← Back to list

Memudarnya Keterampilan Memasak

Yang hilang di era serba instan

Luthfiyyah Damayani in Perspektif Perempuan · 2026-07-04 09:37 · 100 claps · 5.2 min read
#memasak #makanan #keluarga #generasi-muda
Open on Medium ↗

Memudarnya Keterampilan Memasak

Yang hilang di era serba instan

Photo by ochimax studio on Unsplash

Photo by ochimax studio on Unsplash

Memasak rasanya semakin menjadi keterampilan yang perlahan ditinggalkan. Selain karena semakin banyak orang yang kehabisan waktu dan sibuk. Mungkin juga karena kita semakin terbiasa dengan budaya instan dan terlalu lelah secara mental untuk melakukan sesuatu yang sebenarnya menyehatkan diri sendiri.

Sadarkah kita bahwa media sosial memperparah itu?

Video memasak yang viral biasanya menampilkan dapur estetik, alat masak komplit, bahan tertata rapi, dan visual ASMR yang memanjakan mata dan telinga.

Tanpa sadar, kita membayangkan memasak sebagai sesuatu yang rumit.

Padahal memasak sesungguhnya tidak seperti itu. Memasak itu berantakan.

Dari pengalamanku sendiri dan melihat anggota keluarga memasak, memasak di dapur sering kali adalah kegiatan multitasking. Satu kompor untuk sayur, satu kompor untuk menggoreng ikan, sementara di meja bahan lain sedang dipotong untuk masakan berikutnya. Beberapa hidangan dimasak sekaligus supaya makanan seimbang secara nutrisi.

Jelas tidak seindah video pendek di internet.

Tapi justru di situlah letak keindahannya. Memasak adalah perpaduan antara kreativitas, intuisi, dan rasa.

Resep umumnya menuntut presisi. Dua siung bawang. Satu sendok teh garam. 500 ml air. Namun praktiknya jarang serumit itu. Ada intuisi yang berkembang seiring waktu. Seberapa banyak garam yang pas? Sering kali jawabannya adalah berdasarkan feeling.

Kalau satu bahan tidak ada, kita belajar berimprovisasi. Mengganti dengan bahan lain. Menyesuaikan rasa. Dan akhirnya memasak menjadi eksperimen kecil. Kita mencicipi masakan, merasa ada yang kurang, lalu menambahkan rempah sampai rasanya pas.

Inilah yang membuat memasak sangat manusiawi. Hampir mustahil dua orang memasak hidangan yang benar-benar identik. Selalu ada karakter unik dalam masakan tiap orang. Dan menurutku, ini sesuatu yang tidak akan pernah bisa sepenuhnya digantikan oleh otomatisasi atau industri makanan.

Manusia secara alami merindukan orisinalitas dan sentuhan personal. Kita bisa merasakan perbedaan antara makanan rumahan dan makanan pabrikan. Dan perbedaan itulah yang membuat kita merindukan hidangan tertentu karena terhubung dengan orang tertentu, kenangan tertentu, dan suasana tertentu.

Memang benar, saat ini memasak bukan lagi keterampilan bertahan hidup.

Makanan siap saji ada di mana-mana. Di supermarket ada makanan kemasan. Makanan bisa dibeli di luar seperti warung, pedagang kaki lima, food court, restoran, dan layanan pesan-antar yang bisa mengantar makanan hanya dalam hitungan menit.

Selama punya uang, kita bisa makan tanpa perlu menyentuh dapur sama sekali.

Tetapi di situlah kekhawatirannya. Peradaban manusia selama berabad-abad selalu berkaitan dengan aktivitas memasak, hingga kita hidup di era dengan makanan tradisional dan khas yang beragam dari segala penjuru.

Menurutku, inilah tiga hal yang perlu dipertimbangkan sebagai kontra-argumen bagi mereka yang merasa memasak tidak lagi penting. Alasannya jauh lebih besar daripada sekadar soal rasa atau kepraktisan.

Mengembalikan variasi dan kekayaan rasa

Photo by Inna Safa on Unsplash

Photo by Inna Safa on Unsplash

Makanan yang dijual di restoran, franchise, atau dalam bentuk instan sebenarnya sering kali sangat repetitif. Kalau diperhatikan, bahan-bahan dan menunya biasanya berputar di sekitar hal yang sama.

Padahal tradisi kuliner kita jauh lebih kaya.

Logika bisnis makanan berbeda jauh dengan logika dapur rumahan. Restoran memikirkan efisiensi. Seberapa cepat makanan bisa dibuat? Seberapa mudah bahan bakunya didapat? Seberapa laku dijual?

Begitu sebuah menu populer, bisnis lain akan cepat meniru dengan sedikit modifikasi. Tujuannya jelas: profit. Bukan semata-mata menyehatkan tubuh dan jiwa manusia.

Padahal, banyak masakan tradisional yang sebenarnya lebih sehat dan memiliki rasa yang jauh lebih kompleks. Masalahnya, makanan sehat sering kali kurang menarik secara bisnis. Tidak terlalu “nagih”, butuh waktu lebih lama untuk dimasak, dan kadang lebih mahal karena menggunakan rempah serta bahan yang beragam.

Di Indonesia, menariknya, jika kita cermati, sedikit sekali bisnis kuliner yang benar-benar berfokus pada menu berbasis sayuran, padahal pilihan kita sangat banyak.

Ada sayur asem, sayur sop, daun singkong, sayur bening bayam, lodeh, dan masih banyak lagi. Sayurnya dimasak dengan rempah dan kuah yang aromatik, menghasilkan makanan yang hangat dan menenangkan. Biasanya disajikan hangat bersama nasi dan lauk sederhana seperti ikan, ayam, tahu, atau tempe. Makanan seperti itu seimbang secara nutrisi.

Namun dari sudut pandang bisnis, menu seperti ini sering dianggap kurang efisien untuk diproduksi dalam skala besar. Akibatnya, dalam makanan komersial, sayur sering hanya menjadi pelengkap. Sekadar garnish yang kadang bahkan sudah layu. Dalam beberapa kasus, sayur malah digoreng agar sesuai dengan logika fast food: lebih tahan lama dan lebih cepat disajikan.

Mengambil kembali kendali

Photo by Mufid Majnun on Unsplash

Photo by Mufid Majnun on Unsplash

Di dunia yang serba cepat seperti sekarang, punya waktu untuk memasak telah menjadi kemewahan baru. Memasak memberi kita sesuatu yang sangat penting, kendali atas apa yang masuk ke tubuh kita.

Sadar atau tidak, cara kita makan saat ini sering kali minim kontrol. Kita jarang benar-benar menentukan apa yang tubuh kita butuhkan. Kita hanya memilih dari opsi yang tersedia di menu, rak supermarket, atau aplikasi pesan antar.

Saat memasak, kita mendapatkan kembali kendali itu.

Kita bisa memilih bahan yang segar dan berkualitas. Kita tahu sayurnya dari mana, apakah dagingnya segar, minyak apa yang dipakai, dan berapa banyak gula atau garam yang masuk ke masakan. Kita juga bebas menentukan rasanya. Seberapa pedas? Seberapa gurih? Seberapa manis?

Bahkan proses mencicipi masakan saat memasak punya kenikmatan tersendiri. Kita mulai belajar mengenali rasa dari tiap rempah dan bahan.

Memasak juga membangun resiliensi. Saat makan di rumah, makanan tidak lagi sekadar transaksi uang untuk membeli porsi tertentu. Kita bisa mengambil porsi sesuai kebutuhan. Mau nasi sedikit? Bisa. Mau tambah sayur? Tinggal ambil. Di luar rumah atau membeli artinya porsi sudah ditentukan. Tambahan lauk berarti tambahan biaya.

Mengembalikan kebersamaan

Photo by Trung Manh cong on Unsplash

Photo by Trung Manh cong on Unsplash

Sepanjang sejarah manusia, makan hampir selalu menjadi aktivitas sosial. Orang makan bersama keluarga, teman, atau komunitas. Makan bukan sekadar mengisi perut, melainkan momen berbagi cerita, tawa, dan merasakan kebersamaan. Itulah yang membuat makan punya makna.

Sayangnya, bagian ini perlahan menghilang. Kesepian dan isolasi membuat aktivitas makan kehilangan dimensi sosialnya. Kita tidak lagi memasak dan juga tidak berkumpul.

Kita hanya membuka aplikasi, memesan makanan, lalu menunggu makanan datang ke depan pintu. Lalu, kita makan sendirian di kamar. Atau duduk diam di meja sambil menatap layar. Padahal otak kita, dibentuk oleh ribuan tahun kebiasaan makan bersama.

Mungkin itu sebabnya banyak orang sulit makan dalam keheningan. Kita menyalakan TV, scrolling media sosial, menonton serial, atau bahkan menonton video orang lain makan. Agak absurd, ya kalau dipikir-pikir.

Masakan rumahan membawa sesuatu yang berbeda. Mungkin beberapa di antara kita tumbuh dalam keluarga yang rutin memasak di rumah. Biasanya, ada satu hidangan yang tidak akan pernah terlupakan. Mungkin dimasak ibu, ayah, nenek, atau kakek. Dan makanan itulah yang akan menjadi jangkar emosional.

Itulah mengapa momen seperti mudik atau liburan panjang begitu berarti. Orang pulang bukan cuma karena rumah, melainkan juga karena ada rasa yang mereka rindukan. Rasa makanan rumah.

Dan di sinilah kekhawatiran terbesarku. Bagaimana jika generasi kita tidak bisa memasak? Apa yang akan membuat anak atau cucu kita di masa depan rindu pulang?

Jika mereka kita besarkan dengan makanan instan, makanan kemasan, dan makanan delivery, maka di mana pun mereka berada nanti, mereka bisa membeli makanan serupa. Tidak akan ada hidangan spesial yang menunggu mereka di rumah.

Ketika hari ini, banyak generasi muda, terutama di generasiku, Gen Z, tidak lagi bisa memasak, maka inilah saatnya kita menagih kepada orang tua untuk mewariskan keterampilan memasak dan resep-resep keluarga kepada anak-anaknya — dan begitu juga bagi orang tua untuk menyadarinya. Sebab jika keterampilan ini tidak diwariskan, yang hilang bukan hanya keterampilan memasak, tetapi juga memori, kebersamaan, dan rasa yang selama ini hidup lewat makanan.


메타데이터
post_id
5b551daa299b
slug
memudarnya-keterampilan-memasak-5b551daa299b
url
https://medium.com/perspektif-perempuan/memudarnya-keterampilan-memasak-5b551daa299b
canonical_url
https://medium.com/perspektif-perempuan/memudarnya-keterampilan-memasak-5b551daa299b
author_url
https://medium.com/@luthfiyyahdamayani
status
ok
fetched_at
2026-07-09 01:49:10