← Back to list

Rangkaian Kata yang Pantas diingat Sepanjang Hayat — oleh Pejuang Intelektual, Prof.

Sosoknya baru saya kenal dari film dokumenter paling fenomenal beberapa waktu lalu, saat gejolak politik sedang gencar-gencarnya. Seorang…

Kania Nurizki · 2026-05-25 15:04 · 0 claps · 1.8 min read
#indonesia #dosen #mugs
Open on Medium ↗
Wiki topics: 🎬 · Film & Television

Rangkaian Kata yang Pantas diingat Sepanjang Hayat — oleh Pejuang Intelektual, Prof. Zainal Arifin Mochtar

Sosoknya baru saya kenal dari film dokumenter paling fenomenal beberapa waktu lalu, saat gejolak politik sedang gencar-gencarnya. Seorang intelektual yang saya yakini sebagai pembela konstitusi yang telah dicederai. Beliau dosen, guru besar hukum tata negara, Prof. Zainal Arifin Mochtar, atau yang akrab dipanggil Prof. Uceng.

Semua kualifikasi yang saya sebutkan, tanpa dijelaskan lebih detail, rasanya sudah cukup membuat banyak orang terkagum-kagum pada sosoknya. Terlebih saat beliau tampil begitu berani dengan pernyataan-pernyataan tegas soal asas-asas negara yang semestinya ditegakkan. Bagi saya, jalan perjuangan begitu jelas: keadilan, konstitusi dan keberpihakan pada orang-orang yang tertindas.

Namun, kekaguman saya terhadap beliau tidak berhenti pada suara-suara perjuangannya. Tepat ketika saya mendengar rangkaian pidato beliau tentang nilai-nilai kehidupan dan berwarga negara yang ia pegang teguh, barulah hati saya benar-benar bergetar dalam satu waktu.

Pada rangkaian kata itu, ada sebuah kalimat yang diucapkan dengan begitu jelas dengan sedikit terisak:

“Terakhir kepada seluruh orang yang sedang tertindas. Pencari keadilan, pembaharu di tengah kesempitan, orang-orang yang ditahan dengan sewenang-wenang, teman-teman aktivis yang masih menjadi tersangka, dan orang-orang yang kesusahan dan orang-orang yang sedang berada dalam kesempitan. Semoga saya tetap istiqomah mempersembahkan kepada mereka. Bagi saya, menjadi profesor itu relatif hanya persoalan administratif. Tetapi memiliki sikap, kiprah intelektual, dan tanggung jawab sebagai seorang profesor sesungguhnya relatif sulit.”

Kalimat itu bukan sekadar rangkaian notulensi dalam sebuah pidato pengukuhan guru besar. Itu adalah pesan dan harapan dari sisa-sisa perjuangan yang masih terpelihara. Kemudian, saya memahami bahwa menjadi intelektual bukan sekadar soal pembuktian status akademik atau kebanggaan diri sendiri. Menjadi intelektual berarti memikul tanggung jawab untuk tetap bersuara atas ketidakadilan dalam sikap, ucapan dan pikiran sebagai perwakilan bagi orang-orang yang selama ini tidak memiliki ruang dan kesempatan yang sama.

Saya sadar suara saya mungkin masih terlalu kecil untuk bisa terdengar. Namun, pidato itu meninggalkan kesan yang sulit hilang. Karena itu, sejauh apa pun jalan yang harus ditempuh, saya akan berjuang dengan sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya sebagai manusia dan warga negara. Sebab pada akhirnya, kita hanyalah rakyat biasa yang sama-sama sedang memperjuangkan kehidupan.

Terima kasih, Prof. Uceng sudah menjadi panutan dalam jalan perjuangan yang saya yakini. Terakhir saya sematkan sebuah rangkaian kata dari penutupan pidato tersebut “… saya mempunyai keyakinan jika masa ini adalah titipan dari anak cucu kita. Tanggung jawab kita akan ditagih suatu saat kelak, karena itulah yang akan menentukan Indonesia akan menjadi seperti apa suatu saat kelak. Karena kepadanya kita meminta, dan kepadanya-lah kita berserah diri.”

Panjang umur, perjuangan.


메타데이터
post_id
6e9169c08b67
slug
rangkaian-kata-yang-pantas-diingat-sepanjang-hayat-oleh-pejuang-intelektual-prof-6e9169c08b67
url
https://medium.com/@kanianurizki17/rangkaian-kata-yang-pantas-diingat-sepanjang-hayat-oleh-pejuang-intelektual-prof-6e9169c08b67
canonical_url
https://medium.com/@kanianurizki17/rangkaian-kata-yang-pantas-diingat-sepanjang-hayat-oleh-pejuang-intelektual-prof-6e9169c08b67
author_url
https://medium.com/@kanianurizki17
status
ok
fetched_at
2026-06-23 06:34:20