Berhenti Merokok
Berhenti merokok karena mengikuti maraton
Berhenti Merokok
Photo by Mikael Seegen on Unsplash
Saya tidak tahu persis kapan mulai berhenti merokok. Tapi saya ingat betul bahwa ini bukan proses yang langsung saja terjadi dalam 1 hari. Saya mulai mengurangi konsumsi rokok secara perlahan dengan alasan yang tidak pernah saya perkirakan sebelumnya: karena mengikuti maraton Berlin.
Dulu saya bisa mengonsumi 1 bungkus rokok yang berisi 12 batang setiap harinya. Saya bisa bilang itu tidak banyak, karena beberapa teman dan orang yang saya kenal mengonsumsi lebih banyak dari itu. Tapi juga tidak bisa dibilang sedikit. Konsumsinya sedikit berkurang menjadi kurang lebih setengah bungkus (sekitar 6–8 batang) per hari ketika kami pindah ke Berlin di awal tahun 2016. Alasan kenapa saya bisa menguranginya antara lain karena kehilangan teman-teman yang sama-sama merokok dan mahalnya harga rokok di Jerman.
Ketika datang kabar bahwa saya mendapatkan tiket maraton di penghujung tahun 2017, salah satu hal yang terpikirkan adalah berhenti merokok. Saya merasa bahwa berhenti merokok adalah syarat minimal agar saya bisa menyelesaikan lari sejauh 42,195 kilometer ini. Berhenti merokok seperti semacam kehendak yang muncul dari alam bawah sadar sebagai konsekuensi dari keikutsertaan saya di maraton. Seperti harus saja. Wajib hukumnya. Padahal belum tentu dengan berhenti merokok, ada jaminan bisa menyelesaikan maraton. Hanya sepertinya ada hal yang gak nyambung antara merokok dan berlari.
Tapi bukan hal yang mudah untuk berhenti merokok. Saya tidak merencanakan langkah-langkah apa saja yang harus saya lakukan agar bisa menghentikan kebiasaan merokok. Saya tidak melakukan riset bagaimana orang-orang bisa berhenti melakukannya. Semua berjalan alamiah saja tanpa rencana yang rigid. Awalnya saya mengurangi konsumsi rokok menjadi 2 bungkus setiap minggu. Kemudian mulai mengurangi jumlah hari dimana saya boleh merokok. Sampai kemudian saya berusaha untuk tidak merokok lebih dari 1 batang di hari dimana saya boleh merokok. Kecuali ketika saya sedang berkumpul bertemu teman dan mengobrol. Saya memberikan toleransi untuk bisa merokok sampai 2 batang, semacam social smoker.
Di waktu yang hampir bersamaan dengan keinginan berhenti merokok, sebenarnya saya pun memiliki hasrat untuk mulai rutin berlatih lari untuk maraton. Akan tetapi sampai 2 bulan menjelang lomba maraton di bulan September 2018, saya tidak pernah berlatih sama sekali. Hal buruk ini ternyata membawa berkat tersendiri. Semacam blessing in disguise. Karena saya tidak berlatih lari, saya berpikir mungkin dengan berhenti merokok akan membuat peluang saya untuk menyelesaikan lomba menjadi semakin besar. Logika saya di saat itu adalah dengan berhenti merokok maka paru-paru saya akan membaik dan asupan oksigen yang masuk ke paru-paru bertambah. Dengan asupan oksigen yang semakin banyak, maka saya akan bernapas dengan baik, sehingga akan kuat untuk menyelesaikan maraton. Logika yang tidak sepenuhnya salah menurut saya. Tetapi untuk menyelesaikan maraton dengan baik, ternyata tidak cukup dengan napas yang baik saja. Ada proses latihan yang harus ditempuh, ada kaki yang harus ditempa, ada bagian tubuh lain yang harus diperhatikan dan juga ada mental dan pikiran yang perlu diajarkan untuk fokus.
Lari maraton Berlin di tahun 2018 itu bisa saya selesaikan. Hasilnya tidak bisa saya bilang baik, tetapi paling tidak sejak itu saya berhenti merokok hingga saat ini. Saya menganggap itu hal terbaik yang saya dapatkan.
메타데이터
- post_id
- 67be46c0a7b2
- slug
- berhenti-merokok-67be46c0a7b2
- url
- https://medium.com/@ystnst/berhenti-merokok-67be46c0a7b2
- canonical_url
- https://medium.com/@ystnst/berhenti-merokok-67be46c0a7b2
- author_url
- https://medium.com/@ystnst
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-18 00:10:23