← Back to list

Menakar Cinta

Jumpa-kenal-kenal-kenal-cinta

AR. Arimdayu · 2026-07-02 06:00 · 1 claps · 3.7 min read
#cinta #allah #rasulullah #quran #keluarga
Open on Medium ↗
Wiki topics: 🕊️ · Religion

Menakar Cinta

Jumpa-kenal-kenal-kenal-cinta

Disclaimer: Kalau kamu dalam hubungan yang tidak direstui Tuhan, jangan anggap yang tumbuh dalam dirimu adalah cinta. Sebab cinta bukan soal rasa — saja, tapi tanggungjawab dalam menyayangi selain diri kita.

Katakanlah, “Jika bapak-bapakmu, anak-anakmu, saudara-saudaramu, istri-istrimu, keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perdagangan yang kamu khawatirkan kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, lebih kamu cintai dari pada Allah dan rasul-Nya serta berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah memberikan keputusan-Nya.” Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik. (Qs. at-Taubah ayat 24)

Katakanlah, “Jika bapak-bapakmu, anak-anakmu, saudara-saudaramu, istri-istrimu, keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perdagangan yang kamu khawatirkan kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, lebih kamu cintai dari pada Allah dan rasul-Nya serta berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah memberikan keputusan-Nya.” Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik. (Qs. at-Taubah ayat 24)

Tanya

Jujur, memahami ayat itu untuk diri sendiri bukanlah hal yang mudah. Apakah aku harus melalui semua kecintaan itu, baru aku bisa mencintai Allah, Rasul dan berjuang (beramal) di jalan-Nya? Ataukah aku tidak perlu melewati semuanya, yang penting aku menetapkan cintaku hanya kepada yang seharusnya dicintai lebih?

Rumit, kalau dipikir-pikir. Memang hidup itu 90% jalani saja, 10% pikirkan seperlunya. Maka, dari situ aku mencoba untuk mengabaikan mencintai mereka-mereka dulu. Tapi, rasanya seperti ada yang kurang. Seperti cintaku pada Allah, Rasul dan berjuang di jalan-Nya adalah hal yang biasa. “Yakan memang harusnya begitu.” Mengerti kan?

Rasanya semua lebih kepada aku sedang mengabaikan “bapak-bapakmu, anak-anakmu, saudara-saudaramu, istri-istrimu, keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perdagangan yang kamu khawatirkan kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai” ini tentu bisa disesuaikan dengan istilah yang kita butuhkan ya, bukan berarti aku punya istri. Paham kan antum?

Ah, aku terlalu banyak bertanya. Karena memang judul bagiannya adalah “Tanya.”

Jumpa-kenal-kenal-cinta

Selain 3 cinta utama tertinggi, aku ternyata bukan tidak pernah jumpa mereka, tidak pernah kenal mereka, aku hanya berhenti untuk tidak mencintai mereka. Aku takut cintaku salah, aku takut terjebak padanya, dan aku takut … cintaku tidak berbalas.

Tapi tanpa disadari, ternyata aku sudah mencintai mereka dengan kadar seadanya. Atau aku hanya berhenti pada mengenal mereka? Sama saja dengan kalimat di atas, bukan? Rumit…

Kita memang akan terjebak pada istilah tidak berujung saat semuanya hanya soal definisi. Padahal telaah sendiri saja, apakah saat dibenturkan dengan Allah, Rasul dan berjuang di jalan-Nya ada kecondongan yang lebih berat untuk membela hal-hal selain 3 tersebut?

Allah, Rasul dan berjuang di jalan-Nya

Ketiga hal ini adalah acuan cinta kita. Ketiga hal ini adalah acuan mana yang harus kita pilih. Ketiga hal ini adalah acuan bagaimana seharusnya sikap kita dalam memahami cinta.

Tidak rumit, hanya saja dalam prakteknya kita sering terjebak pada realita dimana kita punya penilaian sendiri, bahwa pilihan kitalah yang lebih baik. Bahwa apa yang kita pilih adalah yang kita butuhkan — menurut kita. Padahal kebutuhan dasar dari jiwa adalah bertauhid, dan kebutuhan dasar dari tubuh adalah tubuh yang senantiasa diajak bertauhid.

Ini beratnya… Jadi, bukan rumit… Berat…

Perlukah Mengabaikan?

Bagaimana kita memahami lebih mencintai, kalau kita belum melewati mencintai (saja)? Perlu ada tingkatan — hierarki antara cinta-lebih cinta-paling cinta.

Maka, ‘kenal’ itu seharusnya berlanjut pada cinta. Cinta yang membuahkan kata kerja: berkorban, saling, ‘kamu dulu.’

Ketika dihadapkan pada pilihan apakah memilih hal-hal duniawi tersebut ataukah Allah, Rasul dan berjuang di jalan-Nya — tidak ada rasa sakit yang mendalam, tidak pula ada rasa menyesal, dan tidak ada pula keraguan sebab kita tahu bahwa kita tidak benar-benar menyakiti mereka dengan mendahulukan 3 cinta tertinggi. Sejatinya begitulah kapasitas kita dan pemahaman kita tentang cinta diuji…

Pahami cinta, maka kita akan bisa lebih mencintai yang seharusnya paling dicintai.

Bukan pelarian, bukan pengabaian, tapi peningkatan kualitas diri dalam bab mencintai, mencinta dan dicintai.

Bertemu di Ruang Terluas

Sejatinya dunia ini tempat bersusah payah dalam mengejar cinta-Nya. Tempat berjungkir balik dalam memahami kuasa-Nya. Tempat berjuang sepenuhnya — mengorbankan banyak hal demi pertemuan yang sejati, yaitu bertemu dengan pencipta kita.

Serumit ini kehidupan, tapi mudah bagi Allah dalam menciptakannya. Tidakkah kita penasaran atas-Nya?

Ternyata, untuk bertemu pencipta kita butuh perjalana yang tidak mudah, ya? Benturan sana-sini terkadang membuat kita inign menyerah atau menyalahkan keadaan. Ah, tapi itu wajar sebab yang akan kita temui bukanlah Dzat yang dicipta.

Kehidupan dunia memang penuh dengan puzzle yang berserakan. Mungkin takkan berhasil kita susun sesuai dengan papannya sampai tugas kita di dunia selesai. Memang tugas kita bukan menyusun puzzle kehidupan, tapi memahami setiap kepingan puzzle hanya untuk mengabdi dan berkorban di jalan-Nya.

Perjalanan Cintaku

Ada yang bilang jalan pertama memahami cinta ada di dalam keluarga. Bagaimana kedua orang tua kita, anggota keluarga yang lain, saling mencintai dan bekorban.

Dengan acuan Allah, Rasul dan berjuang di jalan-Nya, maka perjalanan keluarga dan individu dalam memahami cinta akan termaknai sebagai pengorbanan-pengorbanan dan peribadatan yang berarti.

Perjalanan manusia juga tidak semulus itu, sebab kehidupan ini juga tidak seideal itu — makanya konsepnya berjuang, kalau udah ideal apa yang diperjuangkan? Ada saja kondisi individu yang hadir di dalam keluarga tidak sebagaimana ‘mestinya’. Sehingga ada makna terputus, tersakiti, terlukai, tapi tidak lantas jadi menghilangkan Kuasa Allah di dalam setiap perjalanannya.

Long story short, aku sangat bersyukur dan berbahagia bahwa aku adalah seorang istri dan ibu yang sedang me-reset cintaku yang tidak utuh ini. Dari yang abai dengan keluarga, kini aku menumbuhkan ketulusan cinta itu di dalam diriku dan di dalam keluargaku — keluarga kecilku. Sebab aku ingin mengerti bagaimana keluarga yang senantiasa lebih mencintai Allah, Rasul dan berjuang di jalan-Nya. Maka aku memulainya dengan: mencintai keluargaku.

Entah ini energi apa, tapi aku merasa berbunga-bunga, kadang juga takut, kadang juga khawatir. Namun, aku merasakan perasaan yang berbeda. Ada sebuah letupan kebahagiaan dari mencintai suami dan anakku. Ada kasih sayang yang belum pernah aku rasakan, ada kelembutan yang jarang aku rasakan, ada kehangatan yang jarang aku rasakan.

Apakah ini yang disebut, mencintai karena Allah?

Selamat mencinta!


메타데이터
post_id
0398625eb60f
slug
menakar-cinta-0398625eb60f
url
https://medium.com/@badaystorm/menakar-cinta-0398625eb60f
canonical_url
https://medium.com/@badaystorm/menakar-cinta-0398625eb60f
author_url
https://medium.com/@badaystorm
status
ok
fetched_at
2026-07-23 17:41:36