Tentang sejarah peranakan yang terlupakan
Beberapa waktu yang lalu, saya dan kolega sempat berkunjung ke sebuah pameran yang bertajuk “Kongsi: Akulturasi Tiongkok di Indonesia”…
Tentang sejarah peranakan yang terlupakan
Beberapa waktu yang lalu, saya dan kolega sempat berkunjung ke sebuah pameran yang bertajuk “Kongsi: Akulturasi Tiongkok di Indonesia”. Pameran ini menjadi sangat menarik bagi saya dan kolega berhubung terdapat beberapa aspek yang memang berkaitan dengan kegiatan profesional yang kami kerjakan.

Sejauh yang saya tahu dan nikmati, budaya peranakan di Indonesia merupakan budaya yang memiliki identitas yang cukup mudah diidentifikasi. Bagaimana tidak? Pecinan, imlek, shio, fengshui, barongsai dan masih banyak lagi bagian dari kebudayaan peranakan yang telah menjadi bagian dari kehidupan sosial kita.
Saya juga merasa cukup familiar dengan budaya peranakan karena saya pernah bersekolah di sekolah swasta katolik di Jogja yang muridnya kala itu juga cukup didominasi oleh keturunan tionghoa. Terlebih, sekolah saya terletak cukup dengan dengan kawasan Ketandan yang adalah permukiman pecinan di kota Jogja.
Setelah mengunjungi pameran ini, pemahaman saya menjadi semakin terbuka mengenai sejarah bagaimana keturunan peranakan ini kemudian menjadi suatu koloni yang punya budaya yang mengakar kuat. Sembari menulis ini saya juga menjadi bertanya-tanya mengapa disebut sebagai “peranakan”.
Sebagaimana disebut “peranakan”, keturunan tionghoa merupakan ‘anak’ yang berasal dari perkawinan campur antara orang Tionghoa dan masyarakat lokal. Tionghoa sendiri serta penggunaannya memiliki sejarah yang panjang dan pelik yang dapat menjadi sebuah tulisan panjang lainnya. Namun, melalui peradaban Tiongkok yang sangat maju terutama dalam perdagangan dan pelayarannya, orang Tionghoa menjadi banyak menjelajahi daerah-daerah di Indonesia, kemudian menetap dan membangun koloni sehingga panjang cerita kemudian muncul-lah peranakan ini.
Pameran KONGSI: Akulturasi Tiongkok di Indonesia ini menyajikan sejarah tentang budaya peranakan dari berbagai macam aspek: sosial, ekonomi, politik, seni musik, seni tari, seni rupa, arsitektur, hingga perfilman yang dikemas dan dikurasi secara apik dan terstruktur. Alur pamerannya pun sangat mudah diikuti dan tidak membingungkan pengunjung. Secara keseluruhan, pameran ini bisa dibilang merupakan pameran yang digarap secara serius dengan riset dan konsep yang matang. Begitupun koleksi yang ditampilkan juga sangat menarik dan lengkap.
Yang membuat pameran ini menjadi lebih menarik lagi adalah bagaimana begitu banyaknya nilai-nilai akulturasi budaya peranakan yang sudah menyatu dengan kehidupan kita namun jarang kita sadari. Misalnya olahan kedelai: tahu dan tempe yang juga berakar dari kebudayan Tionghoa yang kerap mengolah kedelai menjadi produk olahan yang kemudian dimasak dengan cita rasa lokal sehingga kemudian menjadi tidak lagi terafiliasi dengan kebudayaan Tionghoa.
Selain koleksi yang bersifat domestik, koleksi yang cukup membuat saya terkesima adalah cerita mengenai sejarah yang mungkin tidak disampaikan dalam buku-buku sejarah yang ada di bangku sekolah mana pun (karena saya tidak merasa tahu). Pameran ini menampilkan kisah tokoh-tokoh peranakan yang terlibat dan memiliki peran besar dalam masa-masa pra hingga pasca kemerdekaan Indonesia. Kisah nasionalis para tokoh peranakan yang mungkin kita sama-sama tahu alasannya mengapa saat ini kita tidak pernah mendengarnya lagi.
Kita semua tahu bahwa terdapat masa kelam bagi keturunan Tionghoa di Indonesia yang menjadi trauma mendalam bagi sejarah Indonesia. Namun, tidak disangka bahwa dampaknya masih terasa dan berlanjut hingga sekarang. Setelah mendatangi pameran ini, saya pun juga jadi bertanya-tanya apakah hal yang sama pula yang kemudian menyebabkan begitu besarnya presentase gated community di kawasan rumah sewa saya di pesisir Jakarta.

Pagar tinggi dengan pengamanan yang ketat
Kawasan rumah sewa saya merupakan kawasan perumahan dengan pagar yang begitu rapat dan tinggi, dengan akses terbatas, dan keamanan yang tinggi. Pengamatan ini semakin menguatkan pertanyaan saya — apakah ini semua berakar dari ketegangan sosial yang panjang antara kelompok mayoritas dan keturunan Tionghoa seperti yang kita ketahui bersama? Dalam konteks ini, bisa jadi “sebatas pagar” saja merupakan refleksi dari dampak sejarah tersebut.
Pagar-pagar tinggi yang membatasi akses antar warga bukan hanya simbol dari kebutuhan akan keamanan, tetapi bisa juga merupakan bentuk ketakutan yang mendalam, ketidakpercayaan terhadap pihak luar, atau bahkan ketidaksadaran akan pentingnya mengintegrasikan diri dalam masyarakat yang lebih luas. Menciptakan segregasi sosial yang ternyata hingga saat ini masih belum selesai. Trauma yang mendalam ini yang kemudian mungkin secara tidak langsung membatasi hal-hal semestinya mungkin tidak perlu dibatasi.

Setelah mengunjungi pameran ini, saya merasa pemahaman saya semakin terbuka terhadap sejarah dan perjalanan akulturasi budaya peranakan di Indonesia. Bagaimana kisah panjang ini menjadi bagian dari sejarah dan budaya Indonesia yang sama bernilainya dengan yang lain. Pameran ini sungguh bukan hanya menyajikan koleksi yang antik melainkan sebuah propaganda bagi kita semua. Menjadi sebuah dialog tanpa kata yang berupaya untuk menjembatani jurang segregasi sosial yang masih bersisa hingga saat ini. Setidaknya, melalui pameran ini kita semua seharusnya menjadi lebih menghargai dan mengakui cerita serta peran dari peranakan sebagai bagian dari sejarah kehidupan kita di Indonesia.
Pada akhirnya, pameran ini mengajarkan kita lebih dari sekadar tentang sejarah budaya peranakan. Ini adalah ajakan untuk melihat lebih jauh, melewati batas-batas yang sering kali kita buat sendiri. Dialog antar budaya dan penghargaan terhadap peran setiap kelompok dalam sejarah bangsa kita bukan hanya penting, tetapi juga esensial untuk membangun masyarakat yang lebih inklusif dan harmonis.
Read this to know more about:
Kenapa disebut Tionghoa: Apa Bedanya Istilah Cina, China, Tionghoa, dan Tiongkok? — TIONGHOA.INFO
Pameran KONGSI: Akulturasi Budaya Peranakan di Indonesia: Makna Pameran Kongsi di Museum Nasional Indonesia, Hadirkan Bakmi sampai Kebaya Encim — Lifestyle Liputan6.com — KONGSI: Akulturasi Tionghoa di Indonesia — Museum Nasional Indonesia — Pameran ‘KONGSI’, Akulturasi Tionghoa di Nusantara [Metro Siang]
메타데이터
- post_id
- d7a056c4c5aa
- slug
- tentang-sejarah-peranakan-yang-terlupakan-d7a056c4c5aa
- url
- https://medium.com/@lintangaysh/tentang-sejarah-peranakan-yang-terlupakan-d7a056c4c5aa
- canonical_url
- https://medium.com/@lintangaysh/tentang-sejarah-peranakan-yang-terlupakan-d7a056c4c5aa
- author_url
- https://medium.com/@lintangaysh
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-06 19:50:18