← Back to list

Belanda Masih Jauh

#1018: Antara Tergesa dan Tersenyum

Ivan Lanin · 2025-10-08 14:13 · 474 claps · 2.3 min read paywalled
#ungkapan #belanda #bahasa-indonesia
Open on Medium ↗

Jurnal

Belanda Masih Jauh

#1018: Antara Tergesa dan Tersenyum

Ilustrasi: meomupmofilm/Pexels

Ilustrasi: meomupmofilm/Pexels

Pagi itu saya sedang bersiap berangkat mengajar. Ketika masuk kamar mandi, Arka berseru dari luar, “Sebentar, Yah!” Rupanya dia baru selesai mandi dan pakaian kotornya masih tercecer. Gerakannya lambat, sementara saya tergesa. Tanpa sadar saya berkata, “Santai aja, Ka. Belanda masih jauh.” Istri saya terkekeh, “Arka nggak tahu candaan itu, Beb.” Saya pun ikut tertawa, menyadari betapa ungkapan itu sudah jarang terdengar.

🔑 Lanjutkan membaca dengan mengklik tautan teman ini.

Saya tersenyum sambil mandi. Kalimat itu meluncur begitu saja, padahal sudah lama tak saya ucapkan. Bagi generasi Arka, ungkapan itu mungkin terdengar asing. Saya jadi teringat betapa banyak peribahasa dan kiasan lama perlahan hilang dari percakapan harian, tergantikan oleh bahasa yang lebih praktis. Padahal, di balik kelucuannya, sering tersimpan pandangan hidup yang dalam. “Belanda masih jauh” termasuk di antaranya.

Konon, ungkapan itu muncul karena kabar dari negeri Belanda membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk sampai di Hindia Belanda. Ia menggambarkan jarak yang tidak hanya geografis, tetapi juga temporal. Ketika seseorang berkata, “Belanda masih jauh,” maksudnya adalah perjalanan masih panjang, jangan tergesa. Ungkapan ini lahir dari realitas keterbatasan zaman, tetapi bertahan karena menawarkan kebijaksanaan yang tak lekang waktu.

Kini, di tengah dunia yang serbacepat, ungkapan itu terasa makin relevan. Kita terbiasa menuntut hasil instan, dari pengiriman barang sampai pencapaian diri. Maka, kalimat itu menjadi pengingat lembut agar tidak mendahului waktu. Ia menertawakan kegelisahan kita sendiri sambil mengajarkan bahwa kecepatan tidak selalu berarti kemajuan. Kadang, yang kita perlukan bukan tambahan tenaga, melainkan sedikit jeda.

Saya membayangkan kelak Arka mungkin melontarkan ungkapan itu dari mulutnya sendiri kepada anaknya. Bahasa, bagaimanapun, hidup dengan cara diwariskan. Kata-kata lama tidak benar-benar mati, hanya menunggu giliran untuk dihidupkan kembali. Barangkali nanti, ketika dia sedang terburu-buru, ia pun akan mengucapkannya tanpa sadar dan tersenyum mengingat pagi di rumah kami.

“Belanda masih jauh” bukan sekadar warisan tutur, melainkan pelajaran tentang sabar dan proporsionalitas. Ia mengingatkan bahwa hidup bukan perlombaan menuju akhir, melainkan perjalanan menuju pengertian. Di kamar mandi pagi itu, di antara cucian kotor dan jam yang terus berdetak, saya menyadari lagi bahwa tergesa tak selalu membuat kita lebih cepat. Kadang ia justru membuat kita lupa menikmati perjalanan.

Jurnal dan Kenangan

Selasa kemarin, saya memberikan kelas privat untuk pertama kalinya. Siswa saya Teh Lenah, teman lama di grup penerjemah Bahtera yang tinggal di London dan bekerja untuk perusahaan pengembangan AI. Sebenarnya, sudah lama Teh Lenah ingin belajar bersama saya. Sebagai mantan wartawan yang pernah bekerja di Tempo dan BBC, dia merasa perlu menyegarkan pengetahuan kebahasaannya. Niat itu akhirnya terwujud tahun ini sambil dia pulang kampung ke Indonesia.

Tahun lalu, saya mempraktikkan latihan menulis dengan menggali kenangan lewat metode “Saya ingat” yang terinspirasi dari memoar I Remember karya Joe Brainard. Dari tantangan Mas Sulak, saya mencoba menuliskan dua belas ingatan masa kecil dalam sepuluh menit. Latihan sederhana itu membuka kembali emosi lama dan menunjukkan betapa ingatan dapat menjadi sumber cerita yang hidup.

[embed]Saya Ingat #653: Berlatih menggali kenangan untuk membuat ceritaivanlanin.medium.com

Dua tahun lalu, tim Narabahasa berwisata ke Baturraden dalam kegiatan Narakelana. Selama tiga hari dua malam, kami menikmati arung ban, lomba seru, dan api unggun di Vila Agathis. Perjalanan itu bukan sekadar rekreasi, melainkan juga cara melepaskan penat, mempererat hubungan, dan menemukan kembali semangat sebelum melanjutkan kerja sebagai tim yang lebih padu.

[embed]Narakelana ke Baturraden Melepaskan beban, mengeratkan hubunganivanlanin.medium.com

Ingin lebih terampil berbahasa? Kunjungi toko 🏪, ikuti kelas 👨‍🏫, atau hubungi 📞 Narabahasa.


메타데이터
post_id
ffa407cddcf7
slug
belanda-masih-jauh-ffa407cddcf7
url
https://medium.com/@ivanlanin/belanda-masih-jauh-ffa407cddcf7
canonical_url
https://medium.com/@ivanlanin/belanda-masih-jauh-ffa407cddcf7
author_url
https://medium.com/@ivanlanin
status
ok
fetched_at
2026-07-23 01:15:00