← Back to list

Pemberitaan Indonesian Mother of Six Aims to Keep Papuan Tradition Alive by Saving Mangroves in…

Written by: Cesina Atalie Azzara Siregar (2210412046), Paulina Lewi Maria Riyanto (2210412050), Nuur Sharfina Aadilah (2210412058)

nuur sharfina · 2025-04-25 07:20 · 0 claps · 9.7 min read
#sdg5 #sdg-13 #sdg-14 #sdg-15 #mangrove
Open on Medium ↗
Wiki topics: PFI · Personal Finance

Pemberitaan Indonesian Mother of Six Aims to Keep Papuan Tradition Alive by Saving Mangroves in Women — Only Forest pada Channel News Asia

Written by: Cesina Atalie Azzara Siregar (2210412046), Paulina Lewi Maria Riyanto (2210412050), Nuur Sharfina Aadilah (2210412058)

PENDAHULUAN

Isi Pemberitaan 5W+1H dan Interpretasi Berita

Berita ini menceritakan mengenai kisah perjuangan seorang ibu enam anak dari Papua, bernama Petronela Merauje dalam melestarikan hutan bakau yang dikenal sebagai “Hutan Perempuan” di Teluk Youtefa, Jayapura. Hutan ini dipercaya sebagai tempat yang sakral bagi perempuan suku Tobati dan Enggros untuk menjalankan tradisi “Tonotwiyat”. Tradisi ini berupa aktivitas mencari kerang dan berkumpul di dalam hutan bakau. Namun, keberadaan hutan ini terancam oleh pembangunan infrastruktur dan polusi yang kian meningkat. Karakter utama dalam berita ini adalah Petronela Merauje, yang juga dikenal sebagai “Mama Nela”, bersama dengan kelompok perempuan dari desa Enggros dan Tobati. Mereka merupakan pelindung adat dan alam yang berupaya menjaga warisan budaya mereka di tengah tantangan modernisasi serta kerusakan lingkungan.

Perubahan besar telah terjadi sejak Jembatan Youtefa selesai dibangun pada 2019, yang mempercepat proses urbanisasi di sekitar Teluk Youtefa. Efek buruk terhadap hutan bakau dan budaya setempat semakin terlihat dalam beberapa tahun terakhir, terutama dengan bertambahnya tingkat pencemaran dan konversi lahan. Lokasi sentral terletak di Teluk Youtefa, Jayapura, Papua. Hutan mangrove di area ini, khususnya yang dikenal sebagai “Hutan Perempuan”, memiliki fungsi sebagai jantung kehidupan sosial dan ekonomi bagi kaum perempuan di desa Enggros dan Tobati.

Pembangunan fasilitas umum, seperti Jembatan Youtefa, bertujuan untuk mengefisienkan konektivitas dan mendorong pertumbuhan ekonomi. Namun, pada kenyataannya pembangunan ini berdampak negatif pada ekosistem mangrove yang sangat penting bagi kehidupan penduduk setempat. Selain itu, lemahnya peraturan lingkungan membuat situasi hutan semakin parah dan membahayakan kelestarian tradisi “Tonotwiyat”. Petronela beserta komunitasnya menjalankan berbagai inisiatif konservasi, seperti menanam pohon bakau kembali, membersihkan sampah di kawasan Teluk Youtefa, serta memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai pentingnya menjaga lingkungan. Mereka juga berusaha menarik minat pemerintah dan masyarakat umum untuk mendapatkan dukungan dalam melindungi hutan perempuan dari berbagai ancaman yang lebih serius.

Menurut interpretasi kami, berita ini mengulas interaksi rumit antara usaha untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi dan kebutuhan untuk melestarikan lingkungan serta warisan budaya lokal yang telah ada selama bertahun-tahun. Dalam konteks ini, hutan bakau yang dikenal sebagai “hutan perempuan” di Teluk Youtefa tidak bisa dianggap sekadar sebagai ekosistem atau sumber daya alam biasa. Hutan ini merupakan elemen yang tak terpisahkan dari identitas budaya masyarakat Papua, khususnya perempuan dari suku Tobati dan Enggros. Tempat ini menjadi suatu wilayah aman, di mana perempuan menjalankan tradisi yang diwariskan sepanjang generasi, seperti Tonotwiyat, serta mencerminkan simbol kekuatan, solidaritas, dan kedaulatan perempuan dalam struktur sosial mereka.

Saat area hutan ini menghadapi ancaman dari proyek pembangunan dan peningkatan aktivitas manusia yang merusak lingkungan, seperti pencemaran dan konversi lahan, komunitas tidak hanya berhadapan dengan krisis ekologis, tetapi juga kehilangan elemen penting dari ingatan kolektif dan sistem nilai mereka. Kehilangan hutan mengakibatkan terputusnya hubungan antar generasi, dan menghilangkan ruang refleksi serta spiritual yang selama ini menguatkan keberadaan sosial dan budaya komunitas. Di tengah situasi ini, perjuangan Petronela Merauje dan perempuan-perempuan lainnya mencerminkan bentuk nyata perlawanan terhadap proses marginalisasi yang berlangsung secara struktural. Mereka tidak hanya melawan kerusakan lingkungan secara fisik, tetapi juga memperjuangkan hak untuk diakui dan dihargai dalam proses pembangunan. Aksi mereka menekankan betapa pentingnya melibatkan suara dan perspektif masyarakat setempat dalam setiap fase perencanaan pembangunan, agar proses tersebut tidak menjadi dominatif, melainkan inclusive dan berkelanjutan.

Dalam cakupan yang lebih luas, kisah ini mencerminkan bahwa pembangunan seharusnya tidak merampas ruang kehidupan dan ekspresi budaya kelompok masyarakat, tetapi seharusnya menjadi alat pemberdayaan yang menghormati keragaman, keunikan lokal, serta keberlanjutan ekologis. Perjuangan komunitas ini mengingatkan kita bahwa pembangunan yang ideal adalah yang mampu menjaga keseimbangan antara kemajuan material dan keberlangsungan sosial serta budaya.

Karakteristik dan Ideologi Media

Channel News Asia (CNA) merupakan sebuah outlet media yang berpusat di Singapura dan terkenal karena pendekatan jurnalistiknya yang mendalam serta berorientasi pada isu-isu di kawasan Asia Tenggara. Dalam laporan ini, CNA mempersembahkan cerita yang berfokus pada aspek kemanusiaan dan individu, yakni Petronela Merauje, yang melambangkan perjuangan masyarakat lokal. Menurut Wu (2013), media ini memilik karakteristik unik, terlebih dalam cara mereka memberitakan yang mendahulukan cerita-cerita mengenai kemanusiaan atau human interest. Hal ini terlihat jelas dari pemilihan cerita Petronela Merauje sebagai figur sentral dalam berita mereka, bertujuan untuk membangkitkan rasa empati pembaca terhadap permasalahan lingkungan dan pelestarian budaya setempat.

Selain itu, karakteristik lain terlihat pada perhatian signifikan terhadap isu-isu regional Asia Tenggara, dengan menyoroti berbagai dinamika sosial dan ekologi yang berlangsung di kawasan tersebut, termasuk masalah-masalah yang sering kali diabaikan oleh outlet media internasional (Natarajan & Hao, 2003). Di samping itu, CNA menerapkan pendekatan jurnalistik yang analitis, tidak hanya sekadar menyajikan informasi, tetapi juga menyelidiki dampak pembangunan pada masyarakat lokal, serta mengekspresikan dukungan jelas terhadap perlindungan lingkungan dan budaya yang terancam oleh proses modernisasi yang tidak ramah.

CNA mengusung ideologi yang mendukung pelestarian budaya setempat dan keberlanjutan lingkungan. Dengan menyoroti efek negatif pembangunan terhadap masyarakat perempuan Papua, CNA menekankan perlunya memperhatikan faktor sosial dan budaya dalam proses pembangunan. Media ini juga menekankan signifikansi suara perempuan dalam percakapan publik, mencerminkan dedikasi terhadap kesetaraan gender dan keterlibatan yang luas.

Dengan pendekatan ini, CNA berfungsi sebagai sarana yang tidak hanya menyampaikan informasi, tetapi juga menggalakkan diskusi mengenai pembangunan yang berkelanjutan dan adil secara sosial. Pemberitaan ini mengajak audiens untuk merenungkan konsekuensi jangka panjang dari pembangunan terhadap komunitas lokal dan pentingnya menjaga keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi serta pelestarian budaya dan lingkungan.

Sasaran SDGs

Berita yang kelompok kami pilih mengenai Indonesian mother of six aims to keep Papuan tradition alive by saving mangroves in women-only forest, memiliki relevansi yang cukup kuat dengan beberapa sasaran Sustainable Development Goals (SDGs). Berita ini menunjukkan sejauh mana ketanggapan inisiatif lokal dapat berkontribusi terhadap agenda pembangunan global yang berkelanjutan.

Pada SDG 5 (Gender Equality), berita ini meninjau sasaran 5.5 yaitu menjamin keefektifan partisipasi serta beberapa kesempatan yang sama bagi perempuan dalam leadership. Inisiatif yang telah diciptakan as know as “hutan khusus perempuan” membuka peluang luas bagi perempuan Papua untuk memimpin upaya konservasi lingkungan, meneruskan pengetahuan tradisional, dan menentukan keputusan penting terkait pengelolaan sumber daya alam. Hal ini juga ada relevansinya dengan sasaran 5.a yang mendorong reformasi untuk memberikan perempuan hak yang setara terhadap sumber daya ekonomi serta aksesnya terhadap kepemilikan dan kontrol atas tanah.

Di dalam SDG 13 (climate action), berita ini menjunjung sasaran 13.1 tentang memperkuat ketahanan dan kemampuan untuk beradaptasi terhadap bahaya terkait iklim dan bencana alam. Hutan mangrove yang dilindungi saat ini, berfungsi sebagai benteng alami terhadap badai, tsunami, dan kenaikan permukaan air laut, serta mampu menyerap karbon dalam jumlah yang signifikan, berita dan SDGs ini juga berkontribusi pada sasaran 13.2 tentang pengintegrasian tindakan perubahan iklim ke dalam kebijakan dan perencanaan.

Terkait SDG 14 (Ekosistem Laut), berita ini menyoroti kepada sasaran 14.2 tentang perlindungan dan pengelolaan ekosistem laut dan pesisir secara berkelanjutan, dan ada juga tercantum di sasaran 14.5 mengenai konservasi kawasan laut dan pesisir. Hutan mangrove menjadi habitat penting bagi berbagai spesies laut serta penghubung vital antara ekosistem darat dan laut. Dengan menunjukkan inisiatif lokal yang berdampak kepada seluruh, pemberitaan ini menunjukkan bagaimana pendekatan berbasis komunitas dan kearifan tradisional dapat menjadi solusi yang signifikan dalam mencapai berbagai sasaran SDGs secara simultan.

Kemudian SDG 15 (Ekosistem Daratan), diaman SDGs ini berupaya untuk melestarikan mangrove serta mendukung sasaran 15.1 tentang restorasi, konservasi, dan manfaat yang berkelanjutan terhadap ekosistem air tawar daratan, yang terakhir dengan sasaran 15.2 yang berkaitan dengan implementasi pengelolaan berkelanjutan kepada semua jenis hutan dan menghentikan deforestasi.

Fungsi media dalam konteks pesan pembangunan

Media massa, layaknya Channel News Asia (CNA), memiliki peran vital dalam menyuarakan pesan pembangunan yang inklusif, berkelanjutan, dan berorientasi pada masyarakat. Melalui liputan mendalam tentang Petronela Merauje, perempuan Papua yang berjuang melestarikan hutan mangrove dan tradisi lokal di Teluk Youtefa, CNA menunjukkan fungsinya sebagai agen pembangunan.

Media massa berperan sebagai sarana edukasi publik yang terus mendorong masyarakat agar berpikir terbuka dan maju (Hendra, 2019). Dengan gaya pemberitaan khasnya yang mendalam dan faktual, CNA mengedukasi audiens global tentang pentingnya mangrove dan peran perempuan dalam pelestarian lingkungan. Berita ini membuka wawasan bahwa pembangunan fisik tanpa perencanaan ekologis dapat berdampak buruk bagi komunitas adat, sehingga konservasi dan pembangunan perlu berjalan seimbang. Edukasi dari CNA ini turut mendorong perubahan sosial, dengan menempatkan Petronela sebagai simbol perlawanan terhadap pembangunan yang merusak, sekaligus pelopor pembangunan berbasis komunitas yang berkelanjutan.

Selain itu, dalam buku Media Komunikasi Representasi Budaya dan Kekuasaan, Basuki Agus dkk. menyebutkan bahwa media perlu menjalankan fungsi advokatif agar publik lebih kritis dan cerdas dalam menilai isi media. CNA memenuhi fungsi ini dengan mengangkat suara perempuan adat yang kerap terpinggirkan dalam narasi pembangunan nasional. Liputan ini membuka peluang lahirnya kebijakan yang lebih inklusif, seperti dukungan Bank Indonesia kepada komunitas Petronela, yang nantinya menjadi jembatan kolaborasi lintas sektor bagi masyarakat dan lingkungan.

Tak hanya itu, kisah Petronela dapat menjadi sumber inspirasi yang menunjukkan bahwa aksi lingkungan bisa berawal dari inisiatif individu. Berita ini turut menegaskan peran strategis perempuan adat dalam menjaga bumi. Dengan pendekatan jurnalistik yang empatik dan solutif, CNA membuktikan bahwa media tak sekadar menyampaikan berita, tetapi juga mendorong perubahan sosial menuju pembangunan yang adil dan berkelanjutan.

ANALISIS PEMBERITAAN

Teori

Gaya penulisan media Channel News Asia (CNA) dalam meliput perjuangan Petronela Merauje cocok dianalisis melalui model Social Construction of Reality. Model ini menjelaskan bahwa realitas dibentuk secara sosial melalui proses interaksi, di mana pengetahuan yang memiliki makna-makna tentang dunia dikonstruksi, disebarkan, dan dilembagakan oleh masyarakat (Berger & Luckmann, 1966). Melalui model ini, CNA tidak sekadar menyajikan data berupa kerusakan mangrove, namun juga membangun narasi publik terhadap isu lingkungan, budaya, dan simbol perjuangan perempuan adat. Realitas yang disajikan bukan semata tentang lingkungan yang rusak, tetapi juga tentang harapan, ketahanan, dan transformasi sosial berbasis komunitas.

Pemberitaan ini juga selaras dengan teori agenda setting, yang menjelaskan bahwa media massa tidak menentukan apa yang harus dipikirkan oleh publik, tetapi sangat berpengaruh dalam menentukan apa yang harus dipikirkan oleh publik tentang sesuatu, yakni dengan memilih isu tertentu untuk diberitakan lebih intens, sehingga isu tersebut dianggap penting oleh masyarakat (McCombs & Shaw, 1972). Dalam konteks pemberitaan ini, CNA memilih isu spesifik, yakni konservasi mangrove oleh komunitas perempuan dan mengangkatnya sebagai agenda publik. Dengan menjadikan Petronela sebagai perhatian utama, CNA menyoroti pentingnya pelibatan perempuan dalam pembangunan dan konservasi, sehingga membentuk opini dan perhatian pembaca terhadap pentingnya pembangunan yang inklusif dan berkelanjutan.

Selain itu, jika dianalisis dari gaya penulisannya yang naratif, berita yang dingkat oleh CNA juga mencerminkan pendekatan solutions journalism, yaitu jurnalisme yang tidak hanya fokus pada masalah, tetapi juga memberi sorotan pada solusi dan dampak positifnya (McIntyre & Gyldensted, 2017). Pemberitaan ini menunjukkan hasil nyata dari aksi komunitas, seperti penghijauan dan pengolahan mangrove menjadi produk ekonomi. Dengan demikian, CNA tidak hanya menjalankan fungsi informatif, tapi juga edukatif dan transformasional, membentuk kesadaran publik terhadap pentingnya pembangunan yang adil dan berbasis kearifan lokal.

Fungsi pemberitaan terhadap pembangunan

Berita dengan judul Indonesian mother of six aims to keep Papuan tradition alive by saving mangroves in women-only forest, memiliki peran yang strategis terhadap pencapaian SDGs. Media massa, sebagai salah satu pilar informasi masyarakat memiliki kontribusi yang signifikan dalam membangun kesadaran publik dan mendukung aksi kolektif lewat konten yang disajikan. Dalam konteks ini, cerita tentang seorang ibu yang berjuang untuk pelestarian hutan mangrove dengan inisiatifnya yang sangat hebat melalui hutan khusus perempuan yang mencerminkan bagaimana nilai-nilai lokal bisa sesuai dengan rencana pembangunan global.

Kapasitas berita untuk meningkatkan kesadaran lingkungan dan masyarakat, merupakan fungsi utama dari pemberitaan ini. Hutan Mangrove merupakan ekosistem kritis yang memiliki peran sebagai penyerap karbon yang efektif dan dapat melindungi pesisir dari abrasi. Dengan mengangkat isu perlindungan mangrove di Papua, berita ini secara tidak langsung mengajarkan kepada masyarakat tentang pentingnya menjaga ekosistem yang sangat diperlukan untuk saat ini dan masa yang akan mendatang. Selain itu, berita ini mencatat pengetahuan lokal masyarakat Papua dalam pengelolaan sumber daya alam secara berkelanjutan, yang kini menjadi perhatian utama dalam modern development yang menghargai keseimbangan antara pelestarian lingkungan dan pertumbuhan ekonomi.

Dimensi gender dalam berita ini juga memberikan kontribusi yang penting untuk dialog pembangunan dengan menonjolkan peranan utama perempuan dalam proyek pelestarian lingkungan, didalam berita ini mengamati model pembangunan inklusif gender yang mementingkan hak-hak serta kepemimpinan perempuan dalam mengelola sumber daya alam. Hal ini searah dengan prinsip SDGs 5, 13, dan 14, yang menekankan akan pentingnya keterlibatan semua anggota masyarakat dalam menjaga sumber daya alam di dunia serta konsep “hutan untuk perempuan” yang memberikan contoh nyata tentang bagaimana perspektif gender dapat dimasukkan ke dalam strategi pelestarian lingkungan.

Dari sudut pandang SDGs, berita ini berkaitan dengan beberapa tujuan global. Tujuan dari SDGs 5 berfokus pada gender equality yang terlefeksi dalam peningkatan peran perempuan dalam pengelolaan lingkungan. Kemudian ada SDGs 13 dengan tujuan beberapa tindakan yang berkaitan dengan penanganan iklim, yang terlihat pada upaya pelestarian mangrove yang berfungsi untuk menyerap karbon dan benteng alami terhadap badai pesisir dan kenaikan permukaan air laut. SDGs 14, berkaitan dengan ekosistem laut dan darat yang terpenuhi melalui perlindungan ekosistem mangrove.

Channel New Asia sebagai platform berita internasional yang memiliki jangkuan luas, menggunakan peran krusial dalam mendistribusikan implementasi positif dari Indonesia kepada para audiens di seluruh dunia. Berita yang disajikan tidak hanya meningkatkan visibilitas upaya lokal di paggung global saja, tetapi juga membantu menciptakan narasi alternatif tentang pembangunan yang menekankan pada partisipasi dari masyarakat dan kearifan lokal. Era dimana pencarian solusi untuk pembangunan yang berkelanjutan semakin mendesak, cerita-cerita seperti ibu Papua yang menunjukkan inspirasi serta pelajaran berharga tentang bagaimana komunitas lokal dapat menjadi garda terdepan dalam menghadapi beban tantangan lingkungan global. Oleh karena itu, fungsi dari pemberitaan ini bukan hanya sekedar untuk menyampaikan informasi saja, tetapi juga berperan sebagai penghubung antara praktik lokal dengan agenda global, yang dapat meningkatkan kesadaran lintas negara tentang konservasi lingkungan, serta menunjukkan bagaimana SDGs dapat dicapai melalui pendekatan yang menghargai kesetaraan gender dan kearifan lokal. Dalam konteks Indonesia yang dianggap memiliki kekayaan ekosistem mangrove terbesar di dunia, narasi jenis ini memiliki peran strategis dalam mendorong kebijakan yang lebih berpihak pada kelestarian lingkungan dan kenyamanan masyarakat pesisir.

SIMPULAN

Berita berjudul Indonesian mother of six aims to keep Papuan tradition alive by saving mangroves in women-only forest yang dipublikasikan oleh Channel News Asia (CNA) ini patut diapresiasi karena berhasil mengangkat perjuangan Petronela Merauje, seorang perempuan adat Papua, yang selama ini sering terpinggirkan. Pemberitaan ini telah mencangkup isu lingkungan, budaya, sekaligus gender dengan narasi yang kuat dan empatik. Namun, dari sudut pandang kritis, pemberitaan ini masih dapat digali lebih dalam pada aspek struktural dan politik yang menjadi akar permasalahan. Dalam hal ini, CNA hanya fokus pada perjuangan individual Petronela, tetapi belum menggali cukup dalam mengenai kebijakan pembangunan nasional, tata kelola lingkungan, serta minimnya partisipasi masyarakat adat turut memperparah kerusakan lingkungan tersebut. Hal ini pun menjadi sangat penting bagi pembaca yang tidak hanya melihat sebagai tantangan lokal yang diselesaikan secara lokal pula.

Dari gaya penulisan, adanya pendekatan solutions journalism dengan critical journalism akan lebih menarik jika diterapkan. Sehingga tak hanya menonjolkan keteladanan Petronela dan upaya komunitasnya, namun juga menyisipkan analisis kebijakan, seperti siapa aktor di balik pembangunan infrastruktur yang merusak mangrove, bagaimana prosedur konsultasi publik dijalankan, serta sejauh mana pemerintah pusat dan daerah bertanggung jawab. Hal ini juga dapat didukung oleh suara dari pihak lain seperti pejabat daerah, ahli lingkungan, dan aktivis hak adat untuk memperkaya sudut pandang dan menyeimbangkan narasi. Dengan begitu, berita tidak berhenti pada inspirasi, tapi mampu mendorong refleksi dan perubahan struktural.


메타데이터
post_id
ff8fb5029ecb
slug
pemberitaan-indonesian-mother-of-six-aims-to-keep-papuan-tradition-alive-by-saving-mangroves-in-ff8fb5029ecb
url
https://medium.com/@nuursharfina/pemberitaan-indonesian-mother-of-six-aims-to-keep-papuan-tradition-alive-by-saving-mangroves-in-ff8fb5029ecb
canonical_url
https://medium.com/@nuursharfina/pemberitaan-indonesian-mother-of-six-aims-to-keep-papuan-tradition-alive-by-saving-mangroves-in-ff8fb5029ecb
author_url
https://medium.com/@nuursharfina
status
ok
fetched_at
2026-07-20 04:50:45