← Back to list

Arlo dan Cakrawala Debu

“Karena kita undur-undur, Arlo! Kita berjalan mundur karena kita menghargai apa yang sudah terjadi!”

mauii · 2026-04-04 08:02 · 0 claps · 4.3 min read
#fiction #creativity #children
Open on Medium ↗
Wiki topics: LIT · Literature & Writing 👨‍👩‍👧 · Family & Parenting ✍️ · Writing & Creative

Arlo dan Cakrawala Debu

“Karena kita undur-undur, Arlo! Kita berjalan mundur karena kita menghargai apa yang sudah terjadi!”

“Karena kita undur-undur, Arlo! Kita berjalan mundur karena kita menghargai apa yang sudah terjadi!”

“Arlo, pantatmu terlalu maju! Mundur tiga senti atau leluhur akan mengutuk butiran debumu!”

Suara serak itu berasal dari kakek Arlo, seekor undur-undur tua dengan antena yang sudah layu dan warna karapas yang memudar seperti koran basah. Arlo hanya menghela napas, membuat butiran debu di sekitar kakinya berterbangan kecil. Ia menggeser tubuhnya ke belakang, menyeret perutnya di atas permukaan dingin kaca jam tangan Seiko 5 yang sudah mati puluhan tahun.

“Kenapa kita tidak bisa sesekali melihat ke depan, Kek? Leherku pegal kalau harus terus menoleh ke belakang hanya untuk tahu arah jalan,” gumam Arlo.

Kakeknya terbatuk, suaranya seperti gesekan amplas kasar. “Melihat ke depan itu sombong, Arlo. Masa depan itu gelap, tidak ada yang tahu apa di sana. Tapi masa lalu? Ah, masa lalu itu terang. Lihat itu!” Kakek menunjuk dengan kakinya yang gemetar ke arah sebuah majalah Vogue tahun 1998 yang terbuka di bawah rak. “Tahun itu, biru adalah segalanya. Keagungan! Kamu harus bersyukur kita tinggal di dekat sejarah yang begitu megah.”

Arlo menatap majalah itu. Baginya, itu bukan sejarah, itu hanya tumpukan kertas yang mulai dimakan rayap.

“Tapi biru yang itu… tidak nyata, Kek. Itu hanya tinta,” sahut Arlo pelan.

“Tinta adalah kenyataan kita!” bentak ayahnya yang baru saja datang membawa sepotong kapur curian. “Sekarang, berhenti berfilosofi dan bantu aku mempertebal Garis Batas Suci. ‘Sang Penghisap’ bisa datang kapan saja. Kamu mau berakhir di dalam perut raksasa plastik yang berisik itu?”

Ayahnya mulai menggoreskan kapur di sekeliling jam tangan, menciptakan lingkaran putih yang kaku. Arlo memandang garis itu dengan perasaan mual. Baginya, lingkaran itu bukan pelindung. Itu adalah pagar besi.

“Ayah, kenapa jam ini berhenti di angka sepuluh lewat sepuluh?” tanya Arlo tiba-tiba.

“Karena itu waktu yang sempurna,” jawab ayahnya tanpa menoleh. “Seimbang. Kiri dan kanan sama tinggi. Di dalam angka-angka ini, kita aman. Waktu tidak bisa mengejar kita kalau kita diam di dalam jam yang berhenti.”

“Tapi dunia di luar sana terus bergerak,” bantah Arlo. Ia menunjuk ke arah lampu neon di langit-langit perpustakaan yang berkedip-kedip. “Lampu itu berubah, orang-orang yang lewat berubah, bahkan debu-debu baru terus berdatangan. Kenapa hanya kita yang terjebak di tahun 1998?”

“Karena kita undur-undur, Arlo! Kita berjalan mundur karena kita menghargai apa yang sudah terjadi!” Ayahnya berdiri tegak, menatap Arlo dengan tajam. “Jangan pernah melintasi garis kapur ini. Di luar sana hanya ada ketidakpastian yang mematikan. Mengerti?”

Arlo terdiam. Ia duduk di atas roda gigi mesin jam yang macet, merasakan dinginnya logam yang tidak lagi berdenyut. Ia merasa seperti bagian dari mesin yang rusak ini.

Sore itu, keajaiban yang tidak masuk dalam kurikulum sejarah koloni terjadi. Seorang mahasiswa meletakkan sebuah akuarium kecil tepat di samping rak mereka.

Pluk.

Cahaya matahari yang masuk dari jendela perpustakaan menabrak air di dalam akuarium, membiaskannya menjadi pola cahaya yang menari-nari. Pola itu meluncur melewati rak, menembus bayangan ensiklopedia, dan — yang paling mengejutkan — melompati garis kapur suci milik ayah Arlo tanpa izin.

Arlo terperangah. Cahaya itu berbentuk riak-riak biru yang bergerak, jauh lebih indah dan “hidup” daripada warna biru di majalah Vogue mana pun.

“Lihat! Cahayanya bergerak maju!” teriak Arlo.

“Jangan disentuh!” teriak para tetua koloni serentak. “Itu sihir jahat! Itu cahaya yang tidak memiliki sejarah!”

Namun Arlo tidak bisa menahan diri. Ia mengambil potongan kecil kapur yang terjatuh di dekat kakinya. Dengan tangan gemetar, ia tidak mempertebal lingkaran pelindung. Sebaliknya, ia mulai menggambar garis-garis lengkung, mengikuti pola riak cahaya yang menari di atas kaca jam tangan.

“Arlo! Apa yang kau lakukan?! Kau merusak kesucian lingkaran kita!” Ayahnya berlari mendekat, wajahnya merah padam.

“Aku tidak merusaknya, Ayah! Aku hanya… menyambungkannya!” seru Arlo. “Lihat, garis ini tidak harus melingkar. Dia bisa mengalir seperti air!”

“Air itu mematikan! Air itu menghapus jejak!” Kakeknya meratap di pojok roda gigi.

Pada saat itulah, sebuah tetesan air kondensasi dari dinding akuarium jatuh.

Tik.

Tetesan itu mendarat tepat di tengah lingkaran kapur, menghapus sebagian garis putih yang selama ini dianggap keramat. Para undur-undur berhamburan panik, berteriak bahwa kiamat telah tiba.

Arlo berdiri di tepi kaca jam tangan yang retak. Ia melihat ke bawah, ke arah majalah National Geographic yang menampilkan foto Samudera Hindia. Biru pekat. Sangat luas.

“Arlo, masuk ke dalam mesin! Sekarang!” perintah ayahnya.

Arlo menoleh ke arah ayahnya, lalu ke arah kakeknya yang masih bersujud menghadap majalah tahun 1998. Ia merasakan dorongan yang sangat kuat di dalam dadanya, sesuatu yang lebih bertenaga daripada roda gigi mana pun.

“Maaf, Ayah. Tapi aku ingin tahu ke mana arah depan,” bisik Arlo.

“Kau tidak bisa! Kakimu tidak diciptakan untuk itu!”

Arlo tidak menjawab. Ia menarik napas panjang, lalu melakukan hal yang paling tabu: ia memutar tubuhnya seratus delapan puluh derajat. Ia menghadap ke depan. Ke arah kegelapan yang selama ini ditakutkan koloninya.

Dengan tungkai yang gemetar hebat, Arlo melangkah. Satu langkah maju. Rasanya aneh, otot-ototnya memprotes, dunianya terasa terbalik. Namun, ia tidak berhenti. Ia melewati sisa garis kapur yang sudah luntur oleh air.

“Dia gila! Dia melompat!” teriak suara-suara di belakangnya.

Arlo melompat. Tubuh kecilnya melayang di udara sesaat sebelum mendarat dengan bunyi puk yang empuk di atas kertas majalah yang lembap. Ia mendarat tepat di atas gambar laut.

Lalu, tetesan air kedua jatuh. Kali ini tepat di atas punggung Arlo.

Dingin. Basah. Nyata.

Arlo tidak mati. Ia tidak hancur. Ia justru merasa seluruh indranya meledak. Ia bisa mencium aroma garam imajiner dari kertas itu. Ia bisa merasakan luasnya samudera melalui ujung kakinya.

Ia mendongak. Dari bawah sini, jam tangan Seiko 5 itu tampak kecil dan menyedihkan. Sebuah monumen kesombongan yang membeku.

“Arlo! Kembali!” suara ayahnya terdengar sayup dari atas sana.

Arlo menoleh sebentar. Ia melihat koloni itu masih sibuk mencoba menggambar ulang garis kapur yang rusak di sekeliling jam mati mereka. Mereka begitu sibuk dengan masa lalu sehingga tidak sadar bahwa akuarium di samping mereka adalah sebuah dunia baru.

Arlo kembali menghadap ke depan. Ia merangkak di atas halaman majalah yang basah, menuju ke arah cahaya yang paling terang di ujung rak.

“Ke mana kamu pergi?” sebuah suara undur-undur muda lain terdengar. Itu adalah teman Arlo, yang mengintip dari balik tepi jam tangan dengan ragu.

Arlo berhenti sejenak, ia tersenyum, meski temannya mungkin tidak bisa melihatnya.

“Aku tidak tahu,” jawab Arlo lantang. “Tapi aku tidak sedang berjalan mundur. Jadi, aku pasti akan sampai ke suatu tempat yang baru.”

Arlo terus melangkah maju. Ia meninggalkan jam tangan yang beku, meninggalkan tahun 1998 yang usang, dan meninggalkan rasa takut yang digambar dengan kapur. Di depannya, perpustakaan itu bukan lagi sebuah penjara debu, melainkan sebuah samudera petualangan yang tak berujung.


메타데이터
post_id
032ccb7cfe38
slug
arlo-dan-cakrawala-debu-032ccb7cfe38
url
https://medium.com/@mlaiueo/arlo-dan-cakrawala-debu-032ccb7cfe38
canonical_url
https://medium.com/@mlaiueo/arlo-dan-cakrawala-debu-032ccb7cfe38
author_url
https://medium.com/@mlaiueo
status
ok
fetched_at
2026-06-15 20:49:13