Menjadi Negosiator 101? Part 2
Tulisan ini merupakan kelanjutan sintesa dari buku Robert B. Cialdini, “Influence: The Psychology of Persuasion”. Jika di bagian pertama…
Menjadi Negosiator 101? Part 2
Tulisan ini merupakan kelanjutan sintesa dari buku Robert B. Cialdini, “Influence: The Psychology of Persuasion”. Jika di bagian pertama kita sudah membedah tentang timbal-balik, rasa suka, dan bukti sosial, kali ini kita akan masuk ke wilayah yang lebih dalam yaitu menjelaskan bagaimana figur otoritas memerintah, kelangkaan (scarcity), komitmen, dan rasa kesatuan “we-ness” menggerakkan mulut kita untuk berkata iya.
Chapter 5: Authority: Directed Deference
Photo by Ricardo Arce on Unsplash
Studi Milgram membuktikan kenyataan bahwa betapa kuat tekanan sosial untuk mematuhi permintaan sesorang yang dianggap otoritas. Banyak dari manusia yang secara psikologis sehat mampu melakukan kejahatan terhadap sesama hanya karena diperintah oleh figur otoritas walaupun banyak dari mereka yang tidak sependapat.
Perintah yang dipatuhi dari otoritas figur seringkali otomatis dikarenakan manusia cenderung melihat simbol otoritas seperti gelar jabatan, pakaian dan atribut kekayaan. Dalam berbagai penelitian, individu yang hanya memiliki simbol otoritas (tanpa kredensial asli) justru mendapatkan lebih banyak dipatuhi dan dihormati dari mereka apa yang seharusnya.
Sifat persuasi dari citra otoritas mencapai puncaknya ketika dipersepsikan sebagai seseorang yang memiliki otoritas sekaligus kredibel yakni sosok yang dilihat sebagai ahli (memiliki pengetahuan mendalam tentang topik yang relevan) sekaligus dapat dipercaya (jujur dalam menyampaikan pengetahuannya).
Untuk membangun kepercayaan itu, para negosiator terkadang sengaja mengakui kekurangan kecil dari argumen mereka yang kemudian ditutup dengan pengetahuan yang lebih besar dalam presentasi mereka.
- Kasus: Mengapa kita cenderung lebih mendengarkan saran investasi dari seseorang yang memakai jas mahal dan gelar berjajar, tanpa memeriksa rekam jejaknya? itu kekuatan simbol otoritas (gelar, pakaian, atribut).
- Taktik Negosiasi: Negosiator membangun kredibilitas dengan mengakui sedikit kekurangan di awal presentasi mereka untuk menciptakan kesan jujur, sebelum akhirnya menutupinya dengan pengetahuan yang jauh lebih besar.
- Cara Menghindari: Ajukan dua pertanyaan kritis: “apakah orang ini benar-benar ahli?” dan “seberapa jujur orang ini dalam situasi ini?” jangan biarkan simbol mengaburkan penilaian kamu terhadap fakta.
Chapter 6: Scarcity: The Rule of the Few
Photo by The New York Public Library on Unsplash
Menurut prinsip kelangkaan (scarcity), manusia cenderung memberikan nilai lebih tinggi pada hal-hal yang semakin sulit untuk diperoleh.
Penggunaan prinsip scarcity ini oleh para negosiator disebut dengan teknik seperti “limited number” dan “deadline” dimana negosiator meyakinkan kita bahwa jika kita tidak bertindak sekarang, kita akan kehilangan sesuatu. Teknik ini memanfaatkan kecenderungan manusia untuk menghindari kerugian bahwa kita jauh lebih termotivasi oleh pikiran tentang kehilangan sesuatu daripada mendapatkan sesuatu yang nilainya setara.
Prinsip kelangkaan berlaku karena dua alasan. Pertama karena hal-hal yang sulit diperoleh biasanya memang lebih bernilai. Kedua, ketika sesuatu menjadi semakin tidak mudah dijangkau, kita kehilangan kebebasan untuk memilikinya. Teori reaktansi psikologis menjelaskan bahwa manusia akan termotivasi untuk melawan kehilangan kebebasan ini dengan cara menginginkan hal tersebut beserta barang dan service yang terhubung dengannya jauh lebih dari sebelumnya.
- Kasus: Teknik penjualan “stok terbatas” atau “promo berakhir dalam 24 jam” memanfaatkan psikologi reaktansi. Ketika kebebasan untuk memiliki sesuatu terancam karena barang tersebut menjadi langka, kita justru menginginkannya jauh lebih kuat dari sebelumnya.
- Taktik Negosiasi: Kelangkaan paling efektif ketika terjadi secara tiba-tiba dan ada persaingan dari pihak lain.
- Cara Menghindar: Ketika kamu merasakan lonjakan emosi atau kekhawtiran meningkat karena takut kehabisan, berhentilah sejenak. Sadari bahwa itu adalah sinyal tekanan kelangkaan. Nilai barang tersebut berdasarkan kegunaannya, bukan berdasarkan seberapa sulit ia didapatkan.
Chapter 7: Commitment and Consistency: Hobgoblins of the Mind
Photo by Mark Duffel on Unsplash
Kita memiliki dorongan obsesif untuk tampil konsisten dengan apa yang telah kita katakan atau lakukan sebelumnya. Konsistensi dianggap sebagai karakter yang kuat di masyarakat, namun bisa menjadi bumerang dalam negosiasi.
Dalam dunia compliance atau kepatuhan, mendapatkan komitmen merupakan kunci awal. Setelah negosiator mendapatkan komitmen dari lawan bicara seperti mengambil tindakan, sikap atau posisi. Lawan bicara lebih bersedia untuk menyetujui permintaan-permintaan berikutnya yang sejalan dengan komitmen awal tersebut. Itu mengapa banyak negosiator berusaha membuat lawan bicara mengambil posisi awal yang konsisten dengan perilaku yang nantinya akan negosiator minta. Tidak semua komitmen sama efektifnya dalam menghasilkan tindakan yang konsisten di masa depan. Komitmen paling efektif ketika bersifat aktif, publik, penuh usaha, dan melihat sebagai motivasi internal atau sukarela karena masing-masing elemen ini mengubah citra diri seseorang dan membuat mereka sungguh yakin dengan apa mereka citrakan.
- Kasus: Teknik “Throwing the Low-ball”. Kondisi dimana kamu ditawari harga mobil yang sangat murah. Setelah kamu setuju dan membuat komitmen mental untuk membeli, tiba-tiba ada kesalahan perhitungan yang menyebabkan harga naik. Anehnya, banyak orang tetap membeli karena mereka sudah terlanjur berkomitmen secara mental.
- Taktik Negosiasi: Mulailah dengan meminta komitmen kecil yang aktif dan publik. Sekali seseorang mengambil posisi kecil, mereka akan lebih mudah menyetujui permintaan besar yang sejalan dengan posisi tersebut.
- Cara Menghindar: Dengarkan sinyal rasa tidak nyaman saat didesak dan tanyakan ke diri sendiri*“*Jika saya bisa kembali ke masa lalu dengan pengetahuan saya sekarang, apakah saya akan tetap mengambil keputusan ini?”
Chapter 8: Unity: The “We” Is the Shared Me
Photo by Chang Duong on Unsplash
Manusia lebih mudah berkata iya kepada orang yang dianggap sebagai bagian dari kelompok yang sama seperti (suku, keluarga, agama, atau bahkan hobi yang sama) atau biasa disebut primordialisme.
Penelitian tentang “kita” menghasilkan tiga kesimpulan yaitu;
- Anggota suatu kelompok lebih mengutamakan hasil dan kesejahteraan sesama anggota dibandingkan orang di luar kelompok.
- Anggota suatu kelompok juga menggunakan preferensi dan tindakan sesama anggota sebagai panduan bagi tindakan mereka sendiri yang pada akhirnya memperkuat solidaritas kelompok.
- Terakhir, kecenderungan semacam ini telah muncul secara evolusioner sebagai cara untuk menguntungkan kelompok dan pada akhirnya, diri kita sendiri. Ketiga kesimpulan ini muncul dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk bisnis, politik, olahraga, dan hubungan personal.
- Kasus: Seorang penjual yang menyebutkan bahwa ia berasal dari kota yang sama sedang mencoba membangun rasa “we-ness”. Anggota kelompok kita akan lebih mengutamakan kesejahteraan sesama anggotanya dibandingkan orang luar.
- Taktik Negosiasi: Gunakan pengalaman acting together (bertindak bersama) seperti berkolaborasi dalam sebuah proyek atau sekadar berbagi momen emosional untuk menciptakan ikatan yang sulit diputus oleh logika bisnis.
Chapter 9: Instant Influence: Primitive Consent for an Automatic Age (Last Chapter)
Photo by Markus Spiske on Unsplash
Kehidupan modern yang penuh ledakan informasi memaksa otak kita menggunakan jalan pintas (shortcut) dalam mengambil keputusan. Para praktisi compliance atau kepatuhan menggunakan otoritas, kelangkaan, hingga konsistensi sebagai leverage agar kita bisa bertindak tanpa berpikir panjang.
Menjadi negosiator bukan berarti kamu harus menjadi predator yang mengeksploitasi orang lain. Sebaliknya, teknik-teknik dan pengetahuain ini adalah tameng. Dengan memahami pola-pola ini, kamu bisa tetap tenang di tengah badai informasi, mengambil keputusan yang bijaksana, dan memastikan bahwa iya yang kamu ucapkan adalah hasil dari pemikiran jernih, bukan sekadar respons otomatis.
Daftar Pustaka: Cialdini, R. B. (2021). Influence: The Psychology of Persuasion. New York: Harper Business.
Fatmawati
30/4/2026
메타데이터
- post_id
- 75f905159c77
- slug
- menjadi-negosiator-101-part-2-75f905159c77
- url
- https://medium.com/@abdill/menjadi-negosiator-101-part-2-75f905159c77
- canonical_url
- https://medium.com/@abdill/menjadi-negosiator-101-part-2-75f905159c77
- author_url
- https://medium.com/@abdill
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-10 15:53:41