Monolog : Tameng
Dulu kamu takut untuk berdiri. Kamu selalu menunduk di belakangku, takut pada serangan yang akan datang, takut pada kejadian yang…
Monolog : Tameng
Dulu kamu takut untuk berdiri. Kamu selalu menunduk di belakangku, takut pada serangan yang akan datang, takut pada kejadian yang mungkin saja melukaimu.
Banyak orang merendahkanmu, karena kamu sendiri takut mengangkatku. Kamu ragu menghadapi apa yang ada di depan, namun aku tetap sabar menemanimu.
Perlahan, kamu mulai berani mengangkatku. Bukan karena dunia menjadi lebih ramah, tetapi karena kamu mulai percaya pada dirimu sendiri. Kamu menganggapku bagian dari hidupmu, dan mulai berani mencari tantangan.
Namun saat itu, aku belum sekuat sekarang. Bahanku masih murahan. Aku mudah retak, mudah hancur, hanya mampu menahan serangan kecil.
Tapi dengan kegigihan dan pendirian, kamu memperbaiki aku. Kamu meningkatkan kemampuanku, menambal bagian yang rusak, dan membersihkan debu yang lama menempel.
Kini, aku menjadi salah satu tameng terbaikmu. Masih setia kamu bawa ke mana pun melangkah. Aku melindungimu dari bahaya yang datang, sejauh yang aku mampu.
Aku tahu, suatu hari kamu atau aku akan menghilang. Entah karena usia, atau karena serangan yang tak lagi bisa kutahan.
Namun terima kasih, karena telah menjadikanku bagian dari hidupmu. Alasan untuk tetap berdiri, saat kamu dulu memilih untuk bersembunyi.
Penulis -S
메타데이터
- post_id
- 7f1293f3dbb8
- slug
- monolog-tameng-7f1293f3dbb8
- url
- https://medium.com/@s.Null/monolog-tameng-7f1293f3dbb8
- canonical_url
- https://medium.com/@s.Null/monolog-tameng-7f1293f3dbb8
- author_url
- https://medium.com/@s.Null
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-11 21:11:36