Menanti (14) Juni
Permulaan untuk sebuah perjalanan panjang.
Menanti (14) Juni
Permulaan untuk sebuah perjalanan panjang.
Photo by Jeremy Wong Weddings on Unsplash
Saya tidak menyangka akan berada di tahap ini, atau sampai ke tahap ini. Tahap menanti pernikahan yang tinggal menghitung hari. Apakah saya excited? Tentu saja!
Menikah adalah impian bagi semua wanita, terutama bagi mereka di usia yang telah cukup dikatakan dewasa. Namun semakin kesini, saya melihat “menikah” bukan hanya sekedar impian, melainkan pekerjaan.
Marriage is not a noun; it’s a verb. It isn’t something you get. It’s something you do. It’s the way you love your partner every day. -**Barbara De Angelis**
“Me” dalam menikah, menandakan sebuah kata kerja. Sama seperti “membeli” ketika kita melakukan tindakan pembelian, atau “meminum” ketika kita melakukan aktvitas minum. Begitu pula “menikah” dan “mencintai”, tentu banyak aktivitas dan hal-hal yang harus kita lakukan di dalamnya.
Barbara De Angelis berkata, pernikahan bukan sesuatu yang kamu dapatkan (secara cuma-cuma), ia adalah sesuatu yang harus kamu usahakan. Bagaimana kamu menjaga cinta itu terus hidup, saling mengasihi, saling menghormati, saling melempar kata-kata pujian, saling menghargai usaha masing-masing, saling menguatkan, dan banyak saling lainnya.
Dalam islam, menikah adalah ibadah terpanjang. Ibadah ini terhitung dari akad terucap hingga maut memisahkan. Pasalnya, untuk ibadah sholat yang berlangsung 5–10 menit saja kita sering mengeluh dan tidak fokus. Lantas bagaimana dengan ibadah seumur hidup?
Karenanya, hadiah untuk bagi mereka yang menikah juga tidak main-main. Saya pernah mendengar sebuah kalimat yang menyatakan menikah adalah lonjakan untuk perubahan mental seseorang (menuju lebih baik). Karena dalam menikah, kita akan banyak “belajar”. Bagaimana bekerja sama yang adil, membangun komitmen di tengah ketidakpastian, saling meredam ego, berlaku baik meski mood sedang tidak baik. Terlebih ketika anak sudah lahir. Konon, anak adalah guru kehidupan. Dari mereka kita banyak belajar tentang hidup yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya.
Terkait rezeki, rasanya saya tidak perlu khawatir. Allah sendiri yang menjamin kecukupan dan memberi kemampuan bagi mereka yang hendak menikah. Seperti yang terlafadz pada surat An-Nur ayat 32.
وَأَنْكِحُوا الْأَيَامَى مِنْكُمْ وَالصَّالِحِينَ مِنْ عِبَادِكُمْ وَإِمَائِكُمْ إِنْ يَكُونُوا فُقَرَاءَ يُغْنِهِمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ
“Dan kawinkanlah orang-orang yang sedirian diantara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS An-Nur 32)
Alhamdulillah, minggu ini saya sedang menerima banyak kiriman hadiah dari teman-teman dan saudara tersayang, yang membuat saya semakin percaya bahwa karunia bagi hamba yang menikah memang benar adanya.
10 Juni 2026
메타데이터
- post_id
- ffa6cf2e4c3d
- slug
- menanti-14-juni-ffa6cf2e4c3d
- url
- https://medium.com/@baristakselesai/menanti-14-juni-ffa6cf2e4c3d
- canonical_url
- https://medium.com/@baristakselesai/menanti-14-juni-ffa6cf2e4c3d
- author_url
- https://medium.com/@baristakselesai
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-26 21:52:29