Senyuman Itu Hanyalah Akting Semata
Menipu Orang Demi Menyembunyikan Kesedihan
Senyuman Itu Hanyalah Akting Semata
Menipu Orang Demi Menyembunyikan Kesedihan
Photo by Priscilla Du Preez 🇨🇦 on Unsplash
Kamu mengenakan pakaian terbaik dan merias wajah sendiri sebelum menghadiri acara keluarga. Kamu sempat menatap ke cermin sambil menarik kedua ujung mulut agar bisa tersenyum di depan orang.
Kemudian berangkat menghadiri acara keluarga meskipun datangnya sedikit ngaret.
Satu-persatu kamu menjabat tangan sejumlah kerabat sembari melempar senyum, mereka merasa hangat dengan senyumanmu hingga sesekali bercanda sedikit karena kamu digambarkan sebagai sosok pendiam tapi sopan.
Kamu merespons dengan tertawa rendah, padahal kamu hanya akting semata untuk menipu mereka, aslinya hatimu tidak bahagia karena terendam oleh kesedihan.
Wajahnya terlihat bahagia tapi tidak natural karena sebagian tampak pucat seraya sakit karena lelah. Rasanya ingin bergegas menyudahi pertemuan keluarga dan bergegas ke toilet atau ruang belakang yang sepi dari keramaian.
Di depan wastafel, kamu menghela nafas sambil menarik-membuang nafas berkali-kali, bertatap muka dengan dirimu di cermin. Mulut yang tadinya melengkung sebagai senyuman kini menjadi lurus disertai wajahnya lelah hingga air matamu sedikit keluar dari kelopak mata.
Smiling Depression sebuah alat mempertahankan diri agar terus bahagia walaupun rasanya sakit pada perasaan dibalik tubuh seseorang.
Sikap ini wajar kalau lagi capek atau sedih terus terpaksa tetap senyum kalau ketemu orang demi profesional dalam kesopanan di lingkungan sosial.
Kalau lagi sedih ingin jaga jarak tapi disuruh ketemu kerabat, aku terpaksa menjaga image ramah dengan tersenyum meskipun tidak benar-benar ramah karena kondisi mentalku yang kacau dan sulit mengembalikan real kebahagian untuk hati.
Aku bukan bermaksud buruk dan tidak senang dicap judes, itu karena ada masalah pribadi yang ingin istirahat untuk sendiri tapi terhalang eksternal di tengah keadaan seperti circle sosial keluarga maupun teman.
Itu kenapa selalu menjawab baik padahal gak 100% kondisinya baik.
Penyebab seseorang mengalami smiling depression karena emang lagi sedih atau depresi perihal masalah hidup, hubungan asmara, dan perubahan hidup akibat tekanan atas trauma di masa lalu.
Efek dunia media sosial pun juga terseret masalah ini seperti merasa down melihat kehidupan teman atau orang lain tuh kok enak banget dan alur ceritanya mulus, sedangkan dirinya melihat ini merasa tertinggal di bawah.
Akibatnya, jadi putus asa merasa dunia tidak adil memicu jadi orang yang gagal dan payah.
Smiling depression sulit ditebak dari tampang wajahnya, kecuali ada yang paham dengan mimik wajah bagian mata.
Jika kamu ingin berhenti smiling depression, perbaiki gaya hidupmu dengan meninggalkan alkohol atau narkoba, menyegarkan tubuh melalui olahraga, tenangkan mentalmu dengan meditasi guna melepas semua beban pikiran yang kamu bawa.
Aku biasanya menjaga jarak dan menunda obrolan dengan seseorang agar ingin memperbaiki benang-benang semrawut di pikiran maupun perasaan yang suka kewalahan mengontrol emosi.
Tidak masalah kalau hari-hari ini kamu lagi lelah dan tidak mau bahagia dulu, akting boleh tapi tidak perlu berlebihan yang ada senyumanmu kelihatan kaku di mata orang.
Terima kasih sudah membaca tulisanku ini, semoga dapat menginspirasi atau ada yang related dengan pengalamanmu baik saat ini maupun pernah mengalaminya.
메타데이터
- post_id
- 6b2e8e587543
- slug
- senyuman-itu-hanyalah-akting-semata-6b2e8e587543
- url
- https://medium.com/ruang-kontemplasi/senyuman-itu-hanyalah-akting-semata-6b2e8e587543
- canonical_url
- https://medium.com/ruang-kontemplasi/senyuman-itu-hanyalah-akting-semata-6b2e8e587543
- author_url
- https://medium.com/@Mindaltale
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-14 00:54:33