Merancang huruf dan makna
Selain merancang font, aku juga merancang logo berbasis kaligrafi Arab. Keduanya berangkat dari kegelisahan yang sama: bagaimana huruf bisa…
Merancang huruf dan makna
Selain merancang font, aku juga merancang logo berbasis kaligrafi Arab. Keduanya berangkat dari kegelisahan yang sama: bagaimana huruf bisa berbicara bukan hanya sebagai bentuk, tetapi sebagai identitas. Logo ini adalah salah satu hasilnya — sekaligus potongan dari proses yang panjang.

Pertanyaan yang paling sering muncul ketika seseorang melihat sebuah karya kaligrafi adalah pertanyaan yang tampak sederhana: “Ini khat apa?” Namun justru di situlah persoalan dimulai.
Dalam tradisi kaligrafi Arab, penamaan jenis khat bukan sekadar label visual, melainkan penanda silsilah: ada guru, kaidah, sejarah, dan fungsi yang menyertainya. Maka ketika sebuah karya tidak bisa dijawab dengan satu nama, ia sering dianggap “belum selesai” atau “tidak jelas”. Padahal, bisa jadi ia justru sedang selesai dengan caranya sendiri.
Mungkin karena saling bertaut — antara tebiasa dalam disiplin merancang font dan sedikit mengerti kaidah dasar kaligrafi — aku terbiasa berpikir secara modular: menjaga konsistensi bentuk, serta menyadari bahwa satu huruf tidak pernah benar-benar berdiri sendiri; ia selalu menjadi bagian dari sebuah sistem. Pengalaman itu membuatku melihat huruf bukan hanya sebagai elemen visual yang bergerak bebas, tetapi sebagai komponan jaringan yang saling bersinggungan satu sama lain, saling bertanya, saling menjawab.
Itulah sebabnya bentuk ini terasa lebih dibangun daripada dituliskan. Ia muncul sebagai satu kesatuan yang utuh, bersikap tegas terhadap karakternya sendiri dan mampu berdialog dengan konteks visual yang lebih luas — tanpa harus kehilangan identitasnya saat merangkai teks yang lebih panjang. Kadang, bentuk ini juga aku gunakan sebagai dasar untuk tulisan lain — misalnya pepatah atau ungkapan — dan setiap kali itu terjadi, ia tetap mempertahankan jati dirinya.
Antara Kufi dan Sunbuli, tapi tidak menjadi keduanya
Sekilas, tulisan ini mengingatkan pada khat kufi. Struktur yang kaku, kecenderungan geometris, dan keberanian pada garis tebal memberi kesan arsitektural — seolah huruf-huruf itu dibangun, bukan ditulis. Namun ia bukan kufi dalam pengertian klasik. Jarang — bahkan hampir tidak pernah — kufi menampilkan dinamika tebal-tipis seperti ini.
Di sisi lain, menyebutnya sebagai sunbuli juga terasa janggal. Sunbuli dikenal lentur, hidup, dan penuh ritme organik. Sementara pada tulisan ini, kekakuan justru dipelihara sebagai karakter utama. Ia tidak mengalir, tetapi berdiri. Tidak menari, tetapi menegaskan. Tulisan ini berada di wilayah antara: meminjam logika struktur kufi dan sebagian rasa sunbuli, namun menolak tunduk sepenuhnya pada keduanya.

Salah satu proyek yang pernah kutangani: Tantangan membuat khat dengan teks panjang, sedikit menyerupai bentuk logo. Digunakan untuk hiasan dinding, dsb..
Kaidah yang dipatuhi, kategori yang ditinggalkan
Meski sulit diklasifikasikan, tulisan ini tidak lahir dari sikap serampangan. Ia tetap berangkat dari kesadaran terhadap kaidah kaligrafi Arab: keseimbangan, proporsi, ritme, dan relasi antarhuruf. Bentuknya memang mengotak. Pada beberapa bagian ia patah, pada bagian lain ia melengkung. Garis-garis horizontal dibuat tebal dan mantap, sementara garis vertikal, garis miring, sudut-sudut dan lengkungan ditipiskan. Pola ini bukan sekadar gaya visual, melainkan upaya menjaga ketegangan antara stabilitas dan gerak.
Dalam kaligrafi klasik, tebal-tipis sering mengikuti logika pena. Dalam karya ini, tebal-tipis mengikuti logika struktur. Bukan meniru gerak tangan, tetapi menafsirkan kembali ruhnya. Inilah standar yang aku gunakan dalam merancang logo kaligrafi ini: disiplin pada struktur, tetapi tidak terikat pada nostalgia bentuk.
Dari tulisan ke identitas
Ketika kaligrafi diposisikan sebagai logo, perannya berubah. Ia tidak lagi sekadar tulisan indah, tetapi menjadi identitas visual — sesuatu yang harus konsisten, dikenali, dan mampu berdiri dalam berbagai konteks: cetak, digital, arsitektural, hingga layar kecil.
Karena itu, pilihan untuk membuat bentuk yang tegas, kaku, dan modular bukanlah kebetulan. Ia sengaja dirancang agar dapat hidup berdampingan dengan dunia kontemporer: grid desain, tipografi modern, dan ekosistem visual yang serba presisi. Dalam konteks ini, kaligrafi tidak diperlakukan sebagai artefak masa lalu, melainkan sebagai bahasa visual yang masih bisa berkembang.
Mengutamakan pandangan, menjaga kaidah
Pada akhirnya, ukuran keberhasilan sebuah karya (mungkin termasuk logo kaligrafi ini), sederhana: enak dipandang dan tidak melanggar ruh khat. Ia mungkin tidak sepenuhnya tinggal di satu rumah tradisi, tetapi ia tidak datang sebagai tamu asing. Pernyataan ini subjektif, masih bisa diperbaiki.
Sedikit beraroma kufi, sedikit menyerap rasa sunbuli, dan mungkin terdengar futuristik — itulah posisi yang dengan sadar aku pilih. Bukan untuk menantang tradisi, tetapi untuk berdialog dengannya dari sudut yang lebih personal.
Karena bagi seorang perancang, kadang yang paling jujur bukanlah bertanya “ini termasuk jenis apa?”, melainkan “apakah ini bekerja dengan baik?”
Tirtanadi, 24 Januari 2026
메타데이터
- post_id
- ffcfa2f39e56
- slug
- merancang-huruf-dan-makna-ffcfa2f39e56
- url
- https://medium.com/@zakysme/merancang-huruf-dan-makna-ffcfa2f39e56
- canonical_url
- https://medium.com/@zakysme/merancang-huruf-dan-makna-ffcfa2f39e56
- author_url
- https://medium.com/@zakysme
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-16 19:09:56