← Back to list

“Jadilah Padaku Menurut Perkataan-Mu”

Ketaatan, Iman, dan Partisipasi Manusia dalam Rencana Allah

The Way · 2025-12-22 14:31 · 0 claps · 6.8 min read
#maria #advent #natal
Open on Medium ↗

“Jadilah Padaku Menurut Perkataan-Mu”

The Annunciation of Mary (AI generated)

The Annunciation of Mary (AI generated)

Pendahuluan

Lukas 1:38 merupakan salah satu pernyataan iman paling padat dan menentukan dalam Perjanjian Baru. Jawaban Maria terhadap pewartaan malaikat bukan hanya klimaks dari narasi kelahiran Yesus, tetapi juga titik temu antara kehendak Allah dan respons manusia. Ayat ini menarik untuk dikaji secara serius sebagai teks teologis tentang iman, ketaatan, dan partisipasi manusia dalam karya keselamatan.

“Kata Maria: ‘Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataan-Mu itu.’ Lalu malaikat itu meninggalkan dia.” ~Lukas 1:38

Perikop ini berada dalam rangkaian kisah pewartaan kelahiran yang mengikuti pola Perjanjian Lama (bdk. Kej. 16; Hak. 13). Namun, Lukas secara khas menempatkan Maria tidak sekadar sebagai penerima wahyu seperti Sarah (Kej. 16) dan ibu Simson (Hak. 13), melainkan sebagai responden aktif terhadap firman Allah.

Analisis Leksikal dan Gramatikal

1. ἰδοὺ ἡ δούλη Κυρίου (Idou hē doulē Kyriou) - Identitas sebagai “Hamba”

Istilah δούλη (doulē) secara literal berarti budak perempuan. Dalam dunia Yunani-Romawi, kata ini menunjuk pada kepemilikan total dan ketiadaan otonomi. Namun, dalam tradisi kitab suci seperti dalam Septuaginta (LXX), δοῦλος Κυρίου, hamba Tuhan justru merupakan gelar teologis yang dilekatkan pada tokoh-tokoh kunci dalam sejarah keselamatan, seperti Musa, Daud, dan para nabi. Dengan menyebut dirinya ἡ δούλη Κυρίου, Maria menempatkan diri dalam garis tradisi kenabian Israel dan memahami peristiwa yang dialaminya bukan sebagai peristiwa biologis, tetapi sebagai panggilan Ilahi dalam karya keselamatan.

Maria tampil lebih dari hanya sebagai ibu Yesus, ia juga sebagai figur yang mewakili Israel yang setia, yang berkata “ya” kepada firman Allah ketika karya keselamatan memasuki fase penentu. Irenaeus dari Lyon (murid dari Polycarpus yang adalah murid dari Rasul Yohanes), menegaskan dimensi ini dengan melihat ketaatan Maria sebagai pembalikan dari ketidaktaatan Hawa, sehingga identitas sebagai δούλη Κυρίου menjadi sarana restorasi atas dosa Hawa.

Ketaatan Maria tidak lahir dari sebuah keterpaksaan, melainkan keselarasan antara kehendak manusia dengan kehendak Allah, suatu kebebasan yang oleh Agustinus dalam bukunya De Libero Arbitrio dipahami sebagai keterarahan kehendak bebas manusia kepada yang Ilahi. Ini menegaskan bahwa iman Kristen berakar pada identitas sebelum tindakan, dan bahwa partisipasi manusia dalam karya Allah terjadi ketika diri kita sepenuhnya diserahkan kepada-Nya.

2. γένοιτό μοι (genoito moi) - Iman sebagai Kerelaan Aktif

Frasa γένοιτό μοι (jadilah padaku) merupakan inti dari respons iman Maria dan mengungkapkan kualitas ketaatan yang jauh melampaui kepasrahan pasif. Secara gramatikal, γένοιτο (genoito) adalah bentuk aorist optative middle dari kata γίνομαι (ginomai), suatu bentuk dalam bahasa Yunani Koine yang dipakai untuk mengekspresikan harapan, keinginan, atau persetujuan yang lahir dari kehendak subjek. Bentuk ini tidak memaksakan terjadinya suatu peristiwa, tetapi mengungkapkan kerelaan batin yang sadar sehingga ucapan Maria tersebut bukan sebagai bentuk ia menerima takdir, tetapi Maria menyatakan persetujuan iman yang aktif terhadap firman Allah yang baru saja ia dengar.

Frasa ini memperlihatkan paralel yang kuat dengan ucapan Yesus dalam doa-Nya, “bukan kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mu yang terjadi” (Luk. 22:42). Kedua ungkapan tersebut mencerminkan struktur iman yang sama yaitu penyerahan kehendak manusia kepada kehendak Allah. Hal tersebut menunjukkan bahwa Lukas secara implisit menghadirkan Maria sebagai figur yang mengantisipasi pola ketaatan Sang Putra yang akan ia kandung, sehingga responnya memiliki dimensi kristologis dan eklesiologis sekaligus.

Origenes menafsirkan jawaban Maria sebagai tindakan iman yang mendahului pemahaman penuh, suatu kesiapsediaan untuk memasuki misteri Allah tanpa menuntut penjelasan total (Homilies on Luke, VI). Frasa γένοιτό μοι memperlihatkan bahwa ketaatan sejati tidak meniadakan kehendak manusia, tetapi justru mengarahkan kehendak tersebut agar selaras dengan kehendak Allah. Iman, dalam pengertian ini, adalah kerelaan aktif untuk membiarkan hidup dibentuk oleh firman Allah, bahkan ketika konsekuensi konkret dari ketaatan itu belum sepenuhnya terlihat.

γένοιτό μοι (jadilah padaku) menantang pemahaman iman yang reduktif sebagai kepasrahan tanpa pilihan. Sebaliknya, iman yang digambarkan Lukas adalah iman yang berkata “ya” secara sadar, reflektif, dan penuh tanggung jawab. Suatu kerelaan aktif yang membuka ruang bagi Allah untuk berkarya di dalam dan melalui kehidupan manusia.

3. κατὰ τὸ ῥῆμά σου (kata to rhema sou) - Firman yang Hidup dan Personal

Ungkapan κατὰ τὸ ῥῆμά σου (menurut perkataan-Mu) menunjukkan bahwa ketaatan Maria memiliki dasar yang jelas yaitu firman Allah yang baru saja ia terima. κατά berarti “menurut” atau “selaras dengan,” sehingga respons Maria bukanlah sikap pasrah tanpa arah, melainkan keputusan yang secara sadar diikatkan pada apa yang Allah katakan. Iman, dalam pengertian ini, berakar pada firman Allah yang konkret dan dapat dikenali, bukan sekedar perasaan saja.

Pilihan kata ῥῆμα (rhema) juga tidak kalah penting. Dalam Injil Lukas, ῥῆμα sering dipakai untuk menunjuk pada firman (perkataan) Allah yang diucapkan dalam situasi tertentu dan langsung menuntut respons. Firman ini bukan sekadar informasi atau janji untuk masa depan, tetapi tindakan Allah yang sedang berlangsung. Ketika Maria berkata “menurut perkataan-Mu,” ia mengakui bahwa apa yang Allah sampaikan melalui malaikat adalah kehendak Allah yang aktif bekerja dalam hidupnya. Firman yang ia terima (ῥῆμα - rhema) menjadi awal dari penggenapan terbesar, yaitu inkarnasi Sang Firman (λόγος - logos) yang menjadi manusia. Dengan demikian, Lukas menegaskan bahwa firman Allah bukan hanya mengarahkan hidup orang percaya, tetapi sungguh bekerja dalam sejarah melalui respon iman manusia.

Implikasi Teologis

Lukas 1:38 menunjukkan bahwa iman Kristen tidak pernah dipahami sebagai sikap pasif terhadap kehendak Allah. Respons Maria menunjukkan bahwa Allah mengerjakan keselamatan-Nya dengan melibatkan manusia secara aktif, namun tetap menegaskan bahwa inisiatif dan kuasa keselamatan sepenuhnya berasal dari anugerah Allah. Ketaatan melalui frasa “menurut perkataan” menegaskan bahwa Allah bekerja melalui kehendak manusia yang diselaraskan dengan kehendak-Nya, bukan dipaksa. Kita belajar bahwa iman adalah kerelaan diri yang aktif untuk hidup di bawah otoritas firman Allah yang hidup dan personal. Namun, partisipasi tersebut tidak boleh dipahami sebagai kontribusi manusia yang otonom terhadap keselamatan, sebab inisiatif dan efektivitas tetap sepenuhnya berasal dari Allah yang berfirman dan bertindak dalam sejarah (Ef. 2:8–10).

‘Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri. Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya. ‘ ~Efesus 2:8–10

Di titik ini, penting untuk menegaskan bahwa ketaatan Maria bukanlah causa efficiens (penghasil / pemberi) keselamatan, melainkan causa ministerialis atau instrumen yang dipakai Allah dalam rencana-Nya. Keselamatan tetap bersumber sepenuhnya dari inisiatif dan anugerah Allah yang diterima oleh iman.

“When God crowns our merits, He crowns nothing else but His own gifts.” ~St. Augustine - Epistle 154, 5.16

Dengan kata lain, setiap respons iman manusia termasuk ketaatan Maria, hanya mungkin terjadi karena anugerah Allah yang lebih dahulu bekerja.

“It is therefore faith alone which justifies, and yet the faith which justifies is not alone.” ~John Calvin - Acts of the Council of Trent with the Antidote

Bagi Calvin, iman yang membenarkan tidak pernah berdiri terpisah dari pembaruan hidup, karena iman sejati selalu menghasilkan kehidupan yang diarahkan oleh firman Allah.

Perlu diingat dan dipahami juga bahwa menerima panggilan Allah tidak berarti menghilangkan risiko. Lukas 1:38 memperlihatkan bahwa ketaatan iman justru lahir dan menemukan maknanya yang terdalam di tengah ketidakpastian, baik secara sosial maupun personal. Bagi Maria, mengatakan “ya” kepada firman Allah berarti memasuki masa depan yang sarat dengan risiko seperti ketidakpastian sosial, potensi stigma negatif, serta konsekuensi personal yang tidak sepenuhnya dapat ia kendalikan. Namun justru dalam ruang ketidakamanan inilah iman tampil sebagai kepercayaan yang nyata, bukan karena situasinya menjadi aman, tetapi karena Allah layak dipercaya. Ketaatan yang menunggu hilangnya risiko bukanlah bentuk ketaatan iman, namun berubah menjadi perhitungan pragmatis yang menyamar sebagai kebijaksanaan rohani. Karena itu dalam ketidakpastian itulah dimana iman diuji dan dimurnikan, agar manusia bergantung sepenuhnya pada Allah.

Relevansi bagi Orang Percaya

Respon Maria dalam Lukas 1:38 menyingkapkan bahwa iman Kristen tidak bertumpu pada kepastian hasil atau kontrol manusia atas masa depan, tetapi pada ketaatan kepada firman Allah yang berbicara dan memanggil. Kita dipanggil untuk kesediaan hidup menurut firman, bahkan ketika konsekuensi praktis dari ketaatan itu belum sepenuhnya dapat diprediksi atau dikelola.

“Faith means obedience to the Word of God, whether or not we can see where that obedience will lead” ~Karl Barth - Church Dogmatics I/1

Barth menolak pemahaman iman yang menunggu jaminan rasional atau keamanan eksistensial sebelum taat. Iman, dalam perspektif ini, selalu bersifat terbuka terhadap ketidakpastian, karena dasarnya bukan pada kalkulasi manusia, melainkan kesetiaan pada Allah yang berfirman.

Lebih lanjut, penafsiran dari N. T. Wright, seorang Research Professor of New Testament and Early Christianity di St Mary’s College, University of St Andrews, Scotland, menuliskan dalam commentary-nya Luke for Everyone bahwa Maria percaya kepada janji Allah dan berani mempercayakan diri pada penggenapan firman-Nya dan ia menempatkan Maria sebagai simbol umat Allah yang setia, yang mempercayai Allah dan menaati firman-Nya tanpa terlebih dahulu memahami seluruh konsekuensinya.

Hal ini dapat berarti membangun spiritualitas yang berani berkata “ya” kepada Allah yang bukan hanya dalam liturgi dan pengakuan iman saja, tetapi juga dalam keputusan nyata terkait misi, kepemimpinan, dan kesaksian di ruang publik. Lukas 1:38 memanggil orang percaya untuk hidup sebagai komunitas yang dibentuk oleh firman Allah yang hidup, berani melangkah dalam iman, dan setia menaati panggilan Allah, bahkan ketika masa depan tidak sepenuhnya berada dalam genggaman kita.

Lebih jauh, sikap menurut perkataan-Mu menolong orang percaya untuk mampu membedakan antara kehendak Allah dan dorongan pribadi. Ini berarti belajar mendengar firman Allah secara serius melalui membaca Alkitab, berdoa, dan perenungan pribadi, lalu membiarkannya membentuk pilihan dan arah hidup, sekalipun hal itu menuntut pengorbanan atau membawa risiko tertentu.

Akhirnya, respon Maria memberikan pengharapan bagi setiap orang percaya yang merasa lemah atau tidak layak. Maria dipilih karena ketaatan, kerendahan hati, dan keterbukaannya pada kehendak Allah. Hal ini menunjukkan bahwa Allah bekerja melalui ketaatan yang sederhana dan iman yang tulus. Lukas 1:38 mengundang setiap orang percaya untuk menjalani iman yang hidup yaitu iman yang percaya kepada Allah di tengah ketidakpastian, berani melangkah menurut firman-Nya, dan menyerahkan masa depan kepada kesetiaan Allah yang tidak pernah gagal.

Daftar Pustaka

Augustine. De Libero Arbitrio. In Nicene and Post-Nicene Fathers, First Series, Vol. 1. Edited by Philip Schaff. Peabody, MA: Hendrickson Publishers, 1994.

Augustine. Epistle 154. In Nicene and Post-Nicene Fathers, First Series, Vol. 1. Edited by Philip Schaff. Peabody, MA: Hendrickson Publishers, 1994.

Barth, Karl. Church Dogmatics. Vol. I/1. Edinburgh: T&T Clark, 1936.

Calvin, John. Acts of the Council of Trent with the Antidote. Translated by Henry Beveridge. Edinburgh: Calvin Translation Society, 1848.

Irenaeus. Against Heresies. In Ante-Nicene Fathers, Vol. 1. Edited by Alexander Roberts and James Donaldson. Peabody, MA: Hendrickson Publishers, 1994.

Origen. Homilies on Luke. Translated by Joseph T. Lienhard. Fathers of the Church Series. Washington, DC: Catholic University of America Press, 1996.

Wright, N. T. Luke for Everyone. Louisville, KY: Westminster John Knox Press, 2004


메타데이터
post_id
8b6e126f247c
slug
jadilah-padaku-menurut-perkaataan-mu-8b6e126f247c
url
https://medium.com/@icare.theway/jadilah-padaku-menurut-perkaataan-mu-8b6e126f247c
canonical_url
https://medium.com/@icare.theway/jadilah-padaku-menurut-perkaataan-mu-8b6e126f247c
author_url
https://medium.com/@icare.theway
status
ok
fetched_at
2026-06-25 12:15:08