← Back to list

Formulir

401 — seahorse

annepitaloca · 2025-10-03 04:22 · 2 claps · 4.2 min read
#soonwoo #science-fiction #boys-love
Open on Medium ↗
Wiki topics: 🔬 · Science · General 💑 · Relationships 🐾 · Pets & Animals ✍️ · Writing & Creative

Formulir

401 — seahorse

401 — seahorse

Kantin Laguna Medical Centre sore itu ramai seperti biasa. Di pojok, meja panjang yang biasanya jadi tempat kumpul tim bedah sel terisi penuh, suara tawa bercampur dengan dentingan sendok. Wonwoo duduk di salah satu kursi, kemeja putihnya masih rapi, kacamata menempel di batang hidung. Dia ikut percakapan tanpa benar-benar mendominasi, lebih sering jadi pendengar yang sesekali menyelipkan komentar.

Profesor Will, yang terkenal dengan gaya bicaranya blak-blakan, tiba-tiba menoleh padanya. Dengan nada iseng khasnya, ia bertanya, “Dokter Wonwoo, nggak kepengen ikut serta buat sumbangan surga?”

Ucapan itu disambut tawa ringan di meja, bukan sesuatu yang asing. Di kalangan mereka, sudah jadi rahasia umum kalau siapa pun bisa mendaftarkan diri, toh akan ada skrining ketat melalui aspirasi sperma sebelum dianggap layak.

Wonwoo menahan senyum, tertawa kecil. “Aduh, berat, Prof. Saya masih banyak pertimbangan.”

“Ealah, guyon loh aku,” balas Prof Will sambil mengangkat gelas plastiknya. Obrolan pun beralih ke topik lain, dan Wonwoo tidak merasa perlu menambahkan apa pun lagi. Tapi kata-kata itu sempat menancap tipis di kepalanya.

Sementara itu, di ruang evaluasi klinik fertilitas, Soonyoung menjalani rangkaian pemeriksaan.

“Dokter Soonyoung, tenang aja. Ini cuma pengambilan sampel darah rutin untuk profil hormon,” ujar Mbak Wina sambil mengenakan sarung tangan.

Soonyoung mengangguk, lengan kanannya digulung, jarinya sedikit tegang. “padahal aku udah biasa ambil darah pasien, tapi kalau diri sendiri tetap agak kaku ya.”

Mbak Wina tersenyum. “Ya wajar inimah. Oke, saya masukin jarumnya.”

Jarum kecil menembus kulit, darah merah segar mengalir ke tabung. Suasana hening sejenak, hanya terdengar bunyi mesin pendingin di sudut ruangan.

“Ini buat cek FSH, LH, estradiol, sama panel hormon lain,” jelas Mbak Wina sambil melepas jarum. “Nanti juga kita lihat fungsi gonad lewat imaging.”

Soonyoung menarik napas. “Oke paham, Mbak. Kalau ada yang kurang, berarti bisa nggak lanjut ya?”

“Betul. Makanya tahap evaluasi ini penting. Kita harus pastikan tubuh dokter bisa ga menerima implantasi tanpa risiko besar.”

Mereka sempat terdiam beberapa detik, hanya suara bolpoin menulis di lembar kertas. Lalu Mbak Wina menambahkan dengan nada lebih santai, “Ngomong-ngomong, kenapa sih kamu tiba-tiba mutusin mau ikut sebagai receiver? Maksudku… kamu kan bisa aja ambil posisi aman, sekadar di tim biomed.”

Soonyoung menghela napas pelan. “Aku mikir… di balik kerjaan ini, ada yang lebih besar ga yang sekadar ambil riset, kaya merasa ada sesuatu yang baik akan datang kalau aku berani coba. Emang kedengarannya klise. tapi tuh rasanya kayak… manifesting gitu, Mbak.”

Mbak Wina tersenyum, menatapnya dengan lembut. “Manifesting, ya. Okedeh, saya catat aja, alasan personal: manifestasi humanity. Nggak apa-apa kok. Setiap orang punya drive masing-masing.”

Soonyoung komplen dengan nadanya agak merengek, “eh jangan tulis gitu di laporan, Mbak.”

Mereka berdua tertawa kecil, mencairkan suasana.

Hari-hari berjalan. Wonwoo, seringkali melihat Soonyoung di koridor atau ruang persiapan, berbicara dengan perawat obgyn atau midwife. Tanpa dia sadari, Wonwoo beberapa kali memperhatikan. Bukan dengan niat mengawasi, lebih karena kebetulan mereka sering berada di area yang sama. Wonwoo melihat Soonyoung bercakap santai dengan para bidan dari obgyn, atau duduk di meja kerja sambil menukar catatan dengan Mbak Wina.

Bagi orang luar, itu tampak normal. Tapi bagi Wonwoo, ada sesuatu yang berbeda. Soonyoung kelihatan lebih terbuka ketika bicara dengan tim obgyn, meski tetap menjaga profesionalitas. Wonwoo yang biasanya santai, mulai menyimpan tanya dalam hati.

Hingga suatu sore, ketika dia sedang menunggu laporan pasien, terdengar percakapan bisik-bisik dari dua anak obgyn di meja resepsionis.

“…katanya Dokter Soonyoung itu receiver, bukan donor.” “Eh Serius? Jadi sampel?” “Iya, makanya evaluasi intensifnya beda.”

Kalimat itu menancap cepat. Wonwoo tertegun, menoleh setengah refleks. Dia tidak menegur atau menanyakan, tapi pikirannya sudah bergulir ke arah yang lain. Receiver. Itu berarti Soonyoung sendiri memiliki kondisi sebagai carrier. Fakta yang cukup langka, dan jarang diungkapkan kecuali ke lingkaran terbatas.

Sejak saat itu, setiap kali menatap Soonyoung, Wonwoo merasa ada perasaan lain muncul. Bukan sekadar penasaran. Ada iba, ada simpati, ada dorongan ingin tahu alasan sebenarnya.

Namun di permukaan, hubungan mereka tetap sama. Supervisor dan junior. Diskusi jurnal, revisi laporan, evaluasi data. Wonwoo menahan diri, meski kadang tatapannya bertahan lebih lama dari seharusnya.

Soonyoung yang peka, suatu kali menegur, “Ada masalah sama jurnalku, Dok?”

Pertanyaan itu membuyarkan lamunan Wonwoo. “A… eum… ini sudah aman. Saya belum baca sepenuhnya, Soonyoung. Nanti kalau memang ada revisi, coba saya infokan.”

Soonyoung menatap sebentar, lalu mengangguk. “Oke, dokter.”

Jawaban singkat itu cukup untuk membuyarkan lamunan Wonwoo, memaksanya kembali ke realita.

Malam-malam berikutnya, Wonwoo mulai menimbang lagi formulir yang sudah lama tergeletak di mejanya. Formulir pendaftaran donor untuk program “sumbangan surga.” Selama hampir dua bulan, kertas itu hanya jadi penghuni map biru, sesekali dia lirik lalu dia abaikan lagi.

Tapi kali ini, tangannya benar-benar mengambil bolpoin. Dia menaruh kedua telapak tangan yang dikepal di philtrumnya, menunduk lama sambil menatap kolom kosong.

“Kenapa harus gue? Apa urgensinya?” pertanyaan itu berkali-kali muncul.

Di kepalanya, bayangan Soonyoung muncul — serius, tekun, dan diam-diam memikul keputusan besar sebagai receiver. Wonwoo tidak tahu apa motivasi di balik itu, tapi ada sesuatu yang membuatnya ingin terlibat, entah sebagai bentuk solidaritas atau sekadar dorongan manusiawi.

Akhirnya, dengan tarikan napas panjang, dia mulai mengisi kolom pertama.

“Cieee, akhirnya diisi juga tuh form.”

Suara familiar membuatnya tersentak. Seungcheol sudah berdiri di belakangnya, tangan masuk ke saku baju operasi, kepala condong sejajar.

“Anjrit lu ya. Kapan masuknya, Dah?” Wonwoo hampir menjatuhkan pulpen.

“Padahal gue udah nyapa tadi. Lu serius banget, kirain lagi review jurnal. Eh taunya bengong,” goda Seungcheol sambil terkekeh.

Wonwoo menghela napas, memutar bola mata. “Iya udah gue isi formnya. Tinggal gatak pala lu aja yang belom.”

Wonwoo hanya menghela napas panjang. “Dalem banget pertimbangannya, Pak Doktel,” tambah Seungcheol, suaranya dibuat menye-menye.

Diapun menutup map formulir, menatap sahabatnya dengan wajah datar. “Iya, gue isi. Udah puas?”

“Tapi,” Seungcheol menjatuhkan badannya ke sofa, suaranya lebih rendah, “apa yang akhirnya bikin lu ngisi formnya?”

Wonwoo menatap lurus ke layar PC, kacamata melorot sedikit di batang hidungnya. Bibirnya menekuk tipis.

“Kepo lu,” jawabnya singkat.

Seungcheol terkekeh lagi, tapi tidak memaksa. Dia tahu Wonwoo — kalau sudah menjawab begitu, artinya cerita yang sebenarnya disimpan rapat, mungkin suatu saat bakal keluar, mungkin juga tidak. mungkin.

Namun, malam itu, ketika jadwalnya sepi, Wonwoo kembali membuka formulir yang sudah diisi. Wonwoo tahu, keputusannya bukan tanpa alasan. Ada sesuatu yang mendorongnya, sesuatu yang bahkan tidak sempat ia jelaskan pada siapa pun.

Ia menatap kolom tanda tangan, pena hitam menunggu di atas kertas. Dengan satu gerakan mantap, ia menorehkan tanda tangannya.

Keputusan itu sudah bulat.


메타데이터
post_id
ffae46b26323
slug
formulir-ffae46b26323
url
https://medium.com/@asahongsumn/formulir-ffae46b26323
canonical_url
https://medium.com/@asahongsumn/formulir-ffae46b26323
author_url
https://medium.com/@asahongsumn
status
ok
fetched_at
2026-07-28 18:41:33