← Back to list

Banana Kick

#023: Seni Memahami Diri yang Meleset

whitesp_ce · 2026-03-13 15:00 · 72 claps · 3.6 min read
#frustasi #sendiri #refleksi #sakit #istirahat
Open on Medium ↗

Banana Kick

023: Seni Memahami Diri yang Meleset

Pengantar Penulis:

Disclaimer: (Topik Sensitif) Segala bentuk pembahasan disini hanya hipotesis/cara pandang penulis atas bentuk keresahan pribadi untuk menemukan jawaban, bukan untuk diilhami secara pasti terkait kebenarannya/valid, sebab bersifat subjektif. Harapannya para pembaca dapat terbuka terkait pemikirannya sendiri dan mampu memfalsafahkan sendiri, karena keingintahuan memiliki alasan tersendiri untuk keberadaannya.

Bulan ini berat sekali rasanya untuk menyempatkan menulis, seperti tidak ada kegiatan yang bisa diceritakan, bahkan curhat pun tidak ingin. Kalau kata orang-orang seperti kehilangan sparks dalam hidup? Ya aku menyakini demikian, hehe. Rasanya juga tidak ingin dekat dengan siapa-siapa, aku selalu nyaman sendirian, walaupun aku takut kalau depresi ringan, ansos, dan apatis. Aku kehilangan kepercayaan diri dan kehilangan kepercayaan orang lain. Realita dibumbui ekspetasi memang selalu membuat diriku berkontemplasi dengan denial. Setiap satu kesalahan kecil aku lakukan, disaat itulah kepercayaan diriku runtuh begitu saja. Aku lupa aku siapa, aku lupa tadi makan apa, bahkan aku lupa aroma tubuhku sebenarnya bagaimana. Sesaat setelah memandangi kaca aku hanya bertanya, sekaligus bergumam

“Adakah diriku yang salah selama ini?”

“Adakah kata-kata yng sering tak pantas terucap dari mulut ini?”

“Pandangan tak senonoh mana yang sering mata ini lihat hingga memburamkan kepercayaan, perkataan apa saja yang telinga ini tak ingin dengarkan?”

Semua kalut menjadi satu dalam tubuh ini. Aneh rasanya, aneh untuk diriku yang selalu ambisius, tiba-tiba kehilangan motivasi menjalani hidup, aku tidak tahu apakah harus jeda sejenak lalu bersandar ke bahu seseorang, atau memaksa berjalan tertatih-tatih kedinginan? Ya, jawabannya biar aku cari sendirian.

Sama seperti tahun-tahun sebelumnya, sebentar lagi kita akan menyambut Lebaran Idul Fitri 1447 H yang tinggal beberapa hari lagi. Hari dimana umat muslim seluruh dunia merayakannya, merayakan untuk saling memaafkan satu sama lain, saling merendahkan hati untuk bertoleransi atas kesalahan masing-masing. Mulai dari yang muda ke yang muda, muda ke yang tua, maupun tua yang ke lebih tua. Semua saling mengakui kesalahan.

Aku pun sering berpikir, sudah berapa banyak kesalahan yang aku lakukan, sudah berapa banyak orang yang memaafkanku, dan sudah berapa banyak orang yang tidak aku maafkan sama sekali. Makhluk berdosa sepertiku memiliki kegunaan apa disisi Tuhan, Tuhan bebas melakukan apapun, bahkan bisa saja membuangku ke dasar neraka paling dalam, entah di dunia atau pun di akhirat kelak.

Mungkin hanya tulisan ini yang bisa menghiburku sejenak hari ini, aku sering memikirkan, apakah lebih baik aku tidak usah bercerita ke sesama manusia. Aku selalu merasa tidak puas, tidak relevan, dan merasa lebih baik egois daripada mendengarkan mereka yang belum tentu memperhatikan.

Aku tidak marah sih, cuma pada akhirnya aku menyadari ternyata sudut pandang orang-orang merespon curhat berbeda-beda. Pola itu beberapa kali aku rasakan, bukan sesuatu yang salah juga, karena itu masing-masing cara.

Which is your response is your territory.

Aku selalu melihat cara orang menyelesaikan curhat seseorang dengan cukup memberinya afeksi. Tidak salah juga, hanya saja aku selama ini merasa itu rasanya tidak cukup. Aku merasa ingin ditemani disetiap ceritaku, disetiap kata-kataku, bahkan per kalimat aku ucapkan. Ekspetasi yang aku inginkan adalah orang menjadi diriku sejenak dalam ceritaku. Rasa keberpihakan itulah yang membuatku merasa ditemani dalam cerita sendiri. Mungkin tidak semua orang mengerti, dan bukan kewajiban mereka untuk mengerti. Sebelum pada akhirnya bisa menyimpulkan benar atau salah da melihat serangkaian point lebih netral dan bijak.

Sunyi mungkin temanku, gelap mungkin peneranganku, dan dingin mungkin juga selimutku.

2026 tidak ada pencapaian yang benar-benar menggugah isi hatiku, dan tidak bisa benar-benar membungkam mulut orang lain yang tanya kesibukanku. Benar jika harga diri seseorang adalah di pekerjaannya, benar jika tanggung jawab adalah beban yang selalu dibawa, dan benar pula kalau kaya raya adalah misi bersama. Aku selalu tidak siap dengan segala pertanyaan itu, aku malu tidak ingin menemui teman-temanku, aku malu tidak ingin berbicara memulai topik obrolan dengan keluargaku, dan aku selalu takut menjawab pertanyaan orang asing terkait apa kesibukanku?.

Banyak konten selalu mampir di timeline-ku, kalau melakukan langkah kecil adalah hal yang patut disyukuri dan dirayakan. Kata-kata itu membuatku semakin skeptis tentang kenyataan yang berjalan disekitarku. Semua bahkan tidak sesederhana itu, dunia tidak mengenal abu-abu sebagai pilihan, dunia bisa saja kejam sekali, bahkan jika beruntung dunia bisa baik sekali. Itu pilihan ditambah takdir.

Kompromi hati dan pikiran selalu tidak selaras dipikiranku, isi hati ingin A, pikiran menjawab rasional untuk melakukan B, atau malah sering C, kalau diriku mulai malas bergerak. Setiap pilihan yang aku buat akan selalu berakhiran abjad setelahnya, A, B, C sampai Z. Aku sampai sekarang bahkan tidak percaya, membuat keluarga kecil adalah solusi quarter life crisis ini. Aku bingung menghidupi diri sendiri, aku sama sekali tidak bisa mem-provide siapapun yang kedepannya akan dekat dengan aku. Memotivasi diri aja sulit, bagaimana ceritanya jadi pemimpin dalam keluarga kecil. Semua serasa tidak solutif.

Yak, Semoga kalian yang membaca ini, tidak ikut-ikut malas sepertiku, jalanilah kehidupan sesuai apa yang kalian mau, semua orang menyayangi kalian.

Tidak seperti tulisan-tulisan saya sebelumnya yang berusaha menyampaikan argumentasi buah dari pemikiran saya atau inspirasi-inspirasi lainnya. Tulisan kali ini justru penuh dengan pertanyaan-pertanyaan yang mencari dan butuh jawaban, yang mana ingin jadi bahan diskusi, diskursus, ataupun refleksi yang berkelanjutan kedepannya bukan sebagai ajang mencari posisi siapa yang benar dalam topik ini. Terbaring lemas tidak berdaya ya begitulah akhir yang kuinginkan, hanya rasa sayang dan diperhatikan akan membuatku lega.

Informasi selengkapnya terkait konten-konten menarik terkait seni dan desain oleh penulis bisa klik link ini www.linktr.ee/inteens


메타데이터
post_id
fffde55bb89d
slug
banana-kick-fffde55bb89d
url
https://medium.com/@onlyemptyspacescanbefilled/banana-kick-fffde55bb89d
canonical_url
https://medium.com/@onlyemptyspacescanbefilled/banana-kick-fffde55bb89d
author_url
https://medium.com/@onlyemptyspacescanbefilled
status
ok
fetched_at
2026-07-12 00:22:36