saya berpikir terlalu jauh?…..

REFRENSI

  • Bourdieu, Pierre. Arena Produksi Kultural: Sebuah Kajian Sosiologi Budaya. Diterjemahkan oleh Yudi Santosa. Yogyakarta: Kreasi Wacana, 2015.
  • Dhofier, Zamakhsyari. Tradisi Pesantren: Studi tentang Pandangan Hidup Kiai. Jakarta: LP3ES, 1994.
  • Hefni, Moh. “Bhuppa’-Bhâbhu’-Ghuru-Rato (Studi Konstruktivisme-Strukturalis tentang Hierarkhi Kepatuhan dalam Budaya Masyarakat Madura).” KARSA: Journal of Social and Islamic Culture XI, no. 1 (2007).
  • Hefni, Mohammad. Islam Madura: Kajian Konstruktivisme Strukturalis, Teori Habitus Pierre Bourdieu. Surabaya: Literasi Nusantara, 2019.
  • Nichols, Tom. The Death of Expertise: The Campaign against Established Knowledge and Why It Matters. New York: Oxford University Press, 2017. Diterjemahkan sebagai Matinya Kepakaran. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia, 2018.

메타데이터
post_id
ff8763377ef3
slug
terdiam-diwaktu-celetukan-berhenti-mengkultuskan-manusia-ff8763377ef3
url
https://medium.com/@zwtaulina/terdiam-diwaktu-celetukan-berhenti-mengkultuskan-manusia-ff8763377ef3
canonical_url
https://medium.com/@zwtaulina/terdiam-diwaktu-celetukan-berhenti-mengkultuskan-manusia-ff8763377ef3
author_url
https://medium.com/@zwtaulina
status
ok
fetched_at
2026-07-08 17:17:42