← Back to list

Membiru.

Rumpang-Nadin Amizah

Dibiru 🦭 · 2026-06-14 19:49 · 0 claps · 3.4 min read
#poetry #music #parenting #family #nonfiction
Open on Medium ↗
Wiki topics: LIT · Literature & Writing CUL · Culture & Media 👨‍👩‍👧 · Family & Parenting ✍️ · Writing & Creative 📚 · Books & Reading 🎵 · Music & Audio

Cr: Pinterest.

Cr: Pinterest.

Membiru.

Rumpang-Nadin Amizah

Bila waktu berat untuk kupikul, maka dunia dan seisinya pun berat untuk kupikul. Namun, dalam dunia yang keji ini, katanya berat tersebut dapat dipikul bersama. Ku tertawakan saja omongan mereka. Omong kosong apa yang mereka ucapkan itu? Mana orang yang dapat kuajak pikul bersama itu? Mengapa hari-hariku masih saja terasa berat? Untuk siapakah kau berkata seperti itu? Mereka, berbohong.

“Ibu kepalaku berat sekali,” kataku sambil memegang kepala.

“Terlalu banyak menonton mungkin? Kau kan suka bermalas-malasan.”

Oh? Nyata hidup itu memang begini ya? Berkata sesuka kita, bahkan sampai membuat luka goresan kecil. Tanpa sadar, aku menganggap hal itu sudah biasa karena aku selalu menyalahkan diriku sendiri. Aku tak mampu menyalahkan orang lain hanya untuk hal yang baru pertama kali mereka lakukan.

Matahari dan bulan saksinya, ada kepercayaan yang kupegang kukuh. Mereka semua mendengar, mereka semua dapat melihatnya. Bahkan, dapat memberikan pernyataan buruk tersebut. Tetapi hidup tetap harus berjalan, umur yang bertambah dewasa, dan melihat anak melakukan hal yang sama seperti yang kulakukan pada masa kecil. Ibu mereka berkata tak apa, ibu mereka mendukung, ibu, mereka… iya, mereka, bukan kita.

Aku takut sepi, tapi yang lain tak berarti. Semua orang berkata bahwa itu adalah gengsi. Tapi aku berani untuk menurunkan gengsi lebih dulu. Namun, hal yang kudapatkan tak sesuai dengan gengsi yang aku turunkan, aku seperti ditelanjangkan di tengah-tengah. Ia berkata bahwa aku memang salah dan itulah yang harus aku lakukan. Namun, mana kalimat “iya, engkau aku maafkan.” ? Aku tak layak untuk dimaafkan, ya?.

Menahan semua rasa malu, bahwa memang sepertinya akulah yang salah dalam masalah ini. Namun, aku tak pernah mengerti untuk apa aku disalahkan seperti ini? Kurasa, permintaan maafku tak tersalurkan dengan baik. Maaf bila aku seperti tak peduli, aku sebenarnya tak tahu apa yang kurasakan ini. Jadi, pilihan terakhir hanya diam membisu, bahkan tak bersuara sedikit pun.

“Kamu mana tau rasanya perpisahan kakak dan adik! Berpisah dengan adik sendiri itu adalah perasaan yang paling sakit!,”

“Kamu tidak tahu, kan, rasanya?! Mana mau kamu untuk mengetahui rasanya.” Diam membisu aku mendengar ucapannya. Memang, aku memang tidak tahu rasanya mempunyai kakak atau adik. Tetapi, aku paham rasanya berpisah, rasanya ditinggalkan, rasanya merasa sendirian, rasanya berdiri sendiri, dan rasanya menahan perkataan yang selalu mencekik tenggorokanku.

Maafkan aku, maaf bahwa aku selalu menuntut untuk dimaafkan, untuk didukung, untuk dipercaya. Mungkin ini karma yang kudapatkan setelah membuatmu lelah, dan tak ada yang bisa memvalidasi perasaanmu. Namun, aku pun kena imbasnya. Kau mengobati dirimu sendiri, aku memaafkan diriku sendiri. Kau minum obat & racun dari botol yang sama dan aku menelan semua ucapan yang keluar dari mulutmu. Apakah badaimu telah berlalu?

Sampai Jadi Debu-Banda Neira

“Mama down. Mama down setiap lihat kamu seperti ini. Mama, down.. setiap melihat anak orang lain beda dengan mu,”

“Mama sedih, mama khawatir berpisah dengan kamu di sana, di luar negeri. Sebenarnya mama enggak mau berpisah jauh sama kamu, mama sedih,”

“Mama lihat kamu kayak gini, bikin mama enggak bisa ngelepasin kamu. Banyak hal jelek yang muncul di kepala mama,”

“Mama mau coba percaya lewat mana? Kalau kamu selalu menghancurkan kepercayaan yang mama bangun kembali,”

“Mama selalu sedih mikirin kamu, mama sedih.”

“Mama, enggak mau pisah. Pisahnya anak dan ibu itu sulit. Enggak gampang.”

“Mama kepikiran, bahwa nanti mama kerja di luar negeri, mama mau kamu kerja di luar negeri juga. Dekat dengan negara mama,”

“Kalau mama kangen kamu, mama bisa ketemu kamu karena negara tempat kamu kerja dekat sama mama.”

“Tapi, kamu enggak pernah mikirin mama. Padahal, mama selalu mikirin kamu. Sampai segitunya.”

“Mama selalu dukung kamu. Kata siapa mama enggak pernah ga dukung,”

Iya, kali ini memang benar, ini kesalahanku.

Kuaman, ada bersamamu. Mungkin sifat burukku atau perkataanku yang sering kali menyakitimu, maafkan aku ya, mah. Namun, tolong, terima tuntutanku. Tuntutan untuk dimaafkan, didukung, dihargai, disayang selayak mungkin, dan diterima kembali ke pelukanmu. Dalam kehangatan yang kurindukan, dan kupuja haus tersebut, mah. Nyata kata maaf tak akan bisa memaafkan aku, aku tahu itu.

Hubungan kita terlalu rumit, maaf jika satu orang saja membuatmu kewalahan setengah jiwa. Maaf bila belahan jiwamu ini selalu menyusahkanmu. Maaf, bila anak yang kau lahirkan dengan pegangan jiwa raga serta nyawa ini tak pernah mendengarkan penuh perkataanmu. Kau rela untuk memberikan seluruh ragamu hanya untuk melahirkanku, kupuja selalu hidupmu, mah. Maafkan aku, bila hari-harimu terasa berat dan sakit hanya karena aku, maaf bila hatimu lelah memaafkan aku.

Semoga, hidupku dan hidupmu, serta hidup kita, selalu bisa menerima permintaan maaf satu dengan yang lain. Ini masih setengah jalan, tapi aku paham. Bagimu ini adalah selamanya. Tolong… Tolong bertahan lebih lama lagi ya, mah?. Karena perjalananku masih setengah, aku baru paham dengan namanya kedewasaan, tentang rasanya tumbuh besar dengan bebas. Aku menyesal. Aku, menyesal dengan seluruh hatiku. Aku memilih untuk berobat kepada orang yang paham dengan kondisiku, semoga ini belum terlambat untukmu ya, mah?

Kau benar, penyesalan selalu datang terakhir, dan jatuh ke belakang.

Cr: Pinterest.

Cr: Pinterest.


메타데이터
post_id
ffd8e8d06e12
slug
membiru-ffd8e8d06e12
url
https://medium.com/@tobarcelona/membiru-ffd8e8d06e12
canonical_url
https://medium.com/@tobarcelona/membiru-ffd8e8d06e12
author_url
https://medium.com/@tobarcelona
status
ok
fetched_at
2026-06-15 20:49:13