← Back to list

Kapitalisme Abad 21, Legalisasi Menindas Diri Sendiri

Ditulis untuk memperingati Hari Buruh

Wawan Kurniawan in Wacana Politik · 2026-05-19 13:40 · 200 claps · 3.4 min read paywalled
#kompas #opini #kapitalisme #psikologi #legalisasi
Open on Medium ↗
Wiki topics: ⚖️ · Law & Justice

Kapitalisme Abad 21, Legalisasi Menindas Diri Sendiri

Ditulis untuk memperingati Hari Buruh

Photo by Mike Erskine on Unsplash

Photo by Mike Erskine on Unsplash

Eksploitasi yang paling sempurna adalah eksploitasi yang membuat korbannya berterima kasih. Pada 1934, filsuf Simone Weil menanggalkan posisinya sebagai guru lycée (setara SMA) untuk bekerja sebagai buruh pabrik logam selama setahun penuh. Yang ia tulis dari pengalaman itu bukan tentang upah atau jam kerja, melainkan tentang sesuatu yang lebih dalam, yakni bagaimana kerja modern memiliki kapasitas untuk menghapus seseorang dari dirinya sendiri. Hampir satu abad kemudian, di tengah kehidupan kerja yang kini dibungkus aplikasi dan algoritma, kesaksian itu terdengar lebih akrab daripada yang seharusnya.

Filsuf Korea-Jerman, Byung-Chul Han, dalam buku Müdigkeitsgesellschaft (The Burnout Society, 2010), menawarkan kerangka yang reflektif bahwa kapitalisme abad ke-21 tidak lagi menghasilkan buruh yang ditindas, tetapi ”subyek prestasi” atau Leistungssubjekt yang menindas dirinya sendiri. Eksploitasi telah berpindah lokasi, dari pabrik ke kepala, dari mandor ke aplikasi. Generasi yang kini mengisi sebagian besar pasar kerja Indonesia adalah generasi pertama yang tumbuh sepenuhnya di dalam logika ini. Mereka tidak punya majikan dengan wajah yang bisa dibenci. Kini, mereka mempunyai algoritma. Mereka tidak diawasi oleh mandor yang berjalan di antara mesin jahit, mereka diawasi oleh skor performa yang berdetak di layar ponsel mereka sendiri. Dan ketika mereka gagal, mereka tidak menyalahkan sistem, tetapi menyalahkan diri sendiri.

Inilah pencapaian terbesar tahap kapitalisme sekarang, sistem yang dihadirkan berhasil membuat eksploitasi terasa seperti pilihan pribadi. Pengemudi yang bekerja empat belas jam sehari tidak akan mengeluh tentang ”jam kerja”, ia akan mengeluh bahwa ”performa hari ini kurang bagus”. Pekerja kreatif lepas yang membalas pesan klien pada pukul sebelas malam tidak akan menyebut dirinya sedang dieksploitasi; ia akan menyebut dirinya sedang ”membangun jejaring”. Dalam bahasa Bourdieu, inilah kekerasan simbolik dalam bentuknya yang paling matang, yakni dominasi yang tidak terasa seperti dominasi karena sudah menjadi cara berbicara dan berpikir korbannya sendiri.

Tragedi beban generasi

Yang paling mengkhawatirkan bukan lagi beban kerjanya. Beban kerja generasi sebelumnya jauh lebih berat dalam ukuran fisik. Yang berbeda adalah arsitektur psikologisnya. Di pabrik tekstil tahun 1980-an, seorang buruh tahu siapa lawannya: pemilik pabrik, mandor, undang-undang yang berpihak. Kemarahan dapat dialamatkan pada subyek yang jelas. Solidaritas punya bentuk. Serikat buruh adalah jawaban yang masuk akal, dan musuh bersama adalah perekat yang mengikat orang asing menjadi sesama.

Generasi pekerja platform tidak punya kemewahan atas kejelasan ini. Algoritma tidak bisa diajak berunding. Aplikasi tidak bisa dimogokkan dalam pengertian klasik. Sesama pengemudi di lampu merah yang sama bukan rekan kerja, melainkan kompetitor yang sedang bersaing untuk order yang sama.

Ekonomi platform terus memberi fleksibilitas, kemandirian, kebebasan memilih jam kerja. Secara mendasar, ini bukanlah kebohongan, melainkan seperti perangkap hegemoni. Hegemoni, yang dalam pengertian Antonio Gramsci, bekerja paling baik bukan ketika ia berbohong, melainkan ketika ia menawarkan kebenaran parsial yang menyembunyikan kebenaran yang lebih besar. Memang di kondisi ini jelas ada fleksibilitas. Yang hilang kemudian adalah jaminan kesehatan, hari libur yang dibayar, masa pensiun, dan keamanan sosial yang dulu menjadi hasil perjuangan satu abad gerakan buruh. Apa yang dijual sebagai ”kemerdekaan” sesungguhnya adalah pembongkaran perlahan dari jaring pengaman yang dibangun susah payah oleh generasi-generasi sebelumnya.

Generasi muda mewarisi dunia kerja yang sudah dibongkar, tetapi mereka diajari untuk merasa bersyukur atas reruntuhannya. Sebab, reruntuhan itu menawarkan ”fleksibilitas”. Mereka diajari bahwa mengeluh adalah kelemahan dari karakter, bahwa burnout adalah masalah manajemen waktu pribadi, bahwa solusinya adalah aplikasi meditasi dan kursus produktivitas.

Bahasa dan kolektivisme

Bahasa, dalam hal ini, adalah medan pertempuran yang sebenarnya. Setiap kata yang kita gunakan untuk menamai pekerjaan menentukan apa yang bisa dan tidak bisa kita perjuangkan terhadapnya. ”Mitra” tidak punya hak yang sama dengan ”buruh”. ”Rekan” tidak punya jaring perlindungan yang sama dengan ”karyawan”. ”Freelancer” tidak punya basis kolektif yang sama dengan ”pekerja”. Setiap kata ini adalah terjemahan halus dari satu kata lain yang tidak boleh diucapkan oleh para pekerja yang haknya sengaja dikaburkan. Pengaburan ini bukan kebetulan linguistik, semua ini pada dasarnya adalah strategi politik.

Pertanyaan yang lebih serius kemudian, bagaimana sebuah gerakan kolektif bisa dibangun ketika logika dasar kerja modern adalah atomisasi? Ini bukan pertanyaan retoris, dan tidak ada yang berhak menjawabnya selain mereka yang menjalani kondisi itu sendiri. Akan tetapi, setidaknya satu hal sudah jelas: gerakan buruh abad ke-21 tidak bisa lagi mengandalkan model abad ke-20. Ruang pertemuan tidak lagi pabrik, tetapi grup percakapan daring. Bahasa perjuangan tidak lagi otomatis ”kelas”, tetapi harus ditemukan kembali untuk pekerja yang bahkan tidak diakui sebagai pekerja.

Kapitalisme tahap ini telah berhasil meyakinkan jutaan orang muda bahwa keletihan mereka adalah urusan pribadi. Tugas politik intelektual hari ini adalah menerjemahkan kembali keletihan itu ke dalam bahasa yang bisa dibagi. Sebab, kelelahan yang tidak punya nama akan terus dianggap sebagai kelemahan. Kelelahan yang punya nama bisa menjadi awal dari kesadaran bersama. Dan kesadaran bersama penting untuk dipahami bahwa itu adalah satu-satunya hal atau jalan yang pernah benar-benar mengubah sejarah. Maka, jika rasa kolektif itu telah hilang, sebisa mungkin kita perlu menemukannya kembali.

Terlebih ketika kita kini berada di tengah masyarakat yang berhasil menjual kesepian sebagai ”kemandirian”, semua ini jelas menjadi pekerjaan yang paling politis.

*Pertama kali dimuat Kolom Opini Kompas, 6 Mei 2026


메타데이터
post_id
f1b441018893
slug
kapitalisme-abad-21-legalisasi-menindas-diri-sendiri-f1b441018893
url
https://medium.com/wacana-politik/kapitalisme-abad-21-legalisasi-menindas-diri-sendiri-f1b441018893
canonical_url
https://medium.com/wacana-politik/kapitalisme-abad-21-legalisasi-menindas-diri-sendiri-f1b441018893
author_url
https://medium.com/@wawankurn
status
ok
fetched_at
2026-07-10 22:46:24