Bagaimana Trauma Membentuk Cara Kita Bereaksi
Kamu percaya gak kalau apa yang kita simpan sekarang di alam bawah sadar kita berupa trauma atau luka akan menjadi arah kita dalam…
Bagaimana Trauma Membentuk Cara Kita Bereaksi
Kamu percaya gak kalau apa yang kita simpan sekarang di alam bawah sadar kita berupa trauma atau luka akan menjadi arah kita dalam berperilaku dan membentuk kepribadian kita?
Tadinya aku gak percaya. Karena manusia diciptakan dengan akal dan kemampuan lainnya, sehingga tidak mungkin perilaku kita ditentukan oleh masa lalu kita saja. Tapi entah kenapa statement ini semakin hari semakin terasa benar. Beberapa hari yang lalu aku mendengarkan beberapa podcast, tentang leadership juga self development. Podcast tersebut membahas bahwa perilaku sangat dipengaruhi oleh bagaimana seseorang memaknakan trauma yang dimilikinya menjadi respon-respon, yang membentuk perilaku, dan lama-lama membentuk kepribadian.
Bagaimana Trauma Membentuk Pola (Leadership, Keluarga, Relasi)
Seorang pimpinan, misalnya di kantor, akan memiliki gaya kepemimpinan — termasuk gaya komunikasi tertentu yang dipengaruhi oleh bagaimana orang tua nya memperlakukan dia pada saat ia kecil. Apabila luka yang muncul diakibatkan oleh seringnya ia tidak dihargai atau seringnya ia tidak dianggap cukup, dan apabila luka tersebut tidak diproses dengan tepat, maka leadership yang muncul cenderung akan memperlihatkan kebutuhan dia untuk dihargai menjadi lebih besar lagi. Ia cenderung akan menggunakan powernya untuk lebih berkuasa, mungkin juga menjadi atasan yang tidak empati dengan bawahan karena fokus kepada ‘kebutuhan’ dirinya (yang dibungkus dengan KPI, kewajiban, dan lainnya) dan tentu saja yang sering menanggung beban mental tersebut tidak lain adalah bawahannya sendiri.
Dalam latar belakang keluarga, seorang bapak yang ‘tidak bisa memproses emosinya’ — lagi lagi mungkin karena trauma nya di masa lalu, cenderung menurunkan siklus tersebut ke pada anaknya. Seseorang yang mendapatkan verbal atau physical abuse, serta terbiasa tidak mendapatkan apresiasi atau validasi yang dibutuhkan, atau sering merasa ‘dilupakan’ karena kesibukan orang tuanya, cenderung akan berimplikasi kepada pola perilaku tertentu misalnya tidak percaya diri, tidak pernah merasa cukup, mencari validasi dari luar, haus perhatian, bahkan Narcistic Personality Disorder yang saat ini sering kali mulai dibahas dalam perbincangan di ranah mental health.
Contoh lainnya, seseorang di masa kecil yang sering ditinggal orang tuanya karena kesibukan (abandonment) yang sifatnya terus menerus, membentuk pola respon di dirinya bahwa dia ‘tidak cukup penting’ untuk dijadikan prioritas, ia akan menjadi merasa bahwa kebutuhannya tidak akan dipenuhi. Luka ini secara tidak langsung menjadi template/ cetakan pada dirinya dengan pola anxious attachment, bahwa ia harus menjadi ‘seseorang yang penting’ agar orang lain menganggap dirinya ada. Ia cenderung akan merasa merasa takut ditinggalkan, sehingga defense mechanism nya akan mendorong dia untuk selalu mencari validasi dari orang lain. Atau, di kutub yang berbeda, ini bisa menimbulkan pola avoidant attachment, yaitu menjadi seseorang yang mandiri secara berlebihan dan tidak mau bergantung bahkan tidak percaya pada orang lain.
Emotional Neglect: Luka yang Tidak Terlihat
Hal lain yang mungkin terjadi pada anak yang sering ditinggalkan orang tuanya adalah Emotional neglect atau pengabaian emosional. Hal ini jarang sekali terlihat dalam perilaku seseorang secara langsung, karena sifatnya sangat silent namun efeknya yang dalam. Karena ketiadaan peran orang tua dalam mengenalkan emosi-emosi yang muncul pada dirinya, ia tidak diajarkan untuk mengenali emosi dan mengekspresikan perasaannya dengan sehat. Ia tidak di-recognize ketika sedang marah, sedang senang atau emosi lainnya yang mungkin timbul ketika orang tuanya tidak hadir. Ia juga tidak bisa mengekspresikan perasaan dengan sehat karena tidak ada peran yang memvalidasi ekspresi itu dengan tepat. Alih-alih bertanya dengan lembut seperti “Kamu lagi marah? Apa yang membuat dirimu kesal?” namun pernyataan yang didapatkan oleh anak itu hanyalah “Jangan rewel! Mama lagi capek! Cepet beresin kamarnya!”. Akhirnya saat dewasa ia akan bingung dengan perasaannya sendiri, merasa ‘kosong’ tanpa tahu apa penyebabnya.
Pada kenyataannya, tidak mudah bagi seseorang untuk mampu memahami dan memproses trauma yang dimilikinya. Manusia akan cenderung menghindari rasa luka. Ini adalah bentuk mekanisme pertahanan diri yang dimiliki oleh seluruh makhluk, melindungi dirinya dari rasa sakit yang pernah dirasakan, dan berusaha bagaimana rasa sakit itu dapat dilawan dengan cara apapun, namun tidak secara langsung mengobatinya.
Orang-orang yang mengalami emotional neglect dari orang tua, apabila memiliki hubungan romantis, tanpa ia sadari ia akan menjadi seseorang yang over-attach, cenderung melekat secara berlebihan karena takut ditinggalkan. Di kutub yang lain, justru ada orang yang malah cenderung menjauh karena takut disakiti, sehingga sulit memulai hubungan yang serius. Ada juga kecenderungan untuk malah menjadi tertarik dengan orang yang tidak pernah benar-benar hadir secara emosional untuk dia (jarang mendengarkan, memberikan respons dengan dangkal, dll), secara alam bawah sadar dirinya terbiasa mencari kesaamaan dan mengulang pola yang sama dengan orang tuanya di masa lalu. Tanpa disadari, ia tertarik pada kebiasaan yang familiar, bukan karena itu sehat, tapi karena terasa seperti ‘rumah’ yang pernah ia kenal.
Trigger dan Cara Kita Bereaksi
Untuk menjadi pribadi yang lebih baik kita perlu menyadari mengapa kita berreaksi dengan cara tertentu saat menghadapi masalah — terutama ketika trigger tersebut memicu respons yang sebenarnya tidak kita inginkan. Misalnya, saat atasan kita memberikan masukkan/ saran untuk meningkatkan performa kerja, bagi seseorang yang sejak kecil tidak terbiasa menerima validasi emosional yang tepat, situasi ini bisa terasa seperti ancaman dan serangan. Sesuatu yang secara objektif bersifat netral bahkan positif, seperti ‘saran’, dapat dipersepsikan sebagai sesuatu yang negatif dan berbahaya, karena di dalam dirinya ada dorongan untuk selalu tampil sempurna agar merasa aman dan diterima.
Namun trauma bukan hanya tentang apa yang pernah terjadi, tapi tentang bagaimana pengalaman itu diproses dan tidak terselesaikan. Bukan berarti orang yang orang tuanya sibuk pasti punya pola yang sama, tapi bagaimana cara anak memaknai pengalaman itu yang akhirnya membentuk respon nya. Jadi kita tidak bisa secara umum menyalahkan orang tua atau melabeli seseorang itu ‘rusak’, yang perlu kita pahami adalah bahwa pola yang terbentuk itu bisa dirubah.
Bagaimana Cara Mengubah Pola Itu?
Selain bercerita kepada psikolog atau konselor, ada hal sederhana yang bisa dilatih untuk membantu seseorang menyadari trauma yang dimiliki, sekaligus memperbaiki perilaku negatif yang mungkin muncul. Salah satunya adalah dengan melatih mindfulness terhadap emosi yang dirasakan, belajar mengenali dan membedakan emosi yang muncul saat berhadapan dengan trigger tertentu. Jika perlu, emosi tersebut bisa dicatat sebagai bentuk refleksi. Menuliskan dan membaca ulang apa yang dirasakan dapat membantu seseorang melihat kembali “pantulan” emosinya — sesuatu yang mungkin dulu tidak sempat ia terima atau pahami.
Respon kita terhadap trigger baik ucapan maupun perilaku adalah cetakan dari defense mechanism kita dalam menangkap bahaya. Namun pola yang terbentuk ini bisa diubah, dengan cara me-reframe kembali makna dari trigger yang muncul tersebut. Re-framing itu bukan menyangkal perasaan, tapi mengganti makna yang kita berikan pada suatu kejadian, karena yang memicu reaksi besar biasanya bukan kejadiannya tapi makna lama yang kita tempelkan ke kejadian itu.
Salah satunya selain menulis jurnal, kita juga bisa mengenali akar permasalahan yang muncul dengan mengambil jarak dengan diri kita yang sedang marah. Pause — memberikan jeda sebelum bereaksi. Ini sangat sederhana untuk melatih diri dari sikap reaktif. Jangan langsung menjawab/ bertindak, tapi berikan jeda sedikit untuk tarik nafas meskipun hanya beberapa detik. Tujuannya adalah memisahkan masa lalu dari situasi sekarang.
Kemudian kita bisa melakukan reframing dengan menamai emosi yang terjadi dengan lebih objektif. “Oh, saya kecewa karena diberikan saran oleh atasan saya atas pekerjaan yang sudah saya lakukan.” Kemudian lakukan Reality check, tanya ke diri sendiri dengan jujur. “Apakah ini benar-benar ancaman? atau hanya TERASA seperti ancaman?”. Lakukan pengecekan realita dengan lebih pelan dengan memasukkan aspek kognitif yang kita miliki, pisahkan fakta dengan cerita. “Fakta nya, atasan ingin performaku meningkat, namun aku memaknainya dengan aku jelek, aku salah, tidak cukup bagus.”
Setelah mengambil jeda dan memisahkan fakta dan cerita, kita akan lebih mudah untuk memilih respon yang tepat dalam bertindak. Respon yang baru akan lebih tenang, tidak defensif atau malah menarik diri. Pola baru muncul menjadi menerima dan memahami maknanya sebagai pengembangan kualitas diri. Kita perlu melatih kemampuan untuk mengelola trauma agar pola perilaku yang dimiliki lebih matang, tidak reaktif atau didasari oleh mekanisme pertahanan diri yang di luar nalar. Trigger bukan sesuatu yang harus dihindari, tapi sesuatu yang perlu dipahami. Di balik setiap reaksi yang berlebihan, seringkali ada makna lama yang belum sempat kita proses.
Aku sendiri juga sedang berlatih lebih mindful dengan trigger-trigger yang muncul di kehidupan sehari-hari. Aku berlatih membedakan mana objek netral dengan sesuatu yang aku maknai dengan terlalu dalam akibat dari trauma yang mungkin belum sempat aku proses. Dengan memahami cara kerja otak manusia dengan lebih baik, aku harap aku bisa meningkatkan kualitas hidup dan memandang permasalahan dengan lebih ringan.
Photo by Aleksandr Ledogorov on Unsplash
메타데이터
- post_id
- e321fad1ac84
- slug
- bagaimana-trauma-membentuk-cara-kita-bereaksi-e321fad1ac84
- url
- https://medium.com/@chisna27/bagaimana-trauma-membentuk-cara-kita-bereaksi-e321fad1ac84
- canonical_url
- https://medium.com/@chisna27/bagaimana-trauma-membentuk-cara-kita-bereaksi-e321fad1ac84
- author_url
- https://medium.com/@chisna27
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-28 14:26:31