← Back to list

Beberapa Hal Memang Harus Selesai

Tentang kebiasaan kita mempertahankan sesuatu hanya karena takut mengetahui seperti apa hidup setelahnya

Andi Raditya Satyatikta, A.S. in Ruang Kontemplasi · 2026-09-11 09:56 · 151 claps · 4.2 min read
#ruang-kontemplasi #renungan #refleksi
Open on Medium ↗
Wiki topics: SAF · Safety & Alignment

Kontemplasi

Beberapa Hal Memang Harus Selesai

Tentang kebiasaan kita mempertahankan sesuatu hanya karena takut mengetahui seperti apa hidup setelahnya

Photo by Gema Saputera on Unsplash

Photo by Gema Saputera on Unsplash

Aku punya beberapa barang di rumah yang sebenarnya sudah tidak berguna, tetapi masih kusimpan dengan penuh keyakinan seperti suatu hari nanti barang-barang itu akan meminta maaf karena sudah lama tidak dipakai.

Ada kabel yang aku sendiri tidak tahu kabel apa.

Ada kaus yang sudah terlalu tua untuk disebut kaus, tetapi masih terlalu punya nilai sentimental untuk dibuang.

Ibuku bilang itu baju busuk, warnanya putih tetapi sudah terlihat dekil.

Ada beberapa benda yang setiap kali kulihat membuatku berpikir, “Nanti pasti kepakai.”

Nanti itu rupanya salah satu tempat paling nyaman untuk menyimpan barang yang tidak ingin kita lepaskan.

Aku kira manusia memang punya bakat alami untuk menyimpan.

Bukan cuma barang.

Kita menyimpan percakapan lama, kebiasaan lama, cara berpikir lama, bahkan versi diri sendiri yang sudah tidak terlalu cocok dengan kehidupan sekarang.

Kadang-kadang kita tahu sesuatu tidak lagi seperti dulu, tetapi tetap berusaha memperlakukannya seolah-olah tidak ada yang berubah.

Mungkin karena sesuatu yang sudah kita kenal selalu terasa lebih aman.

Kita tahu cara menghadapinya.

Kita tahu bagian mana yang menyebalkan.

Kita tahu bagaimana mengeluh tentangnya.

Bahkan kita tahu bagaimana akhirnya.

Yang belum kita kenal jauh lebih menakutkan.

Perubahan tidak pernah datang membawa proposal lengkap. Ia tidak mengetuk pintu sambil berkata, “Selamat sore, saya perubahan. Ini jadwal saya. Minggu depan hidup Anda akan seperti ini. Mohon tanda tangan di halaman terakhir.”

Ia datang begitu saja.

Tiba-tiba seseorang yang dulu setiap hari menghubungi kita menjadi seseorang yang sesekali muncul di layar.

Pekerjaan yang dulu kita tunggu-tunggu mulai terasa seperti ruangan yang terlalu sempit.

Tempat yang dulu membuat kita betah tidak lagi memberikan perasaan yang sama.

Teman-teman mulai punya kesibukan masing-masing.

Kita pun punya kesibukan sendiri.

Tidak ada yang benar-benar salah.

Hanya saja, kehidupan bergerak.

Yang menarik, kita sering lebih cepat menyadari perubahan pada orang lain daripada pada diri sendiri.

“Dia sudah berubah.”

Kalimat itu mudah sekali keluar.

Jauh lebih sulit mengatakan, “Mungkin aku juga.”

Aku pernah menginginkan sesuatu dengan kemauan yang sangat tinggi, terkesan memaksa. Setelah mendapatkannya, ternyata rasanya tidak seperti yang kubayangkan.

Seperti anak kecil yang merengek minta mainan selama berbulan-bulan, lalu ketika mainannya dibelikan, lima menit kemudian justru sibuk memainkan kardusnya.

Manusia memang makhluk yang aneh. Aku hafal betul karena aku anehnya bukan main.l

Kita mengejar sesuatu sampai mendapatkannya, lalu setelah mendapatkannya mulai bertanya apa lagi.

Kita ingin cepat dewasa, lalu ketika dewasa mencari foto masa kecil.

Ingin punya pekerjaan, lalu merindukan libur.

Ingin pindah rumah, lalu beberapa tahun kemudian merindukan gang kecil di depan rumah lama.

Ingin pergi jauh, lalu ketika sudah jauh mulai mencari makanan yang rasanya seperti rumah.

Mungkin hidup memang memiliki selera humor yang cukup bagus.

Ada satu hal yang belakangan sering kupikirkan. Kita begitu ingin mempertahankan keadaan tertentu sampai lupa bahwa keadaan itu sendiri tidak pernah berjanji akan tinggal.

Sebuah lagu, misalnya.

Tidak ada yang marah ketika sebuah lagu berakhir. Kita tidak berdiri di depan speaker sambil berteriak, “Jangan selesai dulu!”

Sebuah nada datang, terdengar, kemudian memberi ruang kepada nada berikutnya.

Kalau satu nada dipaksa terus berbunyi, kita bukan lagi menikmati musik.

Kita mulai mencari tombol mute.

Barangkali kehidupan juga memiliki aturan sederhana semacam itu.

Sebuah masa terasa indah bukan karena ia berlangsung selamanya, tetapi karena kita benar-benar berada di dalamnya ketika ia berlangsung.

Aku pernah melihat foto lama dan baru sadar bahwa saat foto itu diambil, tidak ada satu pun dari kami yang tahu sedang berada di sebuah masa yang kelak akan dirindukan.

Kami hanya nongkrong.

Tertawa.

Bicara tentang hal-hal yang tidak penting.

Tidak ada yang mengatakan, “Tolong nikmati momen ini karena sepuluh tahun lagi kita semua akan sibuk dan sulit bertemu.”

Untungnya tidak ada.

Kalau ada, mungkin suasananya malah aneh.

Kami hanya menjalani sore biasa.

Justru sekarang, setelah bertahun-tahun berlalu, sore itu terasa istimewa.

Mungkin sebagian besar kehidupan memang seperti itu.

Kita baru tahu sebuah momen berharga setelah momen itu menjadi kenangan.

Ketika masih berlangsung, ia terasa biasa saja.

Kopi yang diminum sambil mengobrol.

Perjalanan pulang bersama seseorang.

Makan malam sederhana.

Pesan singkat dari teman lama.

Suara orang tua dari kamar sebelah.

Hal-hal yang ketika sedang terjadi tidak kita beri perhatian khusus.

Padahal kelak mungkin justru itu yang kita cari.

Aku mulai curiga bahwa manusia terlalu sering menginginkan kehidupan dalam bentuk yang tetap.

Kita ingin hubungan tetap seperti pertama kali.

Pekerjaan tetap menyenangkan seperti bulan pertama.

Teman-teman tetap punya waktu seperti ketika belum menikah.

Keluarga tetap berkumpul seperti ketika semua orang belum punya kesibukan sendiri.

Kita ingin hidup menjadi sebuah foto.

Padahal kehidupan lebih mirip air.

Ia tidak pernah meminta izin ketika bergerak.

Kita bisa mengambil foto sungai, tetapi tidak pernah bisa memotret air yang sama dua kali.

Begitu juga dengan manusia.

Kita bertemu orang yang sama, tetapi tidak pernah benar-benar bertemu orang yang sama.

Dia sudah melewati hari-hari yang berbeda.

Kita juga.

Ada pengalaman yang mengubah cara dia melihat dunia.

Ada pengalaman yang mengubah cara kita melihat diri sendiri.

Maka ketika dua orang bertemu lagi setelah bertahun-tahun, mereka sebenarnya membawa dua kehidupan baru ke dalam satu percakapan.

Mungkin itu sebabnya beberapa pertemuan terasa asing meskipun wajahnya masih sama.

Dan mungkin itu juga sebabnya beberapa orang tetap terasa dekat meskipun sudah lama tidak bertemu.

Yang berubah bukan selalu jaraknya.

Kadang-kadang cara kita membawa seseorang di dalam ingatan.

Aku masih buruk dalam urusan melepaskan sesuatu.

Aku masih suka membaca percakapan lama.

Masih menyimpan barang yang tidak dipakai.

Masih sesekali bertanya, “Bagaimana kalau dulu aku memilih yang berbeda?”

Pertanyaan yang sangat tidak berguna, tetapi rajin sekali datang.

Barangkali ia punya kartu akses khusus ke kepalaku.

Namun semakin lama aku mulai memahami bahwa tidak semua hal perlu dikembalikan ke bentuk semula.

Ada yang cukup dikenang.

Ada yang cukup disyukuri.

Ada yang cukup dibiarkan menjadi bagian dari cerita.

Dan ada yang memang lebih baik tidak disentuh lagi.

Bukan karena semuanya buruk.

Justru karena beberapa hal sudah memberikan apa yang memang perlu diberikannya.

Seperti sebuah lagu yang sudah sampai pada nada terakhir.

Kita tidak marah kepada lagu itu.

Kita hanya membiarkannya berhenti.

Kemudian mungkin, setelah beberapa detik, kita mencari lagu berikutnya.

Malam ini aku kembali melihat barang-barang lama di lemari.

Kabel aneh itu masih ada.

Kaus lama itu juga masih ada.

Aku mengambilnya sebentar, memandanginya, lalu mengembalikannya ke tempat semula.

Belum kubuang.

Mungkin besok.

Atau minggu depan.

Entahlah.

Ternyata, bahkan setelah memahami bahwa hidup terus bergerak, aku masih belum tahu kabel ini sebenarnya untuk apa.


메타데이터
post_id
b0fbb8fdf3fb
slug
beberapa-hal-memang-harus-selesai-b0fbb8fdf3fb
url
https://medium.com/ruang-kontemplasi/beberapa-hal-memang-harus-selesai-b0fbb8fdf3fb
canonical_url
https://medium.com/ruang-kontemplasi/beberapa-hal-memang-harus-selesai-b0fbb8fdf3fb
author_url
https://medium.com/@andixrst
status
ok
fetched_at
2026-09-14 06:27:43