← Back to list

Menjawab #PercumaLaporPolisi: Janji ‘Bentuk Hati’ Polri Lewat Lagu The Shape Of My Heart

Akhir-akhir ini saya sedang sering membuka platform TikTok. Di antara deretan video Kpop dan traveling, algoritme For You Page (FYP) saya…

Savaira · 2026-04-06 00:09 · 0 claps · 2.9 min read
#polri #backstreet-boys #policy #police
Open on Medium ↗
Wiki topics: ✈️ · Travel

Menjawab #PercumaLaporPolisi: Janji ‘Bentuk Hati’ Polri Lewat Lagu The Shape Of My Heart

Akhir-akhir ini saya sedang sering membuka platform TikTok. Di antara deretan video Kpop dan traveling, algoritme For You Page (FYP) saya terus-menerus menampilkan jajaran polisi muda dengan seragam rapi, melakukan aksi heroik yang menyentuh, entah itu mengawal ibu-ibu menyebrang menembus kemacetan, membantu mengganti ban bocor seorang pengemudi di tepi jalan, membantu warga yang kekurangan dan lain sebagainya. Semua video itu memiliki suatu kesamaan: musik latar Shape of My Heart dari Backstreet Boys dengan tagar #polriuntukmasyarakat pada captionnya.

Awalnya saya pikir ini hanya tren musiman biasa, namun setelah saya telisik lebih dalam melalui kacamata sosiokomunikasi (Aseek begaya ni begaya), hal ini bukan sekadar tren iseng. Di baliknya, ada upaya besar institusi kepolisian untuk mengambil alih kembali kepercayaan Masyarakat di tengah badai krisis kepercayaan yang sempat mencapai titik nadir sebelumnya.

Metafora Pengakuan: Kenapa Harus Backstreet Boys?

Pemilihan lagu rilisan tahun 2000 ini sangat menarik secara semiotika. Liriknya yang berbunyi, “Looking back on the things I’ve done… I played my part, kept you in the dark,” seolah menjadi pengakuan bawah sadar institusi atas banyaknya kesalahan-kesalahan oknum di masa lalu yang membuat hubungan polisi dan masyarakat penuh jarak serta kesalahpahaman.

Kalimat kunci “Now let me show you the shape of my heart” bertransformasi menjadi sebuah janji simbolis, janji “Bentuk Hati”. Lewat konten visual tersebut, Polri ingin menunjukkan sisi humanis atau Bentuk Hati mereka yang selama ini mungkin tertutup oleh kesan kaku dan intimidatif.

Sebenarnya ini adalah strategi Cyber Public Relations yang cerdas untuk menyentuh sisi afektif (perasaan) audiens di platform TikTok, apalagi dengan dominasi Gen Z pada platform tersebut, membantu meruntuhkan tembok stigma negatif yang selama ini membentengi institusi. Karena bagi Generasi Z, teknologi dan media sosial bukan sekadar alat, melainkan identitas yang melekat pada keseharian mereka yang ditunjukkan dengan Konsistensi.

Meruntuhkan Tembok #PercumaLaporPolisi

Kita tahu bahwa kepercayaan publik terhadap Polri sempat anjlok hingga 43,1% pada Oktober 2022 akibat krisis integritas internal. Di saat yang sama, tagar kritis seperti #PercumaLaporPolisi dan #NoViralNoJustice mendominasi ruang digital sebagai bentuk frustrasi masyarakat.

Tren TikTok yang didominasi oleh polisi muda ini hadir sebagai counter-opinion. Dampaknya pun nyata secara sosiologis. Penelitian di lingkungan Polda DIY menunjukkan bahwa konten yang humanis dan humoris berhasil menghilangkan stigma psikologis yang mengintimidasi.

Masyarakat mulai merasa tidak lagi sungkan untuk berinteraksi, baik memberikan apresiasi maupun laporan langsung melalui kolom komentar di TikTok.

Mengapa Polisi Muda Jadi Ujung Tombak?

Dominasi personil muda dalam tren ini bukan tanpa alasan. Mereka adalah digital natives yang memandang teknologi sebagai identitas. Mengacu pada teori Erving Goffman tentang manajemen kesan, polisi muda menggunakan TikTok sebagai “panggung depan” untuk membangun persepsi bahwa aparat saat ini lebih modern, bugar, dan aksesibel bagi generasi sebayanya.

Contoh suksesnya bisa kita lihat pada gerakan seperti “Kopi Curhat Pak Bhabin” oleh Brigadir Agus Kurniawan. Dengan 11 kriteria personal branding yang kuat termasuk keaslian diri dan niat baik, pendekatan personal di TikTok terbukti jauh lebih efektif merebut hati rakyat dibandingkan sekadar pengumuman formal di media konvensional .

Janji yang Harus Dibuktikan: Konsistensi adalah Kunci

Namun, sebagai penulis, saya juga ingin memberikan catatan kritis. Ada risiko besar yang disebut penal populism, di mana masyarakat merasa keadilan hanya bergerak jika suatu kasus menjadi viral di media sosial. Jika wajah humanis di layar TikTok tidak dibarengi dengan reformasi pelayanan substantif di kantor-kantor polisi, maka janji “Bentuk Hati” ini percuma dan hanya akan dianggap sebagai pencitraan belaka.

Kepercayaan masyarakat yang sudah mulai pulih adalah momentum mahal yang harus dijaga. Sebagaimana lirik lagunya, “I never wanna play the same old part,” Polri harus bisa membuktikan bahwa instansi tidak akan lagi memainkan peran lama yang menjauhkan mereka dari rakyat.

Legitimasi kepolisian di era digital kini tidak hanya dibangun melalui penggunaan senjata atau kekuatan hukum, tetapi melalui kemampuan mereka untuk menunjukkan “Bentuk Hati” yang tulus dalam melayani.

Setelah ini mari kita kawal bersama, apakah video-video polisi muda di FYP kita akan benar-benar terwujud dalam pelayanan profesional di dunia nyata atau tidak. Jujur saja, sebenarnya itu bukan ranah kita untuk memantau, melainkan instansi harus sadar bahwa bentuk hati yang tulus itu adalah kewajiban konstitusional dan moral yang melekat pada setiap helai seragam mereka.

Karena di mata masyarakat, satu video polisi membantu warga yang hanya berdurasi 60 detik, bisa membuat kepercayaan yang terbangun untuk bertahan selamanya.


메타데이터
post_id
ffca10a823da
slug
menjawab-percumalaporpolisi-janji-bentuk-hati-polri-lewat-lagu-the-shape-of-my-heart-ffca10a823da
url
https://medium.com/@savairarizqin153/menjawab-percumalaporpolisi-janji-bentuk-hati-polri-lewat-lagu-the-shape-of-my-heart-ffca10a823da
canonical_url
https://medium.com/@savairarizqin153/menjawab-percumalaporpolisi-janji-bentuk-hati-polri-lewat-lagu-the-shape-of-my-heart-ffca10a823da
author_url
https://medium.com/@savairarizqin153
status
ok
fetched_at
2026-06-28 10:39:35