Alfathor
Pada petang hari, di sebuah desa kecil di pinggiran ladang gandum. Terdapat rumah kayu, seorang kakek petani duduk bersandar sedang…
Alfathor

art by @K_pupu
Pada petang hari, di sebuah desa kecil di pinggiran ladang gandum. Terdapat rumah kayu, seorang kakek petani duduk bersandar sedang menikmati secangkir teh hangat.
Lalu… gemuruh petir tiba-tiba terdengar, namun tidak terdengar seperti petir biasa dikarenakan tidak ada awan disekitar ladang gandum. Kakek tersebut yang merasa aneh pergi keluar dan melangkah ke ladang gandum miliknya.
Ditengah ladang seketika terdapat sambaran dari langit, suaranya sangat dahsyat membuat kakek tersebut terjatuh.
Saat bangun kembali, ia melihat ada kawah kecil yang terbentuk, ditengahnya terdapat sosok yang besar, tinggi, dan disekujur tubuhnya dikelilingi oleh listrik, kecuali pada kedua tangannya.
Sosok tersebut berlutut, ia terlihat kecapean dan tangannya gemetaran. Ia memeluk sesuatu yang terbungkus kain.
Petani mengucap dengan suara yang pelan “….Thor?”
Sosok tersebut berdiri dan dengan cepat melemparkan kain tersebut jauh dari dari dirinya, lalu menatap kedua tangannya sendiri yang perlahan menghasilkan kilatan listrik kembali.
Tanpa berkata apapun, sosok itu dengan susah payah terbang kembali ke udara, kecepatan terbangnya tidak secepat saat ia tiba ke ladang gandum, seperti… kehilangan daya.
Melihat itu semua, kakek itu berdiri terpaku beberapa detik, lalu dengan cepat melangkah mendekati gulungan kain yang sosok itu lempar.
Gulungan kain tersebut terdapat sedikit bercak darah. Dia membukanya, dan melihat… seorang bayi yang sedang menangis dengan luka tergaris dari hidung hingga pipi kirinya.
[Time Skip]
ENAM TAHUN KEMUDIAN
Anak itu tumbuh dengan nama “Alfathor”.
Kakek itu menjelaskan namanya dia pilih dikarenakan anak itu adalah anak pertama Dewa Thor yang turun ke bumi, sang kakek tidak berani memberi nama sesosok Dewa dikarenakan takut mencemari kesuciannya, jadi dia memberi nama sementara pada anak itu.
Alfathor hidup dalam keprimaan sejak kecil, ia tidak pernah sakit, saat terjatuh pun iya tidak pernah terluka. Namun, ia juga tidak pernah terlihat seperti memiliki kekuatan ayahnya seperti yang dia dengar dalam dongeng para dewa.
Tetapi saat ia bermain dengan anak-anak seumurannya, mereka merasakan sesuatu yang aneh.
“Mama… Aku pusing…” “Bilang apa tadi? Kok aku lupa ya” “Tanganku kesemutan…”
Setiap kali Alfathor berada di dekat mereka, keluhan itu selalu muncul. Ia bingung, ia tidak mengerti.
Malamnya, ia memegang radio tua milik sang kakek. Suara penyiar yang tadinya terdengar jelas, perlahan terputus-putus, dan akhirnya radio tersebut mati. Tidak bisa dihidupkan kembali.
Alfathor menaruh radio tersebut lalu perlahan menatap kedua tangannya, ia merasa heran dan kebingungan tentang apa yang terjadi pada tubuhnya. Ia merasakan ada kekuatan yang mengalir dari kedua tangannya. Ia merasa bugar.
Seketika terdengar suara piring terjatuh dari kamar sang kakek, Alfathor pun bergegas ke ruangan tersebut dan mendobrak pintu.
Terlihat sang kakek tengah terjatuh saat membawa piring.
“Kakek!” Alfathor meraih tubuh dan tangan sang kakek dan berusaha membangunkannya.
“Ada apa, kek?”
“Oh, tidak apa, Thor. Kakek hanya sedikit pusing, sama ini kaki kakek tadi sepertinya kram. Haha, mungkin karena faktor umur.”
Alftahor pun dengan cemas membangunkan sang kakek dan membuatnya duduk di kasur.
“Yasudah kakek tidur saja, ini pecahan-pecahan piringnya biar aku saja yang membersihkan. Nanti aku juga tidur didekat kakek, siapa tahu kakek butuh sesuatu. Besok kita coba periksain dokter ya?”
“Ya, Thor. Terimakasih. Kakek beruntung sekali memiliki kamu dirumah ini. Setelah kematian istri kakek, kakek merasa sangat kesepian. Sehari hari hanya bangun tidur, mengurus ladang, mengantar hasil panen ke pasar, mendapat bayaran, dan pulang. Namun semenjak ada kamu, hidup kakek lebih berwarna. Kamu baik sekali, kamu juga rajin sering bantu kakek. Semoga kamu tetap menjadi seperti ini ya walau sudah besar besok. Bantulah orang-orang sekitar, dan mungkin saja, Para Dewa menjengukmu atau bahkan mengundangmu ke langit karena melihat kedermawaanmu.”
Sang kakek tersenyum lebar, dan begitu juga Alftahor. Namun, Alfathor hanya diam, kagum oleh ucapan yang baru saja keluar dari mulut sang kakek.
Alfathor pun lanjut menidurkan sang kakek, memakaikannya selimut, membereskan pecahan piring sang kakek, dan membawa kasurnya ke kamar kakek untuk tidur di sampingnya.
Suara ayam jantan terdengar, tanda hari telah pagi. Alfathor bangun dengan perasaan tubuhnya yang sangat bugar, ia merasakan ada kekuatan yang besar disekujur tubuhnya. Ia merasa sangat bersemangat untuk memulai hari.
Ia pun dengan gembira bangun dari tidurnya dan membuka jendela. Terlihat matahari pagi yang sangat cerah menyinari ladang sang kakek.
Alfathor menarik nafas sedalam-dalamnya dan menghembuskannya. “Ahhh…”
“Kakek! Ayo bangun! Kita harus bergegas ke klinik untuk mendaftar antrian.” Alfathor membalikan badannya dan mulai menghampiri sang kakek.
“Ayo, Kek! mumpung masih pagi! antriannya belum panjang.” Alfathor pun mulai merasakan ada hal yang aneh. “…Kakek?”
…..
…
..
Melihat sang kakek yang terbujur kaku dengan mata melotot ke atas membuat ekspresi Alfathor yang awalnya senang seketika menjadi sedih. Air matanya keluar deras. Ia memeluk sang kakek dengan erat sambil menangis hebat. “KAKEK!! Ad— ada apa ini??”
Dengan keadaan panik Alfathor bergegas pergi untuk memanggil dokter. Tanpa persiapan apapun, ia langsung berlari keluar rumah.
Ia merasakan ada hal janggal saat ia berlari, ia berlari sangat kencang daripada biasanya. Jarak antara rumah kakek dengan klinik terdekat yang seharusnya memakan waktu 2 jam jalan kaki, ia lakukan dalam 15 menit, tanpa merasa letih.
Sesampainya di klinik, Alftahor menerobos antrian dan langsung menghampiri perawat yang pertama ia lihat.
Setelah mendengar kondisi sang kakek, perawat memanggil dokter dan bergegas ke rumah sang kakek bersamaan dengan Alfathor menggunakan kereta kuda.
20 menit telah berlalu dan kereta kuda telah sampai ke rumah kakek. Sesampainya disana sang perawat yang berada disamping Alfathor segera keluar kereta dan mencari tempat untuk muntah, mengeluh bahwa ia merasa pusing dan kesemutan di sekujur tubuhnya. Sang dokter pun merasakan sedikit kesemutan namun tidak merasa pusing.
Melihat perawat yang sedang tidak enak badan, dokter pun membiarkannya diluar dan masuk ke rumah bersama Alfathor.
Beberapa menit telah berlalu, dokter telah memeriksa keadaan sang kakek dan dengan berat hati mengatakan bahwa sang kakek telah tiada dengan diagnosis gagal jantung.
Mendengar hal itu Alfathor hanya bisa menunduk dan menangis. Sang dokter pun hanya bisa diam dan mencoba bangun dari duduknya untuk mengelus kepala Alfathor.
Namun saat dia ingin bangun, dia merasa mual dan muntah. Lalu jatuh pingsan didepan Alfathor.
[Time Skip]
DUA BELAS TAHUN KEMUDIAN
Alfathor sudah menjadi seorang remaja berumur 18 tahun, Ia mulai menyadari bahwa ia memiliki kekuatan.
Ia tidak menghasilkan listrik, atau bahkan petir seperti ayahnya. Ia… menyerapnya.
Bukan hanya listrik dari benda mati, tetapi juga biolistrik yang mengalir di setiap syaraf dan organ tubuh milik semua makhluk hidup.
Itulah sebabnya orang-orang disekitarnya merasa pusing. Itulah sebabnya tubuh mereka merespon dengan kesemutan, kebingungan, bahkan kehilangan keseimbangan. Itulah sebabnya… sang kakek tiada saat ia tidur didekatnya.
Alfathor adalah kebalikan dari ayahnya.
Dan mungkin… Itulah alasan mengapa dia dibuang dari langit.
메타데이터
- post_id
- 00690eb0f967
- slug
- alfathor-00690eb0f967
- url
- https://medium.com/@xavierdasilva_62357/alfathor-00690eb0f967
- canonical_url
- https://medium.com/@xavierdasilva_62357/alfathor-00690eb0f967
- author_url
- https://medium.com/@xavierdasilva_62357
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-21 19:25:17