← Back to list

Autis dan Kecemasan

Orang dengan karakteristik autis lebih cenderung memiliki kecemasan yang tinggi dibandingkan dengan karakteristik lainnya. Kecemasan…

Asti Febri · 2024-11-01 07:40 · 5 claps · 4.5 min read
#autism #autism-spectrum-disorder #auti #anxiety #kecemasan
Open on Medium ↗
Wiki topics: 🧠 · Mental Wellness

Autis dan Kecemasan

Orang dengan karakteristik autis lebih cenderung memiliki kecemasan yang tinggi dibandingkan dengan karakteristik lainnya. Kecemasan sebenarnya adalah hal yang wajar, bahkan kita perlu mempunyai rasa cemas salah satu fungsinya yaitu agar kita lebih berhati-hati dan bersiap untuk segala kemungkinan. Namun, seperti hukum alam yang berlaku bahwa apapun yang berlebihan memang sifatnya tidak baik. Rasa cemas yang berlebihan bahkan dapat menganggu kehidupan seseorang dalam melakukan kegiatan sehari-hari.

Kecemasan memang bukan bagian dari karakteristrik autis, namun dalam jurnal literature review “Anxiety in children and adolescents with autism spectrum disorder” Oleh White (2009) yang mereview 40 jurnal terkait hubungan antara kecemasan dan autis menunjukkan antara 11% hingga 84% anak autis mengalami beberapa tingkat kecemasan yang menganggu. Kecemasan bisa dibilang menjadi komorbid langganan untuk autis. Pengalaman saya selama 5 tahun mengajar peserta didik berkebutuhan khusus juga memperkuat hasil penelitian tersebut, peserta didik autis memang lebih sering mengalami kecemasan dibandingkan dengan karakteristik lainnya. Anak autis dengan kemampuan komunikasi yang kurang baik mungkin akan lebih sulit mengungkapkan rasa cemasnya, namun masih bisa kita lihat dari perilakunya. Bahkan, ada beberapa kecemasan yang kemudian secara spesifik menjelma sebagai fobia.

Seperti yang disebutkan di awal, rasa cemas yang berlebihan pada anak autis bisa menganggu. Seperti kasus anak murid saya yang sulit mengikuti kegiatan di luar ruangan jika langit sedang mendung, ini disebabkan karena kecemasan dia yang berlebihan terhadap hujan dan petir. Ketika melihat langit sudah mendung, dia bahkan tidak akan kondusif lagi untuk belajar dan akan memantau keluar jendela terus-menerus untuk memastikan apakah ada hujan dan petir. Di saat langit sudah sangat gelap dia akan segera menutup semua jendela dan mengambil sajadah untuk diletakkan di atas kepala dia dan berkata “nah” sambil menggerakkan buku atau tangan dia ke depan matanya. Kegiatan menutup kepala dan menggerakkan tangan ke depan matanya sebenarnya adalah bentuk coping dia terhadap stress yang sedang dia hadapi.

Di lain kasus, anak didik saya mempunyai kecemasan yang berlebih terhadap barang-barang kepemilikan. Setiap akan memulai pembelajaran atau akan pulang dia mulai mengecek semua barang-barang yang dia punyai dan memastikan semuanya ada. Pernah suatu ketika, dia menaruh botolnya di atas meja guru kemudian dipindahkan di bawah kolong meja. Dia kemudian datang ke saya dengan panik dan rasa cemas (ini terlihat dari cara dia berbicara yang sangat cepat, kegiatan meremas dan menjulurkan tangannya agar dipegang karena mamanya sering memegang tangannnya saat dia panik, dan napas yang pendek serta cepat). Kemudian, saya bertanya apakah dia ingat dimana dia meletakkan botolnya, namun karena dia panik dia tidak bisa mengingat dan hanya mengulang kata-kata yang sama “bu asti botol aku gak ada, botol aku hilang”. Setelah itu, saya memberitahukan ke dia untuk coba mengecek kolong meja di depannya. Botol itu bisa terlihat dengan jelas saat dia menundukkan kepalanya namun karena dia terlalu panik dia tetap tidak melihat botol itu dan masih mengulang kata yang sama “botol aku hilang” dan akhirnya tantrum dengan memukul semua orang di sekitar dia bahkan dirinya sendiri.

Mungkin, bagi sebagian orang dia terlihat sangat mengesalkan dan egois. Namun, yang terjadi sebenarnya adalah anak murid saya ini ternyata memiliki kecemasan yang sangat tinggi dan perlu kita pahami bahwa kemampuan mental setiap orang tidak sama dalam menghadapi permasalahan. Jadi, permasalahan botol hilang ini bagi kita mungkin adalah permasalahan sepele namun karena dia autis dengan karakteristik rigid dan kaku sehingga perubahan dalam hidupnya sekecil apapun akan sangat berefek.

Kecemasan pada anak autis sebenarnya juga mempunyai korelasi terhadap karakteristiknya. Anak autis memiliki karakteristik rigid, kesulitan sosial, dan kesulitan berkomunikasi. Karakteristik rigid yang dia miliki membuat kemampuan adaptasi dia kurang fleksibel sehingga perubahan lingkungan kecil pun bisa berefek sangat besar seperti kasus anak murid saya yang sudah saya ceritakan di atas. Kesulitan dia dalam bersosialisasi dan berkomunikasi tentunya juga memberi dia kecemasan tersendiri saat berada di lingkungan sosial, bahkan pada hasil penelitian Boon Ye Lau (2019) kecemasan yang paling sering dialami oleh anak autis (usia 6–18 tahun) adalah kecemasan terhadap lingkungan sosial sebesar 31.8% yaitu kecemasan terhadap performanya di lingkungan sosial dan relasinya terhadap orang lain. Menurut Mayes (2011) kecemasan pada autis juga berkorelasi dengan usia dan IQ yang dia punya. Semakin tinggi usia dan IQnya maka semakin tinggi pula tingkat kecemasan dan depresinya. Ada beberapa hipotesis sebenarnya yang bisa menjelaskan kenapa usia dan IQ orang dengan karakteristik autis bisa mempengaruhi tingkat kecemasannya. Kecemasan dan depresi sebenarnya membutuhkan beberapa kemampuan kognisi, kesadaran sosial, dan persepsi pada diri sendiri yang mungkin dimana untuk LFA (low function autism) dan autis dengan usia yang masih muda belum memiliki kemampuan tersebut sehingga kemungkinan untuk mengalami kecemasan cukup rendah. Sedangkan, untuk HFA (high function autism) atau autis yang sudah beranjak dewasa lebih banyak terpapar kondisi sosial yang kompleks dan punya kesadaran sosial yang cukup sehingga mereka lebih berpotensi memiliki kecemasan yang lebih tinggi.

Beberapa autis juga mempunyai kepekaan sensori yang cukup tajam, baik itu kepekaan terhadap rasa, suara, atau sentuhan. Ada salah satu peserta didik yang kecemasannya akan membludak ketika mendengar suara ribut seperti teriakan dan dia suka menjadikan musik-musik lofi sebagai copingnya, ada juga beberapa anak autis sulit untuk menerima makanan baru sehingga membutuhkan treatment khusus untuk bisa memperlebar variasi makanan yang dia punya. Kepekaan sensori yang berlebihan ini juga sering kali menjadi salah satu hal yang bisa meningkatkan kecemasannya.

Ada banyak cara untuk meredakan atau bahkan meregulasi kecemasan pada anak autis. Terkadang mereka juga menemukan coping tersendiri dari kecemasan yang mereka alami seperti di beberapa kasus yang saya ceritakan di atas, atau bisa juga kita yang mengajarkan mereka untuk bisa memanajemen kecemasan yang mereka alami. Salah satunya dengan latihan untuk memecahkan permasalahan yang dengan itu diharapkan ke depannya mereka bisa lebih siap. Seperti contoh kasus murid saya yang tantrum karena botol tadi, akhirnya setelah itu kita membuat latihan khusus dimana dia harus mencari barang-barang yang sengaja saya sembunyikan di suatu tempat dan kemudian dia diajarkan untuk bisa mencari dengan tenang berdasarkan instruksi yang diberikan. Selain itu, bisa juga dengan mengajarkan relaksasi kepada mereka agar bisa lebih tenang dalam menghadapi permasalahan yang dihadapi. Terkadang, kecemasan ini memang cukup mengganggu mereka dalam berkehidupan sehari-hari maka perlu diajarkan cara kepada mereka bagaimana menghadapinya. Sebenarnya ini sama saja seperti memberikan treatment kepada orang yang mempunyai anxiety disorder namun karena dia memiliki karakteristik autis maka perlu penyesuaian saja.

Tulisan ini saya buat agar kita bisa lebih memahami salah satu komorbid yang sering didapati pada autis, yaitu kecemasan. Diharapkan kita bisa lebih memahami apa sebenarnya yang mereka alami dan tidak menjudge dengan prasangka yang tidak benar dan bersifat emosional. Pada dasarnya, setiap orang di dunia ini pasti berbeda. Jika kita mampu menerima perbedaan yang ada dan mencoba untuk memahaminya itu akan lebih baik daripada memaksakan semua orang harus sama. Perbedaan itu ada agar kita bisa saling belajar dan memahami. Semoga tulisan ini bisa memberikan perspektif yang baru sehingga terbuka pemahaman kita terhadap orang dengan karakteristik autis.

Reference :

  1. White,Susan.W., Donald,Oswald., Ollendick,Thomas., Scahill,Lawrence. (2009). Anxiety in children and adolescents with autism spectrum disorders. Clinical Pshycology Review, 29, 216–229.
  2. Lau,Boon Ye., Leong,Ruth., Uljarevic,Mirko., Lerh,Jian Wei., et al. (2019). Anxiety in young people with autism spectrum disorder: Common and autism-related anxiety experiences and their associations with individual characteristics. Autism. 24. 1111–1126.
  3. Mayes, S.D., Calhoun, S.L., Murray, M.L., Zahid, J. (2011). Variables Associated with Anxiety and Depression in Children with Autism. J Dev Phys Disabil, 23, 325–337.

메타데이터
post_id
cf41750cd06e
slug
autis-dan-kecemasan-cf41750cd06e
url
https://medium.com/@astifebrianty-313/autis-dan-kecemasan-cf41750cd06e
canonical_url
https://medium.com/@astifebrianty-313/autis-dan-kecemasan-cf41750cd06e
author_url
https://medium.com/@astifebrianty-313
status
ok
fetched_at
2026-07-22 08:27:40