← Back to list

Bagaimana Wabah dan Kecemburuan Sosial Jadi Cerita Pesugihan

Kala Ralan · 2026-08-16 11:24 · 10 claps · 4.5 min read
#social #antropology #pesugihan #mistisisme
Open on Medium ↗
Wiki topics: 🔒 · Cybersecurity

Bagaimana Wabah dan Kecemburuan Sosial Jadi Cerita Pesugihan

Beberapa waktu lalu, saya menonton sebuah video dokumenter investigatif tentang pesugihan di Pulau Panggang, Kepulauan Seribu, pada era 1960-an. Ceritanya sangat menarik karena mitos ini dipelihara secara turun-temurun dan sukses membungkus sebuah tragedi kematian misterius menjadi legenda kelam.

Semuanya bermula dari seorang nelayan bernama Suki. Sebagai perantau keturunan Mandar, Suki digambarkan bertubuh tinggi besar, tampan dan rajin beribadah. Hari demi hari, hasil tangkapan ikannya selalu melimpah dibandingkan nelayan lokal. Secara perlahan, status ekonominya pun meningkat. Namun, di tengah masyarakat tradisional, kesuksesan yang terlalu mencolok sering kali memancing kecurigaan. Warga mulai berbisik-bisik, “Suki pasti menggunakan ilmu hitam dan pesugihan”.

Desas-desus itu berubah menjadi teror ketika pulau tersebut tiba-tiba dilanda rentetan kematian misterius. Para korban menunjukkan gejala yang sama: diare hebat, dehidrasi parah, dan melebarnya lubang dubur sebelum akhirnya meregang nyawa. Situasi semakin mencekam karena pada masa itu, warga masih terbiasa buang air besar di bilik-bilik jamban dan pasir pantai, bukan di rumah. Ketakutan untuk sekadar pergi ke pantai pun memuncak.

Di tengah kepanikan massal, Suki menjadi sasaran empuk. Kecurigaan warga seolah menemukan pembenarannya ketika warga mendapati bahwa setiap kali Suki absen dari kegiatan ronda malam, ada warga yang mati keesokan harinya, berbarengan dengan Suki yang pulang membawa tangkapan ikan melimpah.

Narasumber dalam cerita tersebut menyebutkan bahwa ada sesepuh disana yang memiliki pusaka. Melalui medium sebilah keris yang konon mengarah ke tempat Suki bersembunyi, vonis pun dijatuhkan. Suki dimintai keterangan di sebuah balai pertemuan (sekarang Karang Taruna). Dari kesaksian (dan informasi yang sporadis), warga menemukan sebuah catatan berisi daftar nama orang-orang yang diduga sebagai target. Bagi warga yang kadung emosi saat itu, catatan nama korban adalah bukti absolut: daftar target tumbal Suki.

Didorong oleh rasa geram, ketakutan, dan validasi mistik, saat itu juga Suki dihakimi oleh massa. Kisah dari kesaksian warga menyebutkan bahwa dubur Suki ditusuk menggunakan tombak hingga tembus ke mulut. Ajaibnya, Suki tidak langsung mati. Tubuhnya yang meronta dan bertahan hidup dari tusukan fatal itu justru membuat warga semakin histeris, dan memperkuat tuduhan bahwa Suki memiliki ilmu kebal “rawa rontek”. Pada akhirnya, tubuh Suki dibawa ke laut dengan mengikat kaki dan tangannya lalu ditenggelamkan ke laut dengan pemberat batu agar ilmunya “terkunci” dan jasadnya tidak bangkit lagi seperti di darat.

Setelah Suki tewas, badai kematian akibat penyakit aneh itu perlahan mereda. Namun hingga hari ini, cerita kengerian Suki masih melekat dan dijaga turun temurun oleh masyarakat setempat, mereka juga meyakini roh jahatnya masih bersemayam di perairan tersebut.

Namun, benarkah Suki seorang pembunuh berdarah dingin dengan ilmu hitam untuk mencapai status ekonomi tertentu? Jika kita melepaskan kacamata mistis dan membedah peristiwa ini melalui lensa sejarah, medis, dan sosiologi, tragedi Pulau Panggang bukanlah cerita tentang pesugihan. Ini adalah potret gelap pembunuhan karakter dan memelihara mistisisme sebagai jalan pintas pembenaran kolektif.

Tragedi Sanitasi yang Menjadi “Kutukan” Kematian massal dengan gejala diare ekstrem dan dubur melebar bukanlah ulah roh jahat, melainkan wabah penyakit seperti kolera atau disentri. Penyakit ini menyebar lewat rute fecal-oral (tinja ke mulut), yang sangat mudah terjadi jika sanitasi buruk bercampur dengan konsumsi air tanah pulau atau hasil laut yang terkontaminasi, mengingat warga saat itu terbiasa buang air di pasir pantai. Ketidaktahuan akan ilmu bakteriologi pada masa itu telah mengubah krisis kesehatan masyarakat yang mematikan menjadi ilusi pesugihan.

Ironisnya, ketika wabah itu mereda setelah kematian Suki, itu bukan karena “kutukan” telah tercabut, melainkan siklus alamiah wabah. Setiap wabah penyakit infeksius, seperti kolera atau disentri akibat sanitasi buruk, punya yang namanya kurva epidemiologi. Wabah itu ada masa awalnya, puncaknya, lalu akan menurun dengan sendirinya ketika rantai penularan terputus, atau ketika orang-orang yang rentan di populasi tersebut sudah meninggal maupun membentuk kekebalan alami. Kepanikan massal akibat wabah membuat warga mengubah perilaku, mereka membatasi interaksi dan takut pergi ke pantai (sumber penyebaran bakteri).

Isolasi komunal inilah yang sebenarnya memutus rantai penularan wabah. Klaim warga bahwa wabah berhenti karena matinya Suki hanyalah ilusi dari masyarakat yang belum paham dari peristiwa medis pada saat itu dan bagaimana masyarakat mencari alternatif rasa amanpalsu. Jika ada warga yang tetap mati setelahnya, memori kolektif mereka akan dengan mudah mencari alasan lain (misal: “itu masuk angin biasa”) demi melindungi ego mereka.

Kesenjangan Skill Kelautan sebagai Bom Waktu Alasan mengapa tangkapan ikan Suki melimpah juga bisa dijelaskan secara logis. Orang-orang pesisir Sulawesi (Bugis, Makassar, Mandar) secara historis adalah pelaut tangguh di Nusantara. Suki jelas memiliki insting navigasi, pemahaman arus, dan teknik menangkap ikan yang jauh melampaui nelayan lokal era 60-an. Monopoli ekonomi akibat skill yang tidak diwariskan ini memicu kecemburuan sosial dan ekonomi. Menuduhnya menggunakan praktik ilmu hitam adalah cara paling “sah dan lumrah” di mata masyarakat tradisional untuk menyingkirkan kompetitor ekonomi tanpa terlihat sebagai orang yang iri.

Anatomi Medis di Balik Ilusi “Ilmu Kebal” Tusukan dari dubur tembus ke arah mulut memang terdengar sadis, namun asumsi saya, jika kisah kesaksian warga menyebutkan bahwa tombak itu ditusukkan dari dubur hingga tembus ke mulut. Secara logika dasar, anatomi manusia tidak bekerja seperti itu. Jika sebuah tiang atau tombak benar-benar menembus dari bawah hingga ke mulut, benda itu secara otomatis akan menghancurkan organ vital di jalurnya, terutama jantung dan paru-paru. Kerusakan seekstrem itu akan membuat manusia tewas seketika dalam hitungan detik.

Fakta bahwa Suki tidak langsung mati dan masih meronta justru menjadi bukti logis bahwa tombak tersebut tidak pernah tembus sampai ke mulut. Tusukan itu kemungkinan besar “hanya” merobek bagian usus dan organ dalam bagian bawahnya. Kondisi korban yang sekarat, meronta, dan tidak langsung mati berjam-jam inilah yang murni merupakan respons dan penderitaan biologis akibat pendarahan internal hebat. Namun, warga menceritakan kekejaman mereka dengan hiperbola “tembus ke mulut” agar Suki terlihat seperti monster sakti dengan ilmu “rawa rontek”. Sekali lagi, warga menyalahartikan penderitaan manusia sebagai ilmu kebal demi memvalidasi ilusi mereka sendiri.

Kendala Linguistik dan Empati yang Dipelintir Lalu, bagaimana dengan “buku catatan target tumbal”? Sebagai perantau di tengah masyarakat berasimilasi antara Betawi-Banten, nama-nama lokal pasti terdengar asing bagi Suki. Mencatat nama adalah usaha logis seorang pendatang untuk beradaptasi. Terlebih lagi, sebagai pelaut dengan nalar observasi kuat, Suki mungkin sedang mencoba mencari pola penyebaran penyakit yang membunuh tetangga-tetangganya. Ironisnya, catatan empati atau observasi pemetaan penyakit primitif ini malah dipelintir oleh warga menjadi alat bukti pembunuhan berencana.

Mitos sebagai Alat Cuci Tangan Kolektif Pada akhirnya, penenggelaman Suki menggunakan batu di tengah laut bukanlah ritual untuk menyegel ilmu hitam dan kesaktian. Sederhananya itu adalah insting bertahan hidup dari para pelaku “mob justice” untuk menutupi jejak pembunuhan sadis. Membungkus tindakan kriminal dengan narasi “menyelamatkan desa dari roh jahat” adalah cara paling efektif untuk para pelaku kekerasan agar tidak merasa bersalah, dan terhindar dari jerat hukum atas peristiwa pembunuhan yang terjadi.

Kisah Suki bukanlah legenda mistis warisan turun-temurun yang harus dijaga dan dibanggakan. Ini adalah monumen peringatan yang sangat gelap, tentang betapa berbahayanya kombinasi antara wabah penyakit, kecemburuan sosial ekonomi, dan psikologi massa yang buta ilmu pengetahuan.


메타데이터
post_id
e314230125d5
slug
bagaimana-wabah-dan-kecemburuan-sosial-jadi-cerita-pesugihan-e314230125d5
url
https://medium.com/@kalaralan/bagaimana-wabah-dan-kecemburuan-sosial-jadi-cerita-pesugihan-e314230125d5
canonical_url
https://medium.com/@kalaralan/bagaimana-wabah-dan-kecemburuan-sosial-jadi-cerita-pesugihan-e314230125d5
author_url
https://medium.com/@kalaralan
status
ok
fetched_at
2026-09-15 04:13:26